Wednesday, August 19, 2015

Menjadi Pengikut

Hidup selalu berada dalam keseimbangan, ada yang gagal, ada yang suskes. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Apa pun dan di mana pun peran tersebut, kita bisa menjadi meraih sukses sejati jika saling bersinergi. 

Dalam berbagai kisah dan pengertian yang sering kita dengar di masyarakat, ada banyak orang yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Ada yang mendambakan menjadi kaya dan selalu ingin jadi nomor satu. Tentu, itu merupakan sebuah hal dan tujuan besar yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Dan, jika ditanya, hampir semua orang pasti menginginkannya.

Tapi, apakah semua orang mendapatkannya? Ini yang perlu kita kaji dan mengerti lebih mendalam. Sebab, tak selamanya kita akan duduk di puncak. Dan sebagaimana nomor, angka satu ya hanya satu saja, tak pernah dua atau tiga. Artinya, selalu akan lebih banyak orang berada di tataran "pengikut".

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menjadi pengikut, seseorang menjadi kalah, berada di bawah, dan selalu dalam posisi mengalah? Dalam sudut pandang harfiah bisa jadi yang di bawah memang selalu akan berada dalam posisi yang berat. Sebab, ia sedang menjadi bagian yang menopang yang di atas. Tapi, kalau dipikirkan lebih mendalam, bukankah tiang yang kokoh dari bangunan menjulang tinggi angkasa harus ditopang oleh fondasi yang kuat? Dan, bukankah sebuah perusahaan akan jadi hebat kalau pemimpinnya didukung oleh semua komponen—pengikut—yang mendukungnya?

Dalam pengertian ini, saya ingin menekankan bahwa sebenarnya, dalam posisi sebagai pengikut pun, kita seharusnya selalu memiliki jiwa seorang pemenang. Dalam kondisi berada di bawah, orang pun sebenarnya bisa memiliki nilai kesuksesannya sendiri. Lebih jauh lagi, untuk sukses, tak semata dilihat dari ukuran kasat mata berupa materi. Namun, kesuksesan akan “bicara” lebih banyak saat kita bisa menjadi manusia seutuhnya, saling menghargai, menjunjung toleransi, hingga saling membahagiakan.

Ada sebuah anekdot yang dulu pernah saya baca. Kalau negara Amerika Serikat menemukan sesuatu, mereka akan segera mengumumkannya. Sementara, kalau Rusia (dulu Uni Soviet), kalau menemukan sesuatu, akan diam-diam, hingga kemudian mengejutkan dunia. Penemuan-penemuan itu, oleh Jepang akan diperhatikan secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan caranya sendiri untuk jadi barang hebat lainnya. Sementara oleh Tiongkok, penemuan itu akan dicontoh, ditiru, kemudian akan dibuat dalam bentuk massal untuk kemudian memetik keuntungan.

Meski sekadar anekdot yang mengundang senyuman, tapi kisah tersebut bagi saya adalah bagian dari pembelajaran. Pertama, memang ada yang “tercipta” sebagai yang pertama. Semua ada porsinya. Kedua, mereka yang kreatif, meski menjadi “pengikut”,  bisa jadi malah memetik keuntungan yang paling nyata. Ketiga, dengan cara masing-masing, kita sebenarnya punya potensi di area tersendiri di mana kita memang hebat di dalamnya.

Dengan pengertian tersebut, kita dapat memetik hikmah, bahwa tak salah untuk—“hanya”—menjadi seorang pengikut. Malah, di beberapa kondisi, kita bisa meraih sukses dengan cara kita masing-masing.

Tentu, jangan pula menjadi asal seorang pengikut. Jangan pula sekadar meniru mentah-mentah. Tapi, kita tetap harus menjadi “pengikut” yang punya karakter, kaya mental, hingga punya ciri tersendiri. Artinya, untuk meraih sukses sejati, seorang yang dalam posisi sedang “berperan” sebagai pengikut, tetap harus mampu menunjukkan jati dirinya. Ibarat dalam kejuaraan olahraga balap, meski sedang berada di belakang, kita tetap punya target juara. Maka, ketika akhirnya belum jadi juara pun, kita tetap punya sikap dan mental juara yang akan menjadikan kita meraih sukses sejati. Sehingga, saat berada di bawah, saat belum mencapai impian, saat sedang berjuang merangkak, kita tak pernah putus harapan. Masalah hasil hanyalah “bonus”. Justru, saat berproses itulah, kita sedang disiapkan menjadi insan-insan luar biasa.

Begitu pula ketika sedang berada di atas. Bukan berarti kalau sudah di puncak, tak lantas kita selalu jadi pemimpin. Bahkan sejatinya, pemimpin pun adalah seorang “pengikut”. Presiden misalnya, harus pula memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, orang super miliarder sekelas Bill Gates yang sukses dengan Microsoft-nya pun, kalau tak memikirkan “pengikut”-nya, bisa jadi produknya akan ditinggalkan pengguna.

