Wednesday, August 19, 2015

Menjadi Pengikut

Hidup selalu berada dalam keseimbangan, ada yang gagal, ada yang suskes. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Apa pun dan di mana pun peran tersebut, kita bisa menjadi meraih sukses sejati jika saling bersinergi. 

Dalam berbagai kisah dan pengertian yang sering kita dengar di masyarakat, ada banyak orang yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Ada yang mendambakan menjadi kaya dan selalu ingin jadi nomor satu. Tentu, itu merupakan sebuah hal dan tujuan besar yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Dan, jika ditanya, hampir semua orang pasti menginginkannya.

Tapi, apakah semua orang mendapatkannya? Ini yang perlu kita kaji dan mengerti lebih mendalam. Sebab, tak selamanya kita akan duduk di puncak. Dan sebagaimana nomor, angka satu ya hanya satu saja, tak pernah dua atau tiga. Artinya, selalu akan lebih banyak orang berada di tataran "pengikut".

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menjadi pengikut, seseorang menjadi kalah, berada di bawah, dan selalu dalam posisi mengalah? Dalam sudut pandang harfiah bisa jadi yang di bawah memang selalu akan berada dalam posisi yang berat. Sebab, ia sedang menjadi bagian yang menopang yang di atas. Tapi, kalau dipikirkan lebih mendalam, bukankah tiang yang kokoh dari bangunan menjulang tinggi angkasa harus ditopang oleh fondasi yang kuat? Dan, bukankah sebuah perusahaan akan jadi hebat kalau pemimpinnya didukung oleh semua komponen—pengikut—yang mendukungnya?

Dalam pengertian ini, saya ingin menekankan bahwa sebenarnya, dalam posisi sebagai pengikut pun, kita seharusnya selalu memiliki jiwa seorang pemenang. Dalam kondisi berada di bawah, orang pun sebenarnya bisa memiliki nilai kesuksesannya sendiri. Lebih jauh lagi, untuk sukses, tak semata dilihat dari ukuran kasat mata berupa materi. Namun, kesuksesan akan “bicara” lebih banyak saat kita bisa menjadi manusia seutuhnya, saling menghargai, menjunjung toleransi, hingga saling membahagiakan.

Ada sebuah anekdot yang dulu pernah saya baca. Kalau negara Amerika Serikat menemukan sesuatu, mereka akan segera mengumumkannya. Sementara, kalau Rusia (dulu Uni Soviet), kalau menemukan sesuatu, akan diam-diam, hingga kemudian mengejutkan dunia. Penemuan-penemuan itu, oleh Jepang akan diperhatikan secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan caranya sendiri untuk jadi barang hebat lainnya. Sementara oleh Tiongkok, penemuan itu akan dicontoh, ditiru, kemudian akan dibuat dalam bentuk massal untuk kemudian memetik keuntungan.

Meski sekadar anekdot yang mengundang senyuman, tapi kisah tersebut bagi saya adalah bagian dari pembelajaran. Pertama, memang ada yang “tercipta” sebagai yang pertama. Semua ada porsinya. Kedua, mereka yang kreatif, meski menjadi “pengikut”,  bisa jadi malah memetik keuntungan yang paling nyata. Ketiga, dengan cara masing-masing, kita sebenarnya punya potensi di area tersendiri di mana kita memang hebat di dalamnya.

Dengan pengertian tersebut, kita dapat memetik hikmah, bahwa tak salah untuk—“hanya”—menjadi seorang pengikut. Malah, di beberapa kondisi, kita bisa meraih sukses dengan cara kita masing-masing.

Tentu, jangan pula menjadi asal seorang pengikut. Jangan pula sekadar meniru mentah-mentah. Tapi, kita tetap harus menjadi “pengikut” yang punya karakter, kaya mental, hingga punya ciri tersendiri. Artinya, untuk meraih sukses sejati, seorang yang dalam posisi sedang “berperan” sebagai pengikut, tetap harus mampu menunjukkan jati dirinya. Ibarat dalam kejuaraan olahraga balap, meski sedang berada di belakang, kita tetap punya target juara. Maka, ketika akhirnya belum jadi juara pun, kita tetap punya sikap dan mental juara yang akan menjadikan kita meraih sukses sejati. Sehingga, saat berada di bawah, saat belum mencapai impian, saat sedang berjuang merangkak, kita tak pernah putus harapan. Masalah hasil hanyalah “bonus”. Justru, saat berproses itulah, kita sedang disiapkan menjadi insan-insan luar biasa.

Begitu pula ketika sedang berada di atas. Bukan berarti kalau sudah di puncak, tak lantas kita selalu jadi pemimpin. Bahkan sejatinya, pemimpin pun adalah seorang “pengikut”. Presiden misalnya, harus pula memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, orang super miliarder sekelas Bill Gates yang sukses dengan Microsoft-nya pun, kalau tak memikirkan “pengikut”-nya, bisa jadi produknya akan ditinggalkan pengguna.

Di sinilah keseimbangan kehidupan terjadi. Tak ada pemimpin yang abadi, tak ada pula pengikut sejati. Semua saling melengkapi, semua saling bersinergi. Seperti ungkapan yang saya kutip dari Edith Wharton—seorang penulis pemenang penghargaan Pulitzer—di atas. Yakni, untuk menjadi cahaya, kita bisa menjadi dua hal. Lilin yang menyala atau cermin yang memantulkan sinarnya ke mana-mana. Artinya, hendak jadi apa pun, dengan peran apa pun, seharusnya kita sadar dan mengerti, bahwa kita hidup tak sendiri. Kita bisa menjadi “sang sumber” utama kesuksesan, atau menjadi “cermin pemantul” yang akan melipatgandakan sukses itu ke mana-mana. Di mana pun dan apa pun peran tersebut, jika kita jalani dengan ketulusan dan keikhlasan, maka sukses dan bahagia sejati, akan jadi milik kita.

Menapaki Sukses dengan Membuat Perubahan

Kondisi kita saat ini tak bisa diubah tanpa kita sendiri yang mengubahnya. Sadari kekurangan, perbaiki diri, dan maksimalkan potensi! Saat kesempatan datang, manfaatkan, maka semua impian bisa menjadi kenyataan.

