Wednesday, February 18, 2015

Kehambaan Kita Dalam Al-Fatihah

1) Al Fatihah, kesemuanya, adalah bangunan kokoh yang menggambarkan kehambaan. Pengabdian itu dapat berujud cinta, harap, maupun takut.

2) Maka terhimpun; "AlhamduliLlahi Rabbil 'Alamin" adalah cinta, "Arrahamanir Rahim" adalah harap, & "Maliki Yaumiddin" adalah takut.

3) Di antara Adab meminta; dahului dengan puja. Sebab dalam ketiganya terkandung pujian & pemuliaan pada Allah; setelah itu, berdoalah.

4) Tapi sebelum permohonan terucap; jelaskan hubungan kita dengan Dzat yang dipintai; sesetia apakah, setulus apakah, semesra apakah.

5) "IyyaKa na'budu", padanya terkandung Ghayah {tujuan} dari segala penghambaan, "Wa iyyaKa nasta'in" di situlah Wasilah {sarananya}.

6) Sebagai ikrar Tauhid, di dalamnya juga terkandung pengakuan jujur bahwa kita takkan mampu mengibadahi Allah tanpa pertolonganNya.

7) Maka kita mengesakan Allah, menyembahNya, mengabdikan hidup & mati; dengan mengandalkanNya, bergantung padaNya, bertawakkal atasNya.

8) Ialah juga titik pembagi antara hak Allah & hak hamba dalam keseluruhan surat; apa yang sesudahnya adalah ijabah dariNya tuk mereka.

9) Sesudah itu kita berdoa; tak sembarang pinta; hanya memohon hal paling berharga dalam hayat kita; hidayah tuk istiqamah di jalanNya.

10) "Shirathalladzina an'amta 'alaihim"; maka kita tahu, hidayah adalah nikmat setinggi-tingginya, seagung-agungnya, seindah-indahnya.

11) Dalam pendakian menjemput hidayah, penyakit-penyakit hati kita mohon agar digugurkanNya. Maka "IyyaKa na'budu" adalah obat Riya'.

12) "IyyaKa nasta'in" ialah obat takabbur. Dan "Ihdinash shirathal mustaqim" selain pinta jugalah pengakuan, ia obat tuk bodoh & sesat.

13) "Shirathalladzina an'amTa 'alaihim" juga memberi kita isyarat ketersambungan Risalah; kita muslim, & telah didahului para gemilang.

14) Orang-orang yang diberi nikmat itu ialah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada', & Shalihin yang kisah mereka sepanjang Quran jadi teladan.

15) Mereka terbimbing untuk bersikap terbaik dengan imannya; dalam sempit & lapang, susah & senang, lebih & kurang, tenang & goncang.

16) Mereka terjaga dari 2 bahaya; murka Allah & tersesat dari jalan ridhaNya. Yang dimurka itu sebab berilmu tanpa amal & menyalahguna.

17) Yang tersesat sebab mengikuti sangka & maksud baik tanpa mau mengkaji & mendalami pengajaranNya. Dua ini Ifrath & Tafrith beragama.

18) Yang menyeksamai Tafsirpun tak boleh lena. Benar bahwa Al Maghdhub 'Alaihim melanda Yahudi & gelar Adh Dhaallun mengenai Nashrani.

19) Tapi jika kita sebagai muslim diminta mengulang doa agar selamat dari keduanya minimal 17 kali sehari; betapa rawannya kita serupa.

20) Mari tak henti hayati Ummul Kitab ini; tuk menyempurnakan kehambaan, mengkhusyu'kan ibadah, & mencahayai hidup dengan petunjukNya.

Maka segala puji bagi Allah; yang menyelimutkan malam, mengistirahatkan insan, menyembunyikan aib, & mengampuni kesalahan. 

Oleh: Salim A Fillah

Belajar Syukur Dari Penjual Tape

Kisah Ustadz Cahyadi Takariawan tentang Penjual Tape yang luar biasa.

Saya pernah punya sahabat di Yogyakarta, seorang kakek tua penjual tape singkong keliling dengan sepeda kayuh.

Hampir setiap hari ia lewat di depan rumah kontrakan saya ketika masih hidup mengontrak di Kota Jogja sekitar tahun 2002 – 2005. Bahkan kakek tua ini sering berhenti berlama-lama di depan rumah kontrakan, sampai saya keluar dan membeli tapenya.

Saking seringnya bertemu, akhirnya kami menjadi sahabat. Pantasnya ia menjadi bapak saya, melihat usianya. Sampai saya sering mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana di daerah Sleman.