Di sinilah keseimbangan kehidupan terjadi. Tak ada pemimpin yang abadi, tak ada pula pengikut sejati. Semua saling melengkapi, semua saling bersinergi. Seperti ungkapan yang saya kutip dari Edith Wharton—seorang penulis pemenang penghargaan Pulitzer—di atas. Yakni, untuk menjadi cahaya, kita bisa menjadi dua hal. Lilin yang menyala atau cermin yang memantulkan sinarnya ke mana-mana. Artinya, hendak jadi apa pun, dengan peran apa pun, seharusnya kita sadar dan mengerti, bahwa kita hidup tak sendiri. Kita bisa menjadi “sang sumber” utama kesuksesan, atau menjadi “cermin pemantul” yang akan melipatgandakan sukses itu ke mana-mana. Di mana pun dan apa pun peran tersebut, jika kita jalani dengan ketulusan dan keikhlasan, maka sukses dan bahagia sejati, akan jadi milik kita.

Menapaki Sukses dengan Membuat Perubahan

Kondisi kita saat ini tak bisa diubah tanpa kita sendiri yang mengubahnya. Sadari kekurangan, perbaiki diri, dan maksimalkan potensi! Saat kesempatan datang, manfaatkan, maka semua impian bisa menjadi kenyataan.

Kita tak pernah bisa memilih, bagaimana, di mana, kapan, serta latar belakang seperti apa kita dilahirkan. Ada yang terlahir kaya, miskin, dengan beragam suku bangsa serta agama. Semua itu hanya bisa dan akan berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh lingkungan sekitar di mana kita lahir dan tumbuh. Karena itu, apa pun latar belakang dan kondisi di mana kita dilahirkan, sudah selayaknya kita harus tetap bersyukur. Sebab, tak ada makhluk yang dicipta tanpa tujuan dan makna dalam hidupnya. Dan, dengan kesadaran yang penuh tentang pengertian bahwa kita pasti tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita seharusnya bisa memaksimalkan daya dan upaya untuk mencapai sukses yang kita damba.

Untuk itu, satu hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah melihat ke dalam diri, apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Apa saja hal yang harus diperbaiki, dikoreksi, dan bisa dimaksimalkan. Ketahui juga, potensi apa saja yang masih bisa kita tingkatkan. Dengan cara ini, kita akan menemukan fondasi yang kokoh untuk mencari jalan menuju kesuksesan.

Cerita pendek berikut bisa menjadi penggambaran perbedaan orang yang menyadari kekurangan dan mau berubah, dan orang yang memilih untuk berdiam diri saja, menunggu peruntungannya.

Alkisah, ada dua orang pemuda miskin yang bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan yang miskin itulah, mereka sering kali berkhayal, bagaimana rasanya menjadi orang yang kaya dan serba berkecukupan. Saat mereka beranjak dewasa, mereka berkesempatan untuk bekerja pada seorang pedagang besar yang cukup terpandang. Kala itu, mereka menjadi buruh angkut barang di pelabuhan. Mereka pun kembali berkhayal, bagaimana agar bisa memperbaiki nasib, bahkan kalau bisa menjadi seperti sang pedagang besar.

Pemuda pertama memilih untuk melakukan sesuatu. Ia bekerja lebih keras dan lebih cepat. Ia mengatakan pada kawannya, bahwa dengan bekerja keras, kemungkinan besar ia akan mendapatkan upah lebih besar dan kepercayaan dari sang pedagang, sehingga bisa segera naik kelas, paling tidak agar tak lagi menjadi buruh angkut saja. Sedangkan pemuda kedua, merasa ia tak punya modal selain tenaga, memilih untuk melakukan apa adanya, sesuai dengan upah yang dibayarkan saat itu. Meski mereka berdua berkhayal dengan impian yang sama, pemuda pertama bekerja lebih giat dan tekun untuk mewujudkan impian itu. Sementara pemuda kedua hanya menjadikan impian itu sebagai lamunan belaka.

Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari, sang pedagang sering mengawasi pekerjanya. Dan, dia terkesan dengan pekerjaan si pemuda pertama yang terlihat sangat cekatan, melebihi buruh yang lain. Maka, dipanggilnyalah si pemuda pertama. Dan, saat ditanya, mengapa ia bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekannya, ia menjawab, dirinya punya impian untuk mengubah nasib.

Singkat cerita, sang pedagang melihat kesungguhan si pemuda pertama. Maka, ia pun dipercaya menjadi kurir untuk mengantar pesan sang pedagang pada relasi-relasinya. Pekerjaan itu pun dilakukan dengan sangat cekatan dan penuh tanggung jawab. Ia pun selalu bersikap baik dengan semua relasi sang pedagang, sehingga banyak relasi pedagang yang bersimpati padanya. Maka, tak heran jika si pedagang pun mau memberikan kepercayaan lebih besar pada pemuda pertama.

Tahun demi tahun. Si pemuda akhirnya sukses menjadi wakil sang pedagang. Dari sana, kehidupannya pun berubah seperti yang diimpikannya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, si pemuda pertama mampu mewujudkan khayalannya menjadi nyata.

Begitulah, ada banyak orang sukses, yang menapaki jejak kesuksesannya dengan mau berubah. Mereka tak peduli komentar orang lain. Justru, dengan kritikan dan bahkan cemoohan, mereka terpacu untuk membuktikan bahwa impiannya bukan sekadar bualan. Mereka inilah sang pemenang sejati kehidupan.

Berkaca dari kisah tersebut, mari kita sadari posisi kita saat ini. Dan, mulai berubah dengan mengerahkan kekuatan yang kita miliki untuk memperbaiki diri. Landasi semua impian dengan tindakan nyata, niscaya pintu kesuksesan akan selalu terbuka