Kita tak pernah bisa memilih, bagaimana, di mana, kapan, serta latar belakang seperti apa kita dilahirkan. Ada yang terlahir kaya, miskin, dengan beragam suku bangsa serta agama. Semua itu hanya bisa dan akan berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh lingkungan sekitar di mana kita lahir dan tumbuh. Karena itu, apa pun latar belakang dan kondisi di mana kita dilahirkan, sudah selayaknya kita harus tetap bersyukur. Sebab, tak ada makhluk yang dicipta tanpa tujuan dan makna dalam hidupnya. Dan, dengan kesadaran yang penuh tentang pengertian bahwa kita pasti tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita seharusnya bisa memaksimalkan daya dan upaya untuk mencapai sukses yang kita damba.

Untuk itu, satu hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah melihat ke dalam diri, apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Apa saja hal yang harus diperbaiki, dikoreksi, dan bisa dimaksimalkan. Ketahui juga, potensi apa saja yang masih bisa kita tingkatkan. Dengan cara ini, kita akan menemukan fondasi yang kokoh untuk mencari jalan menuju kesuksesan.

Cerita pendek berikut bisa menjadi penggambaran perbedaan orang yang menyadari kekurangan dan mau berubah, dan orang yang memilih untuk berdiam diri saja, menunggu peruntungannya.

Alkisah, ada dua orang pemuda miskin yang bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan yang miskin itulah, mereka sering kali berkhayal, bagaimana rasanya menjadi orang yang kaya dan serba berkecukupan. Saat mereka beranjak dewasa, mereka berkesempatan untuk bekerja pada seorang pedagang besar yang cukup terpandang. Kala itu, mereka menjadi buruh angkut barang di pelabuhan. Mereka pun kembali berkhayal, bagaimana agar bisa memperbaiki nasib, bahkan kalau bisa menjadi seperti sang pedagang besar.

Pemuda pertama memilih untuk melakukan sesuatu. Ia bekerja lebih keras dan lebih cepat. Ia mengatakan pada kawannya, bahwa dengan bekerja keras, kemungkinan besar ia akan mendapatkan upah lebih besar dan kepercayaan dari sang pedagang, sehingga bisa segera naik kelas, paling tidak agar tak lagi menjadi buruh angkut saja. Sedangkan pemuda kedua, merasa ia tak punya modal selain tenaga, memilih untuk melakukan apa adanya, sesuai dengan upah yang dibayarkan saat itu. Meski mereka berdua berkhayal dengan impian yang sama, pemuda pertama bekerja lebih giat dan tekun untuk mewujudkan impian itu. Sementara pemuda kedua hanya menjadikan impian itu sebagai lamunan belaka.

Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari, sang pedagang sering mengawasi pekerjanya. Dan, dia terkesan dengan pekerjaan si pemuda pertama yang terlihat sangat cekatan, melebihi buruh yang lain. Maka, dipanggilnyalah si pemuda pertama. Dan, saat ditanya, mengapa ia bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekannya, ia menjawab, dirinya punya impian untuk mengubah nasib.

Singkat cerita, sang pedagang melihat kesungguhan si pemuda pertama. Maka, ia pun dipercaya menjadi kurir untuk mengantar pesan sang pedagang pada relasi-relasinya. Pekerjaan itu pun dilakukan dengan sangat cekatan dan penuh tanggung jawab. Ia pun selalu bersikap baik dengan semua relasi sang pedagang, sehingga banyak relasi pedagang yang bersimpati padanya. Maka, tak heran jika si pedagang pun mau memberikan kepercayaan lebih besar pada pemuda pertama.

Tahun demi tahun. Si pemuda akhirnya sukses menjadi wakil sang pedagang. Dari sana, kehidupannya pun berubah seperti yang diimpikannya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, si pemuda pertama mampu mewujudkan khayalannya menjadi nyata.

Begitulah, ada banyak orang sukses, yang menapaki jejak kesuksesannya dengan mau berubah. Mereka tak peduli komentar orang lain. Justru, dengan kritikan dan bahkan cemoohan, mereka terpacu untuk membuktikan bahwa impiannya bukan sekadar bualan. Mereka inilah sang pemenang sejati kehidupan.

Berkaca dari kisah tersebut, mari kita sadari posisi kita saat ini. Dan, mulai berubah dengan mengerahkan kekuatan yang kita miliki untuk memperbaiki diri. Landasi semua impian dengan tindakan nyata, niscaya pintu kesuksesan akan selalu terbuka

Tuesday, August 18, 2015

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Mengalah tak berarti kalah. Mundur bukan berarti tak berani bertempur. Ungkapan tersebut barangkali sering membuat kita bimbang. Sebab, kadang ungkapan “pengecut” segera muncul akibat kita memutuskan mundur sejenak. Padahal, ada kalanya, mundur sebenarnya sedang mempersiapkan langkah terbaik untuk maju ke depan. Layaknya anak panah yang ditarik ke belakang, justru siap meluncur dengan cepat menuju sasaran.

Untuk itu, jika menghadapi kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan—apakah akan mundur atau mengalah—mungkin tulisan serta cerita berikut bisa kita jadikan pembelajaran bersama.

Dikisahkan, ada seorang bernama Zhang yang mempunyai dua orang putra yang punya watak berlawanan. Yang pertama adalah Zhang Da yang cenderung tamak, dan Zhang Er yang punya sikap suka mengalah. Zhang Er punya prinsip, yang penting bahagia dan hidup harus mengutamakan perdamaian. Karena itu, ketika orangtuanya Zhang meninggal dunia dan harta warisan sang ayah lebih banyak didominasi oleh kakaknya, Zhang Da, ia mengalah. Ia hanya berkata, “Jangan sampai karena masalah harta warisan yang sepele, merusak hubungan persaudaraan.”

Dengan kondisi tersebut, Zhang Da berkembang jadi saudagar kaya. Banyak penduduk desa yang bekerja padanya, meski sebenarnya kurang suka dengan sikapnya. Sedangkan adiknya hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Namun, karena perangainya yang baik, sang adik disukai oleh banyak orang.

Suatu kali, penduduk desa ingin membangun jalan raya yang menghubungkan desa mereka dengan kota untuk mempermudah penjualan barang-barang hasil desa. Namun, agar jalannya tak berkelok, jalan tersebut harus melalui ladang milik Zhang Da. Karena tamak, ia mau memberikan tanah dengan syarat siapa pun yang lewat harus memberikan sebagian besar pendapatannya pada Zhang Da karena dianggap sudah mengurangi hasil ladangnya yang akan diubah jadi jalan.