Menilik kondisi rumahnya, penampilan dan usahanya, tampak kalau ia hidup dalam berbagai bentuk kesulitan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, dengan genting kuno yang kecil ukurannya, serta lantai dari tanah tanpa ada tembok semen sama sekali.

Jika musim hujan, selalu tiris, air masuk ke dalam rumahnya, dan membuat lantai rumahnya ditumbuhi rumput karena kerap tersiram air hujan.

Di rumahnya tidak ada motor. Hanya ada satu sepeda kayuh yang ia gunakan untuk jualan tape keliling Kota Jogja.

Yang sangat mengagumkan bagi saya, ia lebih sering bercerita tentang kebahagiaan hidupnya sebagai penjual tape. Bukan bercerita tentang kegetiran hidup yang dialami.

Mungkin karena kegetiran itu sudah dirasakan setiap hari, maka menjadi tidak berasa lagi baginya. Yang lebih ia rasakan adalah kegembiraan, maka itu yang selalu diceritakan.

Ia selalu antusias menceritakan kegembiraan yang dirasakan ketika ada “orang-orang penting” membeli tape singkongnya, bahkan selalu mengulang cerita tentang seorang dokter yang berlangganan membeli tapenya.

Contoh kegembiraanya seperti ini.

“Yang membeli tape saya itu orangnya bermobil. Mobil mereka bagus-bagus”, cerita sang kakek dengan wajah berbinar-binar saking bahagianya.

Saya bayangkan, mereka yang punya mobil belum tentu sebahagia kakek itu. Namun kakek yang tidak punya mobil, justru merasakan kebahagiaan yang tidak didapatkan oleh para pemilik mobil.

Begitulah cara ia menikmati hidup. Barangkali ia ingin berpesan, hidup itu terlalu indah untuk dikesali. Nikmati saja semua problematika dalam kehidupan, agar kita selalu bahagia walau penuh dengan keterbatasan.

Kisah diambil dari status di fanpage Ustadz Cahyadi Takariawan, Yogyakarta
https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan

Jangan Lalaikan Panggilan

Beberapa bulan yang lalu saat saya sedang berada di tempat kerja, tiba-tiba datang seorang tamu yang kebetulan mencari salah satu staf di tempat saya kerja. Sebagai tuan rumah yang baik tentunya saya mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk ruangan saya sembari menunggu kawan yang dicarinya.

Selang beberapa saat teman yang dicari tamu tersebut datang dan kemudian mereka berjabat tangan. Sembari mengerjakan tugas kantor yang menumpuk saya menangkap arah pembicaraan mereka. Ternyata mereka adalah Guru dan Murid. Si murid begitu antusias untuk berbagi pengalaman dengan gurunya yang sekarang ada di depannya. Sebut saja si guru adalah pak Amir dan si murid adalah si Anwar. Selang beberapa saat berbicara si anwar memohon ijin untuk melakukan sholat dhuzur. Kebetulan saat itu memang sudah masuk waktu sholat dhuzur.

Usai sholat, kemudian si  Anwar masuk kembali ke ruangan Pak Amir. Pak Amir kemudian bertanya mengenai pekerjaan yang dilakukan si Anwar. Anwar menjawab “Alhamdulillah Pak, hasil usaha saya cukuplah untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak saya”. Iseng saja saya bertanya, “memang apa mas kerjanya?”. Dia menjawab “hanya usaha warnet”. Pertanyaan kemudian saya lanjutkan, “memang ga rugi mas usaha warnet di saat seperti ini?”. Dia menjawab “Alhamdulillah, rejeki sudah ada yang atur kok”. Dia menyebutkan bahwa omset warnetnya perhari tidak pernah kurang dari 100 ribu.

Jawaban yang sedikit aneh di benak saya. Bagaimana mungkin di saat banyak usaha warnet yang ada dia bisa sampai dapat omzet sampe 100 ribu?. Obrolan berhenti disini.

Saat saya memandang wajahnya, tampak bekas sebuah luka di keningnya. Kemudian saya coba bertanya mengenai luka yang ada di keningnya. Dia menjawab akibat kecelakaan yang dialaminya. Ceritanya begini.

Siang itu dia dari Surabaya hendak ke Malang karena ada suatu urusan. Sampai di daerah pandaan – Pasuruan, dia mendengar suara adzan dzuhur sudah berkumandang. Sempat dia mengucapkan kalimat “sebentar ah, nanggung, nanti sekalian sholat dzuhur di Malang. Mumpung jalanan sepi dan tidak macet”. Selang beberap menit kemudian dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depannya. Akhir cerita akhirnya dia berurusan dengan pihak berwenang apalagi si korban meninggal dunia. Sempat dia mendekam di tahanan gara-gara kasus kecelakaan tadi.