Penduduk desa tak mau mengikuti syarat tersebut. Beruntung, Zhang Er yang baik hati mau memberikan tanahnya untuk dipakai. Warisannya yang tak seberapa, diberikan kepada penduduk desa dengan cuma-cuma. Dan, meski agak sedikit berbelok, hal itu tetap sangat membantu penduduk desa sehingga mereka lebih mudah menjual dagangannya. Jalan itu pun makin ramai. Dan, karena tanah itu milik Zhang Er, ia pun mendirikan sebuah kedai teh di sana. Lama-lama, saking ramainya jalan, kedai teh Zhang Er pun makin ramai hingga kedainya berkembang dan ia pun akhirnya jadi saudagar kaya. Sebaliknya, sang kakak, Zhang Da, tak ada lagi penduduk yang mau bekerja dengannya. Akibatnya, ladangnya pun berakhir terlantar sehingga makin lama ia menjadi miskin.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali hal, yang secara sepintas terlihat merugikan, tetapi sebenarnya akan ada hasil yang baik di belakangnya. Memang, acap kali kita harus berkorban. Tak jarang kita harus mengalami banyak kegagalan. Namun jika kita mampu bersabar, layaknya Zhang Er, apa yang kita “investasikan”—meski terkesan merugi pada awalnya—bisa menjadi “tumbuhan dengan buah lebat” yang bisa kita petik setiap hari.

Mari, hidup dengan bersahaja. Jangan sampai kita mencontoh Zhang Da yang tamak. Meski tampak menguntungkan, jika dilakukan dengan cara-cara yang negatif, suatu kali pasti akan datang “balasan”. Sebaliknya, mari teladani sikap Zhang Er, yang mengalah, namun ujungnya banyak mendatangkan berkah.


Monday, August 17, 2015

MERANTAU !

Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.

Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”

 

Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput. 
- Kadang rezeki orang di negeri kita. 
- Kadang rezeki kita di negeri orang.

Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem,Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.

Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya.

Ayo hijrah!
Ayo merantau!

Tuesday, August 11, 2015

Rezeki Yang Berlimpah-Limpah

Anak itu rezeki. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya berlimpah-limpah, tumpah-ruah, tercurah laksana air bah! Percayalah, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Yah, mengayakan. Kalau punya anak? Makin mengayakan !!!

Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya. (Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah?) Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, masih setengah enaknya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam. Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum menikah, mari didoakan ya. Semoga segera. Aamiin.

WINNER !!!

 Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka.

Misalnya saja:

-       -   Sakit, tapi masih bisa tersenyum.

-       -   Gagal, tapi masih bisa bahagia.

-       -   Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.

-       -   Miskin, tapi masih mau bersedekah.

Tidak percaya? Dengarkan saja percakapan ini:

            “Bisnisnya rugi ya, Pak?”

            “Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”

            “Lha, itu tokonya sampai tutup!”

            “Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”

            “Relokasi? Memangnya pindah ke mana, Pak?”

            “Nah, itu yang belum tahu, Mas. Hehehe!”

Atau dengarkan percakapan ini:

            “Kariernya mentok ya, Pak?”

            “Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”

            “Tapi perasaan, kok lama banget?”

            “Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”

“Terus, kapan naiknya?”

“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani saja sabar kok. Hehehe!”

Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’ (Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau Anda belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu Anda sudah berhasil, maka Anda akan dicap jenius).Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari sakit, kegagalan, kebangkrutan, dan kemiskinan. Di sini mereka tidak perlu menyimak motivator atau trainer. Tidak perlu mengikuti in house seminar atau in house training. Karena mereka berhasil melakukan self-motivating.

Ketika hati telah diliputi cinta, maka senyum, syukur, dan sedekah adalah perkara yang mudah. Iya, mudah. Apapun kondisinya. Dan disadari atau tidak, orang rata-rata hanya bisa tersenyum ketika ia sudah sembuh. Orang rata-rata hanya bisa bersyukur dan bersedekah ketika ia sudah berhasil. Ini kurang bijak, menurut saya. Alih-alih begitu, #SangPemenang 

malah bersikap terbalik.

 

 

Thursday, July 9, 2015

"Ya Tuhan, apa salahku?! Kenapa aku diberi ujian seperti ini?"


Seorang tabi'in yang mulia; Muhammad ibn Sirinpernah dipenjarakan karena terlilit hutang. Menaggapi musibah yang menimpa dirinya ia berkata: "Ini adalah cobaan yang ditimpakan kepadaku akibat dosa yang aku lakukan semenjak 30 tahun yang lalu".

Dosa yang beliau lakukan ialah ketika ia bertemu dengan seorang fakir ia berkata: "Wahai orang yang bangkrut!"

Imam Sufyan ats Tsaury mengalami hal yang mirip. Beliau berkata: “Aku pernah terhalang mengerjakan qiyamullail selama lima bulan yang diakibatkan oleh satu dosa yang aku lakukan”.

Lalu orang disekitarnya bertanya: “Dosa apakah itu?”

Beliau menjawab: Aku melihat seorang laki-laki menangis, lalu aku berbisik di dalam hatiku: “Orang ini riya"!

Dari dua kisah ini ada satu pelajaran besar yang kita dapatkan, yaitu: bagaimana mereka begitu sensitif dengan dosa yang pernah mereka lakukakan. Sehingga ketika terjadi hal yang tidak diinginkan mereka langsung menyandarkan penyebabnya kepada dosa tersebut.

Sejalan dengan firman Allah:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura: 30)

Di samping itu yang lebih menarik, bagaimana mereka bisa hafal dosa yang telah mereka lakukan.

Tidak ada kata lain selain hal itu menunjukkan bahwa alangkah sedikitnya dosa yang mereka lakukan, sampai-sampai mereka mampu mengingatnya walaupun sudah berlalu waktu yang lama dari kejadian, bahkan sudah puluhan tahun.

Sangat berbeda dengan kita sekarang yang melakukan banyak dosa setiap hari, bahkan setiap saat. Saking banyaknya kita tidak ingat lagi dosa apa saja yang telah kita lakukan. Dan yang lebih parah, kita merasa tidak pernah melakukan dosa.

Karena itu, tidak jarang kita dengar bila seseorang ditimpa musibah atau bencana, ia akan berkata: "Ya Tuhan, apa salahku?! Kenapa aku diberi ujian seperti ini?"

Akibat terlalu banyak dan terbiasanya melakukan dosa, kita menjadi kehilangan sensitivitas terhadap dosa. Bila hal itu berlanjut tanpa mau menyadarkan diri secepatnya, ia akan berakibat fatal terhadap kesehatan rohani.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [المطففين: 14

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bila seorang mukmin melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam. Sekiranya dia bertaubat, meninggalkan dosa itu dan minta ampun, akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tambah melakukan dosa, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam. Itulah ia "raan" yang disebutkan Allah dalam kitabnya: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. ” (Hadis riwayat Ibn Majah).

Untunglah dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang-Nya, Allah tidak langsung menimpakan azab terhadap setiap kesalahan yang kita lakukan. Tapi Allah menangguhkan dan memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

"Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya". (Fathir: 45)

Inilah sepuluh hari pertengahan dari bulan Ramadhan yang keistimewaannya adalah Allah memberikan pengampuan bagi hamba-hamba-Nya (maghfirah). Saat inilah kesempatan emas yang harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk memohon keampuanan kepada Allah atas dosa yang telah kita lakukan selama ini. Saatnya memperbaharui tekad dan janji kepada Allah untuk menjadi hamba yang taat dan menjauhi dosa-dosa.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah kami. Peliharalah diri kami dari dosa dan maksiat di hari-hari mendatang.

Wednesday, July 1, 2015

SIKAP DA’I DALAM MENGHADAPI FITNAH DAN UJIAN

Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena aktifitasnya sarat dengan aksi –aksi menyeru, mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran. Aktifitas dakwah tersebut akan menyebabkan pihak tertentu (ahlul bathil) terganggu dan merasa dirugikan. Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena itu sunnatu dakwah yang akan menjadi realitas berulang, sebagaimana firman Allah swt dalam beberapa ayat al-Qur’an:

    حَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", lalu kemudian mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.(QS AlAnkabut 2-3)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبُُ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu Amat dekat.(Qs Al-Baqarah : 214)

Fitnah dan ujian itu bisa menguatkan keimanan seseorang dan bisa juga menjerumuskan dan menyebabkannya futur dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan bayan tentang sikap dan kiat–kiat da’i dalam mengahadapi fitnah, agar setiap kader bisa menyikapinya dengan tepat dan tegar, dan lulus dalam melewati setiap fitnah dan ujian.

9 SIKAP

Ada sembilan sikap seorang da’i ketika diuji Allah swt dengan fitnah, kesembilan penyikapan tersebut adalah:

Pertama, Muhasabah

Sikap pertama yang harus dilakukan adalah bermuhasabah, berintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Bermuhasabah adalah perintah Allah swt, sebagaimana firmanNya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Karenanya bermuhasabah adalah tradisi para sahabat dan generasi setelahnya, karena dengan bermuhasabah, setiap kekhilafan bisa diketahui dan diperbaiki sejak dini.

Sebagaimana taujih Umar bin Khatthab r.a:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

"Evaluasi dirimu sebelum engkau dievaluasi.’

Kedua, Bertaubat

Langkah selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah swt. dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuha), sebagaimana firman Allah swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).‟ (QS At-Tahrim : 8)

Bertaubat itu memiliki rukun dan prasyaratnya agar taubatnya diterima oleh Allah swt. yaitu sebagai berikut :

A. Yang berkenaan dengan hak-hak Allah swt:

Bertaubat kepada Allah swt, berarti menunaikan hal-hal berikut:

1. Menyesali dosa yang telah dilakukannya. Seorang muslim harus merasa bersalah dengan dosa yang dilakukannya, oleh karena itu ia harus menyesali perbuatannya tersebut.

2. Berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.

3. Memperbaiki diri dengan memperbanyak amal-amal sholeh.

B. Hak-hak manusia:

Bertaubat juga harus menunaikan hak-hak manusia, yaitu:

1. Mengembalikan hak orang lain. Jika kesalahannya tersebut adalah merampas dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya kepada si empunya.

2. Melakukan tabayyun (cek & recek) atas setiap informasi yang diterimanya, agar terhindar dari sikap bersu‟udzan kepada orang lain.

Ketiga, Bersabar

Langkah selanjutnya adalah bersabar atas fitnah yang menimpa da’i, dengan berkeyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah swt. untuk mengetahui hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat-ayat al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali Imran: 200)

Keempat, Taqarrub kepada Allah SWT

Setiap da’i harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah swt. agar senantiasa dekat dengan Allah swt., karena sesungguhnya maksiat dilakukan karena jauh dari Allah swt. Bertaqarrub yang dimaksud adalah dua hal :

1. Berkomitmen menunaikan kewajiban (fara‟id), seperti sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan lain-lain.

2. Memperbanyak ibadah atau amalan sunnah seperti shalat sunnah rawatib, puasa senin dan kamis, sholat tahajjud, tilawah al-Qur’an dan amalan sunnah yang lain, sebagaimana dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

"Tidak ada ibadah yang dilakukan oleh hamba-Ku yang lebih Aku cintai selain ibadah yang Aku wajibkan. Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku yang menjaga pendengarannya, Aku yang menjaga pandangannya, Aku yang menjaga tangannya, Aku yang menjaga kakinya. Jika ia meminta kepadaku, maka Aku akan kabulkan. Dan jika ia berlindung kepadaku, maka Aku melindunginya.‟ (Shahih bukhari, kitab Raqaiq, Bab Tawadhu‟, No. 6021)

Kelima, Menghindari tempat-tempat fitnah

Agar kita tidak terhindar dari fitnah, maka setiap da’i harus menghindari hal-hal atau tempat-tempat yang akan menjerumuskannya ke dalam fitnah.

Di antara hal-hal yang bisa mengakibatkan fitnah adalah sebagai berikut :

1. Harta, dengan segala bentuknya.

Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan warning agar setiap muslim waspada dengan harta karena karakter harta itu dominan menyebabkan pelakunya kepada maksiat.