Akhir cerita, untuk menyelesaikan permasalahan kecelakaan tadi dia menghabiskan dana tidak kurang dari 90 juta. Selain untuk menyantuni keluarga si korban kecelakaan, uang tersebut juga digunakan untuk menebus kendaraan yang ditahan sebagai barang bukti. Coba anda bayangkan seberapa banyak uang tersebut. Namun si anwar sangat bersyukur karena dia hanya kehilangan 90 juta.

Mendengar penuturannya saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian anwar melanjutkan ceritanya. Ternyata dia melakukan satu kesalahan fatal dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan tersebut. Gara-gara dia menunda waktu sholat dzuhur di perjalanan. Lalu saya bertanya, memang salah ya menunda waktu sholat apalagi sedang dalam perjalanan?

Anwar menjawab “Mas... jika anda memanggil anak anda satu kali kemudian anak anda datang, apakah anda senang atau marah?”. Saya menjawab “senang”. Lalu dia bertanya kembali “kalo anda memanggil anak anda tetapi si anak bilang, sebentar yah, masing sibuk neh, bagaimana perasaan anda?”. Saya jawab lagi “ya kesel mas, masak anak dipanggil bapaknya malah ngasih tempo waktu”.

Kemudian si Anwar kembali bertanya kepada saya “Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya mas?”

Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, karena faktanya selama saya bekerja, meskipun terdengar suara adzan, saya selalu tidak sholat tepat waktu”. Lalu saya bertanya kepada anda para pembaca..

“Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya?”

Do'a dari orang muslim untuk muslim lainnya

Do'a dari orang muslim untuk muslim lainnya itu ternyata bukan lah hal main-main, yang bisa didapatkan dengan mudah.

Do'a itu bentuk pahala bonus dari Allah bagi hamba-Nya yang shaleh dan penyebar kebaikan dalam kehidupan.

Kita tidak akan bisa mendo'akan kebaikan untuk orang yang tidak pantas mendapatkannya. Hati terasa berat mengirimkan do'a untuk orang yang tidak punya prestasi kebaikan untuk orang lain. Apalagi mengajak atau memaksa orang lain mengirimkan do'a.

Lebih-lebih lagi bila dia seorang yang justru menebar kejahatan dalam kehidupan. Bukannya do'a kebaikan yang akan dikirimkan, malah barangkali laknat dan do'a keburukan yang dipanjatkan untuk mereka.

Kalau sudah berdo'a, nama-nama orang baik muncul dalam file saya untuk dido'akan. Bila lupa mendo'akan ada rasa bersalah dalam hati.

Sekalipun nama orang jahat muncul, lidah dan hati saya tidak mampu mengucapkan do'a kebaikan untuk mereka. Sekalipun mulut tidak berucap laknat, hati tidak bisa ditahan untuk mengutuk.

Sebagai contoh, nama Erdogan, Habibie dan pemimpin semacamnya sering muncul secara lembut memenuhi rongga hati supaya dido'akan. Lidahpun dengan suka rela berucap kebaikan.

Sayangnya, sekalipun nama pemimpin negeri di balik samudera dan semodelnya muncul dalam hati, bahkan ada yang mengingatkan untuk dido'akan, nurani berat sekali untuk mengirimkan do'a. Saya berusaha mengalihkan ingatan sebelum hati meraung untuk melaknat.

Do'a ternyata bukan hal main-main yang datang begitu saja. Dia buah kebaikan yang menyebar kepada banyak orang.

Kita perlu merenung, bila nama kita disebut orang, apa yang akan berteriak di dalam hati pendengar? Apakah do'a kebaikan atau justru laknat supaya celaka.

Mendingan hati manusia diam saja dari pada mengutuk.

Do'a tidak bisa dipaksakan, dia datang dari kasih sayang Allah dan cinta-Nya.

Sekalipun ada do'a kebaikan untuk kita, apakah do'a itu keluar dari lidah dan hati orang yang juga baik dalam pandangan Allah?

Dan jangan cemas bila laknat untuk diri kita yang berasal dari lidah dan hati yang terlaknat. Insyaallah, dia akan kembali kepada si pengirim.

Ya Allah, ringankan lidah dan hati hamba-hamba-Mu yang shaleh untuk mendo'an kebaikan dunia dan akhirat untuk kami.