2. Perempuan

Begitu pula dengan perempuan, seperti halnya harta, perempuan adalah fitnah / ujian bagi manusia, sebagaimana firman Allah swt. :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Aliimran ; 14)

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS Al-anfal ; 28)

3. Hal-hal syubhat

Menjauhi hal-hal yang syubhat termasuk hal yang harus dilakukan da’i agar bisa terhindar atau berhasil melewati ujian, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Dari Nu'man bin basyir r.a berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa yang menghindari hal-hal syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang melakukan yang syubhat, maka ia telah melakukan yang haram."

4. Teman yang tidak baik

Teman adalah cermin keperibadian sesorang, oleh karena itu jika ingin mengetahui ihwal seseorang, maka bisa diketahui dengan ihwal sahabatnya. Oleh karena itu harus dipastikan karib kita adalah orang-orang sholeh, sebagaimana hadits Rasulullah saw:

Dari Abi Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Setiap orang tergantung pada agama temannya, maka kalian lihatlah siapa yang dia jadikan teman." (Musnad Ahmad, Kitab : Musnad al-muktsirin, Bab : Musnad Abi Hurairah, No. 7685)

5. Berambisi mendapatkan jabatan

Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah swt. Oleh karena itu Rasulullah saw. memerintahkan orang yang memegang amanah adalah orang memiliki kualifikasi dan kompetensi. Maka berambisi mendapatkan jabatan adalah perilaku tercela yang harus dihindarkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

Rasulullah saw bersabda : "Dua serigala yang dilepas di tengah gerombolan kambing itu tidaklah lebih merusak dibanding merusaknya ambisi untuk mendapatkan harta dan jabatan terhadap agama seseorang." (Sunan Tirmidzi, Kitab : Zuhud, Bab : ma ja‟a fi akhdzil mal bihaqqihi, no. 2298)

Maksud hadits tersebut adalah bahwa ambisi meraih harta dan jabatan berdampak merusak agama seseorang lebih dahsyat dari pada dampak kerusakan yang dibuat oleh dua ekor serigala yang menyerang segerombolan domba.

Keenam, Saling memberikan nasihat

Setiap da’i harus terbiasa saling memberi nasihat (tanashuh), karena hanya dengan itulah setiap da’i terbantu untuk memperbaiki diri. Jika yang terjadi sebaliknya; tidak ada budaya tanashuh dan kontrol internal melemah sehingga memungkinkan setiap da’i terperangkap fitnah atau tidak sabar menghadapinya.

Tanashuh dan lapang dada menerima nasihat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena budaya tanashuh tersebut tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan sikap lapang dada; maksudnya setiap da’i jika mendapatkan nasihat, ia harus berlapang dada menerima masukan dan nasihat tersebut. Insya Allah swt nasihat itu memperbaiki kita. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Dari Tamim ad-Dari, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Rasulullah saw. Bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum." (Shahih muslim, kitab : al-iman, Bab : ad din nashihah, no. 82)

Ketujuh, Terus bekerja melayani

Setiap ujian dan fitnah tidak boleh menyebabkan kita futur dan berhenti berdakwah, tetapi sebaliknya, ujian tersebut harus menjadi cambuk agar setiap da’i lebih bersemangat dalam beramal dan berdakwah.

Kerja-kerja dakwah itu sangatlah luas, di antara amal dakwah yang menyentuh hajat masyarakat adalah dakwah dalam bidang sosial, dakwah dalam bidang kesehatan agar masyarat hidup sehat, berdakwah dalam bidang keamanan agar masyarakat hidup aman dan nyaman, berdakwah dengan membangun infrastruktur agar fasilitas masyarakat terpenuhi sehingga mereka lancar dan leluasa melakukan hajat dan aktifitas hidupnya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah: 105)

Delapan, Husnudzan terhadap ikhwah dan dakwah

Setiap da’i senantiasa berhusnudzan terhadap ikhwah dan dakwah. Setiap kali mendengar kabar tidak baik tentang seorang akh atau dakwah, maka harus mengedepankan husnudzan, hingga mendapatkan informasi / penjelasan dari dakwah.

Prinsip berhusnudzan ini yang diperintahkan Rasulullah saw. sebagaimana firman Allah swt:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

"Tidakkah sebaiknya ketika kamu mendengar (berita bohong) itu orang-orang mukminin dan mukminat bersangka baik terhadap diri mereka sendiri." (QS An-Nur: 12)

Apalagi jika informasi bersumber dari orang fasiq, maka kita tidak boleh percaya sebelum tabayyun terhadap berita tersebut, sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(QS al-Hujarat: 6)

Sembilan, Istiqomah dalam jama’ah

Ujian dan fitnah adalah fitrah dalam perjuangan dan dakwah, sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali Imron:200)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al Hajj:77)

Oleh karena itu setiap ujian dan fitnah itu tidak boleh membuat kader futur, tetapi sebaliknya, harus membuat tetap istiqomah dalam dakwah ini.

Friday, May 15, 2015

"Cara Masuk Surga Sekeluarga"

Oleh Ustadz Bachtiar Nasir 
(Sekjen Miumi Pusat)

1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; "Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?"

2. Bagaimana caranya? Lihat surat Ath Thur ayat 25-26. Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga. Mau tau?

3. Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu, koq bisa masuk Surga?

4. Jawabnya seragam; "Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka".

5. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka" (QS At Tahrim; 6).

6. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.

7. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa "Neraka"?.

8. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.

9. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.

10. Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.

11. Nabi Nuh as tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh as terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan'an.

12. Nabi Luth as tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.

13. Asiah binti Muzahim, tertatih -tatih peringatkan suaminya Fir'aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa as, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir'aun.

14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.

15. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.

16. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.

17. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram.

18. Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.

19. Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.

Semoga bermanfaat buat kita dan keluarga kita masing-masing. Selamat beraktifitas yang indah bersama keluarga kita sampai akhirat yang husnul khotimah...

Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin

Thursday, May 14, 2015

'Ya Allah, jangan biarkan hati kami dingin melihat kemunkaran'

Berapa orangkah yang telah membunuh unta mu'jizat Nabi Shaleh?

Jawabannya: Hanya satu orang saja. Dialah Qudar bin Salif. Manusia paling celaka, yang sangat berani berbuat kejahatan.

( فنادوا صاحبهم فتعاطي فعقر )

"Maka mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap unta itu dan memotongnya" (al Qamar: 29)

Lalu berapa orang yang ikut serta dalam perencanaan dan yang menggembosi terhadap penyembelihan unta tersebut?

Jawabannya: Sembilan orang saja.

(وكان في المدينة تسعة رهط يفسدون في الارض ولا يصلحون )

"Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan". (an Naml: 48)

Apakah Allah mengazab sembilan atau sepuluh orang itu saja terhadap perbuatan yang sangat tercela tersebut?

Jawabannya: Tidak, Allah tidak mengazab mereka saja, akan tetapi Allah membinasakan seluruh bangsa Tsamud.

(فأخذتهم الرجفة فأصبحوا في دارهم جاثمين)

"Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka". (al A'raf: 78)

Berdasarkan itu:

Pembunuh, pemberi legitimasi, yang diam saja terhadap kejahatan, tidak mendukung kebenaran dan yang setuju atas pembunuhan itu, semuanya sama di hadapan Allah. Allah mengazab mereka semua dengan azab yang sangat-sangat mengerikan.

Oleh sebab itu, kita tidak akan diam terhadap kemungkaran yang nyata di hadapan mata. Sekalipun para durjana kegerahan atas itu semua.

Ya Allah, jangan biarkan hati kami dingin melihat kemungkaran dan kebinasaan.

Wednesday, May 13, 2015

"Kesalahan adalah Jalan Perubahan"

Seorang kepala sekolah menuturkan....

Suatu kali aku datang ke sekolah....Tiba-tiba aku dikejutkan dengan tulisan mengandung celaan di tembok pagar sekolah yang mengarah keluar. Tulisan itu menggunakan cat semprot.

Setelah menelusuri siapa yang melakukan itu, dengan cara memperhatikan siapa saja siswa yang bolos hari itu, ditemukan lah sang pelaku. Seorang siswa kelas 3 SMA.

Orang tua dari siswa itu segera diminta untuk datang ke sekolah. Setelah ia sampai di sekolah dan menyaksikan apa yang ditulis anaknya di tembok pagar sekolah, serta merundingkan permasalahan yang terjadi, dengan gaya sangat tenang ia meminta anaknya untuk hadir. Lalu ia mendengarkan pengakuan anaknya bahwa benar, ia yang telah melakukannya.

Selanjutnya ia mengeluarkan HP dan menghubungi tukang cat. Dia memintanya untuk datang ke sekolah setelah memberikan alamat lengkapnya. Dia meminta untuk mencat kembali pagar itu dengan warna yang sama hingga kondisinya lebih bagus dari semula.

Sebelum ia minta izin untuk kembali, ia menghampiri dan mengelus kepala anaknya sambil berkata dengan sangat tenang dan lembut: "Anakku sayang, bila kamu sudah angkat kepala ayahmu ini jangan kamu benamkan lagi!"

Kemudian ia minta izin dan segera berlalu.

Kepala sekolah melanjutkan ceritanya:

Aku melirik ke arah siswa itu, tiba-tiba ia meletakkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, lantas ia menangis tersedu-sedu.

Aku dan pembina siswa betul-betul tercengang melihat cara bapak anak itu dan bagaimana pengaruh cara yang ia lakukan terhadap anaknya.

Siswa itu berkata sambil terisak-isak: "Kiranya ayahku memukulku dan tidak mengatakan perkataan itu kepadaku".

Kemudian siswa itu minta maaf dan memperlihatkan mimik penyesalan yang luar biasa. Hari-hari berikutnya ia berubah drastis menjadi salah seorang siswa terbaik di sekolah itu.

Ibroh:

- Pendidik yang sukses adalah pendidik yang mampu memanfaatkan kesalahan dan masalah yang terjadi untuk meluruskan dan membenarkan tingkah laku anak didik.

- Kata mutiara orang dulu mengatakan: "Kesalahan itu adalah jalan yang benar".

- Hukuman itu bukan lah tujuan.

- Yang menjadi tujuan adalah menyelesaikan masalah dan keluar dari masalah itu dengan melahirkan hasil yang positif.

Ragam Type Anak dan Keunggulannya

Seorang ibu membeli beberapa pot bunga yang berisi aneka bunga. Pot-pot itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah keasrian dan keindahan rumahnya. Ia lalu berdoa, "Ya Allah, melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan berdatangan kupu-kupu indah ke rumahku."

Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya.

Seminggu kemudian, ia menunggu dan menunggu, tidak kunjung ada kupu-kupu di halaman rumahnya. Hingga suatu hari betapa kagetnya si ibu mendapati bahwa bukan kupu-kupu yang datang tapi ulat-ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon bunga yang dibelinya itu.

Si ibu kesal lalu berkata, "Ya Allah, aku minta kepada-Mu kupu-kupu cantik tapi mengapa yang datang malah ulat-ulat jelek ini?"

Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan ke gudang.

Sebulan kemudian, tepat di hari yang ke-30 sejak kejadian tersebut, si ibu ingin mencari peralatan yang ia taruh di gudang. Ketika membuka pintu gudang, betapa kagetnya ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai beterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka... untuk mencari bunga-bungaan di sekitarnya.

Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.

"Alangkah Indahnya tamanku saat ini." Si ibu berujar dalam hati. "Ya Allah, ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu, mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka."

Wahai para orang tua...

Begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, seringkali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.

Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja. Padahal di balik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya, sisi indah yang kelak akan dimunculkannya saat mereka dewasa.

Kita mungkin sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper-aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang... Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.

Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali diatur... Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi pimpinan-pimpinan organisasi/perusahaan yang sangat berhasil dengan strategi dan ide-idenya yang jitu.

Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan sesuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul di bidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...

Lain lagi misalnya ada orangtua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu... bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu... Namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.

Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang jelek dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.

Sesungguhnya begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi. Karena mereka selalu dianggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah... yah... begitu malangnya mereka, sampai akhirnya mereka harus tetap menjadi ulat bulu sesungguhnya sepanjang hidupnya. Ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Bagaimana kita.., anda dan saya memperlakukan anak kita atau anak anak kecil disekitar kita??

Wednesday, April 22, 2015

Garis pemisah antara Orang Beriman dan Orang Munafik.

Suatu kali, Rasulullah SAW ditanya salah seorang sahabat dengan tiga pertanyaan. “Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa mencuri?” Rasulullah pun membenarkan, “Benar. Orang beriman bisa mencuri,” jawabnya.

Sahabat itu pun bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berzina?” Lagi-lagi Rasulullah pun membenarkan. Orang beriman bisa saja khilaf dan jatuh pada perzinaan.

Pertanyaan ketiga, “wahai Rasulullah, apakah orang beriman itu bisa berbohong?” ujarnya. Kali ini jawaban Rasulullah berbeda. “Tidak!” ujar Rasulullah SAW menegaskan. (HR Tirmidzi).

Hadis ini pun menuai tanda tanya di kalangan cendekiawan Muslim. Bagaimana mungkin tindak kriminal, seperti mencuri dan perzinaan, mendapat tempat lebih rendah daripada berbohong? 

Di dalam hukum jinayat secara jelas tercantum, pencuri terancam hukum potong tangan dan zina terancam hukuman rajam. Namun nyatanya, bagi si pembohong tidak mendapat hukuman apa-apa.

Perzinaan adalah seburuk-buruk kemaksiatan bagi diri seseorang. Sedangkan, pencurian seburuk-buruk kejahatan bagi kehidupan sosial. 

Bisa dikatakan, perzinaan dan pencurian merupakan kejahatan terberat bagi diri sendiri dan orang lain. Ternyata, kejahatan ini pun masih kalah dengan kejahatan berbohong.

Sedemikian beratkah hukuman bagi pembohong sehingga tidak dikategorikan lagi sebagai golongan orang-orang beriman? Seberat-berat hukuman bagi pencuri dan pezina, ternyata tidak mengeluarkannya dari keimanan. 

Tetapi, tidak berlaku bagi seorang pembohong. Dari hadis tersebut jelas dipahami, orang berbohong berarti bukan lagi bagian dari orang-orang beriman.

Hal ini dikuatkan lagi dengan hadis Rasulullah yang lain. “Siapa yang membohongi/mencurangi kami maka dia bukan lagi dari golongan kami (golongan orang-orang beriman).” (HR At-Thabarani dan Ibnu Hibban).

Kemudian, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS an-Nahl [16]: 105)

Dari hadis dan ayat ini tergambar sudah, berbohong bukanlah karakter orang beriman. Berperilaku dan bertutur kata dengan benar menjadi identitas seorang Mukmin. Artinya, kebenaran dan kebohongan merupakan garis pemisah antara orang beriman dan orang munafik.

Bukankah ketika seorang masuk Islam harus mengucapkan dua kalimat syahadat? Syarat sah berlakunya syahadat adalah kesaksian dengan sebenar-benarnya ia mengakui Allah sebagai Rabb dan Muhammad SAW sebagai Nabinya. Jadi, untuk menjadikan seorang kafir menjadi Muslim, yakni dengan sebuah kebenaran.

http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/14/04/07/n3npi8-menjadi-pemimpin-yang-jujur-1

Sunday, April 12, 2015

Kisah Istri Kecanduan Chating

Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia Maya

Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…

Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.

Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.

Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.

Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.

Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.

Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar,  lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.

Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???

Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan , ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”

Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.

[Sumber : http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting/ ]

Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan  si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.

Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.

Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita.” (HR. Bukhari no. 5184)

Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.

Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

Kedua, selalu menutup aurat

Tuesday, April 7, 2015

Menyikapi Musibah

Alhamdulillah! Segala puji hanya milik Alloh Swt. Hanya Alloh tempat kembali segala urusan. Hanya Alloh yang tempat memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Alloh, baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, tentu saja kita sangat berharap hidup kita ini selalu ada dalam kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan. Tetapi ternyata kebahagiaan dan kegembiraan itu tidak selalu datang dari hal-hal yang kita sukai.

Mari kita simak firman Alloh Swt. di dalam Al Quran berikut ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.” (QS. Al Baqoroh [2] : 155-156)

Dalam ayat ini Alloh Swt. dengan sangat terang-benderang menjelaskan bahwa pasti akan datang ujian di dalam hidup kita. Tidak selamanya menyenangkan, kadang muncul juga kejadian yang tak mengenakan. Tidak selamanya menggembirakan, kadang muncul juga kejadian yang menyedihkan.

Akan tetapi, akan datang kebahagiaan yang sejati di balik semua ujian atau musibah itu. Kebahagiaan yang hanya datang kepada orang-orang yang bersabar. Siapakah orang yang sabar itu? Alloh menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika ia ditimpa musibah, maka mulutnya, hatinya, sikapnya, kompak mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.

Saudaraku, apa maksud dari kalimat ini? Kalimat ini artinya, “Sesungguhnya kami ini milik Alloh, dan hanya kepada Alloh kami akan kembali”.Maka kalimat ini menunjukkan bahwa ada dua kunci utama bagi orang yang ingin bersabar.Pertama, hilangnya rasa memiliki. Kita yakin bahwa diri kita dan segala yang kita miliki adalah milik Alloh Swt.

Kedua, hilangnya tempat kembali, kecuali hanya Alloh Swt. satu-satunya tempat kembali. Hanya Alloh Swt. tempat kembalinya segala urusan. Dan, meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita pasti akan kembali kepada Alloh Swt.

Semakin kita tidak merasa memiliki, kecuali bahwa yang kita miliki ini tiada lain adalah hanya titipan dari Alloh Swt., maka akan semakin ringan kita menjalani hidup ini. Akan semakin ringan kita menghadapi setiap musibah yang terjadi dalam hidup kita. Sebaliknya, jikalau semakin besar rasa memiliki dalam hati kita, maka akan semakin berat untuk bersabar.

Semakin kuat keyakinan kita bahwa hanya Alloh Swt. yang kuasa memberikan pertolongan, maka akan semakin tangguh kita menghadapi setiap musibah. Sebaliknya, semakin kita mencari penolong selain Alloh, maka akan semakin resah gelisah hati kita dan semakin jauh dari pertolongan Alloh.

Lisan mengucap “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” disertai keyakinan, itulah pangkal kebahagiaan yang hakiki. Hanya orang yang bersabar yang akan memperoleh pertolongan Alloh, dan hanya orang-orang yang bersabar yang akan mampu melewati setiap musibah dengan hati yang lapang. Sehingga hidupnya akan diliputi dengan ketenangan dan kebahagiaan. Sungguh, kita ini milik Alloh dan hanya kepada Alloh kita kita akan kembali. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar.

Menyikapi Musibah

Alhamdulillah! Segala puji hanya milik Alloh Swt. Hanya Alloh tempat kembali segala urusan. Hanya Alloh yang tempat memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Alloh, baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, tentu saja kita sangat berharap hidup kita ini selalu ada dalam kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan. Tetapi ternyata kebahagiaan dan kegembiraan itu tidak selalu datang dari hal-hal yang kita sukai.

Mari kita simak firman Alloh Swt. di dalam Al Quran berikut ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.” (QS. Al Baqoroh [2] : 155-156)

Dalam ayat ini Alloh Swt. dengan sangat terang-benderang menjelaskan bahwa pasti akan datang ujian di dalam hidup kita. Tidak selamanya menyenangkan, kadang muncul juga kejadian yang tak mengenakan. Tidak selamanya menggembirakan, kadang muncul juga kejadian yang menyedihkan.

Akan tetapi, akan datang kebahagiaan yang sejati di balik semua ujian atau musibah itu. Kebahagiaan yang hanya datang kepada orang-orang yang bersabar. Siapakah orang yang sabar itu? Alloh menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika ia ditimpa musibah, maka mulutnya, hatinya, sikapnya, kompak mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.

Saudaraku, apa maksud dari kalimat ini? Kalimat ini artinya, “Sesungguhnya kami ini milik Alloh, dan hanya kepada Alloh kami akan kembali”.Maka kalimat ini menunjukkan bahwa ada dua kunci utama bagi orang yang ingin bersabar.Pertama, hilangnya rasa memiliki. Kita yakin bahwa diri kita dan segala yang kita miliki adalah milik Alloh Swt.

Kedua, hilangnya tempat kembali, kecuali hanya Alloh Swt. satu-satunya tempat kembali. Hanya Alloh Swt. tempat kembalinya segala urusan. Dan, meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita pasti akan kembali kepada Alloh Swt.

Semakin kita tidak merasa memiliki, kecuali bahwa yang kita miliki ini tiada lain adalah hanya titipan dari Alloh Swt., maka akan semakin ringan kita menjalani hidup ini. Akan semakin ringan kita menghadapi setiap musibah yang terjadi dalam hidup kita. Sebaliknya, jikalau semakin besar rasa memiliki dalam hati kita, maka akan semakin berat untuk bersabar.

Semakin kuat keyakinan kita bahwa hanya Alloh Swt. yang kuasa memberikan pertolongan, maka akan semakin tangguh kita menghadapi setiap musibah. Sebaliknya, semakin kita mencari penolong selain Alloh, maka akan semakin resah gelisah hati kita dan semakin jauh dari pertolongan Alloh.

Lisan mengucap “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” disertai keyakinan, itulah pangkal kebahagiaan yang hakiki. Hanya orang yang bersabar yang akan memperoleh pertolongan Alloh, dan hanya orang-orang yang bersabar yang akan mampu melewati setiap musibah dengan hati yang lapang. Sehingga hidupnya akan diliputi dengan ketenangan dan kebahagiaan. Sungguh, kita ini milik Alloh dan hanya kepada Alloh kita kita akan kembali. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar.

Thursday, March 26, 2015

Penyakit Gengsi

Alhamdulillah! Tak ada yang patut disembah selain Alloh Swt. Hanya kepada Alloh kita semua akan kembali. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar setiap doa, senantiasa membimbing kita sehingga kita termasuk kepada golongan hamba-Nya yang bersyukur. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rosululloh Saw.

gengsi adalah penyakit yang menyesakkan dada, membuat hati tertekan, merasa terhimpit, dunia ini terasa sangat sempit. Ada orang yang karena gengsi naik angkot, maka dia memaksakan naik taksi, padahal ia tidak mampu dan memang tidak perlu. Sepanjang jalan ia tidak menikmati jok yang empuk di dalam taksi karena matanya gelisah melihat argo yang terus bertambah.

Ada juga orang yang datang ke sebuah acara mengendarai motor lama. Karena gengsi, ia berusaha datang lebih awal, kemudian mencari tempat parkir yang agak tersembunyi. Ada lagi orang yang memaksakan diri mencicil ponsel baru yang mahal hanya karena gengsi di depan teman-temannya memakai ponsel lama yang dipikirnya sudah ketinggalan zaman. Maa syaa Alloh.

Betapa menderita hidup yang demikian. Menuruti keinginan, bukan kebutuhan. Memaksakan diri, tanpa melihat kemampuan. Mengikuti pandangan orang, tanpa memikirkan kebaikan dan keburukan. Semua itu terjadi karena gengsi.

Gengsi itu sama bahayanya dengan ‘ujub dan minder. Semuanya sama-sama perwujudan dari cinta dunia. Gengsi muncul karena hati sudah terpaut dengan dunia, menjadikan dunia sebagai tolak ukur kemuliaan. Padahal yang dikejar kemuliaan di pandangan manusia. Apalah artinya mulia di pandangan manusia, tapi sia-sia di pandangan Alloh Swt.

tidakkah kita ingat pada sabda Rosululloh Saw., “Demi Alloh, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak perlu kita gengsi memakai motor gara-gara mobil kita dijual. Tidak perlu kita gengsi tinggal di rumah kontrakan. Demi Alloh.. Semua yang ada di dunia ini milik Alloh. Yang kita miliki, yang masih kita cicil atau yang kita sewa, semuanya mutlak milik Alloh. Semua itu ada di tangan kita hanya titipan saja dan hanya ujian. Tidak perlu gengsi dengan apa yang kita miliki. Gengsi adalah bentuk lain dari kufur nikmat, seolah karunia yang Alloh berikan kepada kita tiada berarti. Maa syaa Alloh.

Alloh Swt. berfirman,

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬ وَزِينَةٌ۬ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ۬ فِى ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ‌ۖ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadiid [57] : 20)

Semoga kita bisa mengendalikan diri dari penyakit gengsi. Pastikan kita memakai dan memiliki atas dasar perlu, bukan sekedar mau. Ikutilah kesederhanaan Rasulullah Saw. dan para sahabat serta salafushsholeh. Cinta dunia adalah sumber malapetaka. Semoga kita tergolong orang-orang yang selamat. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.[]

 

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )