Saturday, February 28, 2015

Kisah Pencuri Saleh

Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran danketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Sang ibu heran dengan pertanyaan anaknya yang tiba-tiba itu. Ia pun balik bertanya, "Apa urusanmu hingga ingin mengetahui pekerjaan ayahmu?" Ungkapan sang ibu itu menunjukkan bahwa ia enggan menjawab pertanyaan anaknya.

Pemuda itu terus-menerus memaksa ibunya agar mengungkapkan pekerjaan ayahnya. Lama-kelamaan sang ibu tidak tahan menanggapi desakan anaknya. Dengan nada tinggi, sang ibu berkata, "Ketahuilah bahwa ayahmu dulu adalah seorang pencuri!"

Bukan kecewa yang dirasakan pemuda itu ketika mengetahui ayahnya adalah pencuri, melainkan hasrat yang menggebu-gebu untuk mengikuti jejak ayahnya sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh gurunya.

Pemuda itu menjelaskan kepada ibunya, "Aku diperintahkan oleh guruku untuk bekerja seperti pekerjaan ayahku tanpa meninggalkan kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalambekerja."

"Hai, Anakku! Apakah dalam mencuri ada ketakwaan?" sela ibunya.

Anaknya menjawab dengan keluguannya, "Ya, begitulah kata guruku."

Ia pun belajar bagaimana menjalankan profesi sebagai pencuri. Ketika ilmu teknik mencuri yang didalaminya sudah cukup. Ia pun memutuskan untuk beraksi melaksanakan perintah sang guru.

Seusai shalat Isya' dan semua orang tertidur lelap, ia pun keluar rumah untuk menjalankan aksi perdananya. Ia selalu ingat pesan gurunya untuk membawa kejujuran dan ketakwaan saat bekerja.

Rumah yang diincar pertama kali adalah yang terdekat dengan rumahnya, yaitu rumah tetangganya sendiri. Namun, ia ingat bahwa mengganggu tetangga bukanlah pekerjaan takwa. Kemudian ia urungkan niatnya untuk mencuri di rumah tetangganya.

Begitu pula, ketika hendak mencuri di rumah anak yatim, ia berpikir, "Allah memperingatkan untuk tidak memakan harta anak yatim." Ia pun pergi mencari rumah berikutnya.

Sambil berjalan, ia merenung, ternyata tidak mudah untuk menjadi pencuri yang bertakwa. Bagaimana pun juga mengambil harta orang lain tidak diperbolehkan agama. Akan tetapi, perintah sang guru harus dilaksanakan. Tidak boleh berputus asa!

Langkahnya terhenti di sebuah rumah besar nan megah. Konon pemilik rumah itu terkenal memiliki harta berlimpah melebihi kebutuhannya. Dengan keterbatasan ilmunya, ia beranggapan bahwa tidak mengapa jika mengambil zakat dari kekayaan orang tersebut. Toh, bagian zakat itu bukan hak si empunya kekayaan, tetapi hak orang miskin.

Tekad yang bulat mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah besar yang tidak berpenjaga tersebut. Satu per satu kamar ia selidiki untuk menemukan tempat penyimpanan harta.

Akhirnya, ia sampai di sebuah kamar besar dan didapatinya sebuah kotak besar berisi emas, perak, dan uang tunai. Ia kumpulkan buku-buku catatan yang berisi laporan keuangan si pedagang kaya tersebut. Dengan lentera kecil yang dibawanya, ia mulai menghitung zakat yang harus dikeluarkan oleh orang kaya itu.

Keahlian dalam hal keuangan, pembukuan, dan pembagian harta ia kerahkan di sana. Dikarenakan begitu banyaknya perhitungan yang harus diselesaikan, ia pun lupa waktu. Fajar sudah menyingsing pertanda tiba waktu shalat Subuh.

Sang tuan rumah pun telah bangun dari lelapnya untuk melaksanakan shalat Subuh. Alangkah terkejutnya ketika kamar tempat penyimpanan hartanya telah terbuka. Apalagi ia mendapati seseorang tengah asyik dengan buku-buku catatannya di bawah cahaya lentera kecil.

Dengan lantang, si tuan rumah menghardik pemuda tersebut, "Hai! Siapa kau!"

Sang pemuda terkesiap mendengar teguran tersebut. Saat disadarinya hari sudah hampir terang, ia bergegas untuk melaksanakan shalat. Ia berkata kepada si pemilik rumah, "Maaf, akan saya jelaskan nanti. Tapi, izinkan saya untuk shalat Subuh terlebih dahulu."

Akhirnya, mereka berdua pun shalat Subuh berjemaah dengan si tuan rumah sebagai imamnya. Usai shalat, pemuda itu mengaku kepada tuan rumah, "Saya pencuri."

Si tuan rumah makin bertambah keheranannya, "Lantas apa yang kau lakukan dengan buku-buku catatanku?" tanya tuan rumah.

"Aku sedang menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Ini hasilnya," jawab pemuda itu sambil menyodorkan hasil perhitungannya.

Ia pun menasihati si tuan rumah tentang keutamaan zakat. Tiada kemarahan terlihat di wajah si tuan rumah. Ia malah terkagum-kagum akan kejujuran serta kepandaian dan ketepatan si pencuri dalam berhitung. Selain itu, ia jadi mengetahui tentang pentingnya mengeluarkan zakat.

Akhirnya, si tuan rumah mengangkatnya menjadi sekretaris dan juru hitung pribadinya. Ia pun menikahkan sang pemuda dengan putrinya. Ibu si pemuda tinggal bersama mereka. Berkat kejujuran dan ketakwaan yang dibawa sang pemuda dalam perbuatannya,kebahagiaan mendatangi dirinya dan orang lain.

Bekerjalah dengan Cinta

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.

Wanita itu memang tidak terlalu rentan, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?

* * *

Selalu…

Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.

Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.

Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.

Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.

Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.

Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.

Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.

Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…

Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran). Wallahu a’lamu bish-shawaab.
-Abu Aufa-

Catatan:
- Kokusai kouryuu kaikan: International House
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Ojichan: pria berumur, setengah tua



Kisah 1001 Kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups

Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?

Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?

ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?

Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.

Semoga Allah Memaafkan Prasangka Saya!

KEJADIAN ini terjadi saat saya sedang menaiki kereta arah Depok Jakarta Kota beberapa minggu lalu. Kala itu, sepasang suami istri, entah siapa namanya, terlihat begitu berantakan dan sedikit kumal. Mohon maaf, bahkan badan keduanya mengeluarkan bau kurang sedap. Aroma ini bahkan membuat seorang Ibu yang awalnya duduk di dekatnya terpaksa harus keluar dari kereta dan muntah sejadi-jadinya. Mungkin karena tidak tahan dengan baunya.
Awalnya saya berfikir bahwa kedua pasangan sepuh (tua) ini adalah seorang pengemis atau gelandangan. Namun rupanya Allah menghentakkan hati saya dengan cara pembelajaran sangat luar biasa hari itu.

Saya tidak akan bercerita mengenai bagaimana kisah cinta pasangan ini, ikatan cinta keduanya, bagaimana mereka bersama mengarungi masa-masa tua atau dengan kisah-kisah romantis mereka menikmati hidup bersama.

Bukan itu yang akan saya ceritakan. Lebih itu dan jauh lebih indah dari itu.

Selama perjalanan, yang kala itu saya ditemani sebungkus kentang goreng, tak henti-hentinyanya memandangi sepasang suami istri ini.

Sebenarnya saya merasa terganggu karena bau yang dibawa kedua orangtua itu sungguh sangat menyengat. Tak dapat saya gambarkan baunya seperti apa, saya hanya dapat memastikan bahwa saat itu kepala saya sangat pusing akibat baunya. Tidak hanya saya, bahkan orang lain yang berada di dekatnyapun tidak tahan.

Tiba-tiba datang seorang pemuda dengan gaya sangat stylish sambil menggunakan headsetduduk tepat di samping sang pria yang memakai baju putih.

Sesaat ketika melihat pemuda itu perawakannya sangat mirip dengan teman saya di kampus Unhas, Ujung Pandang. Entah apa motivasi pemuda itu duduk tepat disamping bapak tersebut sedangkan setiap orang yang berada dalam gerbong kereta berusaha menjauhi pasangan suami istri itu karena tak tahan baunya.

Hingga mulailah terdengar pemuda itu menanyakan beberapa hal kepada bapak tersebut. Nama bapak siapa?

Tinggal di mana? Mau kemana? Punya anak berapa?

Sungguh saya dibuat terkagum dengan perawakan pemuda itu. Walaupun terlihat selengean (cuek) namun sungguh ia satu dari beberapa orang hebat yang pernah kemui selama ini.

Banyak hal yang membuat saya yakin bahwa pemuda itu adalah orang hebat. Kala itu, kereta sudah hampir tiba di stasiun Gondangdia, stasiun tujuan pasangan suami istri ini.

Kulihat pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengambil beberapa uang berwarna merah (Rp 100.000) dalam jumlah yang sangat banyak, sangat banyak namun saya tak tahu pastinya.

“Pak, saya punya sedikit rejeki buat bapak dan ibu mungkin bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak dan ibu beberapa hari ke depan,” ujarnya dengan nada sangat sopan.

Tahukah pembaca, apa jawaban bapak itu? Inilah jawabannya;

“Sungguh agamaku melarangku menjadi seorang pengemis yang menengadahkan tangan menunggu bantuan uang dari situan kaya raya, kuyakin tuhanku maha kaya, sangat kaya. Saya tahu niat Ananda adalah untuk membantu kami, dan sungguh saya yakin bahwa Allah-lah yang telah mengirimmu kepada kami, namun mohon maaf nak, saya tak bisa menerima itu. Saya tak ingin sebuah kisah dari perjalanan perjuangan hidup kami mencari rezeki, terdapat sebuah kisah bahwa kami menerima uang dari orang lain dikarenakan kasihan dengan kondisi kami. Saya yakin nak, sebentar lagi Allah akan memberikan rezeki bagi kami dengan cara yang lebih baik dari ini. Ya, saya yakin sebentar lagi nak, sebentar lagi.”

Kemudian bapak ini melangkahkan kakinya turun ke stasiun Gondangdia bersama istrinya.

Semoga Allah memaafkan prasangka saya yang menganggap bapak dan Ibu itu adalah seorang pengemis. Sungguh mereka sebenar-benarnya hamba Allah yang bertebaran di muka bumi dan mencari rezeki Allah layaknya seorang pahlawan.

Pengalaman ini sontak menambah keyakinan saya bahwa rezeki Allah sungguh sangat dekat. InsyaAllah.*/ cerita ini dikisahkan Wahyu Hidayat Ar Rasyid dan diedit redaksi

Kemuliaan Sang Nenek di Mapolda Jatim

Oleh: Yusron Aminulloh

KALAU Anda sempat berada di markas Kepolosian Daerah Jawa Timur, di jalan A Yani Surabaya. Carilah seorang nenek mulia. Nenek usia 87 tahun itu, dulu, karyawan sipil di Mapolda Jatim, tapi hari hari ini, sang nenek berjualan kue. Ia jam 06.00 – 12.00 berada di sana untuk berjualan kue. Ia, pedagang yang disayang banyak orang, bukan saja karena mantan karyawan di situ, tetapi keteguhan nenek ini, memberi inspirasi banyak orang.

Sebut saja namanya Supartini, Nenek ini menjadi potret ibu sejati, pejuang kehidupan. Bahkan sikap kerja keras. Apalagi kalau kita melihat di jalan raya, banyak ibu-ibu masih muda, tetapi menjadi peminta minta. Tanpa malu, mereka menengadahkan tangan, dan menikmati hari hari hidupnya dengan belas kasihan orang. Meski peminta minta ini, secara ekonomi diam-diam lebih mapan dibanding para pekerja keras lainnya. Namun mereka menihilkan harga dirinya habis habisan.

Maka, membaca profil nenek mulia ini, harusnya menjadi tamparan bagi ibu ibu muda yang tidak mau mengabdikan hidupnya untuk kehidupan. Dalam sebuah dialog, nenek ini masih tangkas menjawab setiap pertanyaan dengan bahasa yang lugas.

“Nenek usia berapa ? Kok masih kerja?”

“87 Tahun nak. Saya masih kuat kok.”

“Bukankah nenek pensiunan karyawan POLRI, dan punya gaji?”

“Ya nak, bahkan gaji saya cukup, karena saya sekolahnya hanya SR, pensiun saya Rp 1,6 juta,”

“Lho nek, bukankah gaji sudah cukup untuk hidup nenek?”

“Ya sangat cukup. Tapi saya kerja bukan semata cari uang, tetapi mencari kegiatan,”

“Kalau sudah tua seperti nenek, mencari kegiatan itu ya ke masjid nek, masak kerja,”

“Wah, kalau ke masjid itu nomor satu. Tetapi kerja ini kan siang dan tidak mengganggu sama sekali ibdah saya. Saya jualan ini biar tidak melamun dan badan menjadi sehat. Kalau pagi saya ikut naik praoto (truk polisi) saat berangkat dan pulang naik angkutan kota. Alhamdulillah nambah sehat.”

Sebuah dialog sederhana dan menarik. Sebuah kesederhanaan, memaknai usia dengan kerja,bukan bicara. Dengan langkah, bukan mengeluh, dengan positif dan tanpa energi negatif sedikitpun. Bahkan, dalam dialog berikutnya menjadi sebuah getaran jiwa.

“Kue yang nenek jual ini membuat apa membeli ke orang nek ?”

“Oh saya tidak membuat, tetapi membeli di tetangga saya .”

“Berapa nenek beli ?

“Rp 4.000,- nak.”

“Lho kok nenek jual Rp 5.000,-. Untungnya kecil. Harusnya nenek jual Rp 6.000,-. Kan nenek perlu transport, dll,”

“Kasihan anak anak (polisi dan karyawan polda, maksudnya). “

“Kenapa kasihan nek ?”

“Ya mereka kan bekerja untuk anak anaknya.Biar uangnya dikumpulkan, bisa untuk anak anaknya sekolah, tidak habis untuk beli kue. Jadi saya cari untung kecil saja, gak apa apa. Sudah cukup.”

Sebuah jawaban menghentakkan hati. Nenek ini bukan memberikan pelajaran kepada kita, betapa tidak hanya memikirkan dirinya, namun juga memikirkan orang lain (konsumenya). Beliau seorang pedagang yang memikirkan anak-anak pelanggannya, memikirkan keluarga orang yang dilayani dengan keikhlasannya.

Saya memberikan tiga catatan atas kisah nyata yang mulia ini.

Pertama, bahwa hidup itu yang penting endingnya. Kemuliaan nenek yang sudah bekerja keras selama 40 tahun, ternyata hari hari senja—saat pensiun—tidak dipakai untuk sekedar diam dan diam diri. Namun ia tetap bekerja, sehingga tidak ada waktu melamun.

Akibat langkahnya setiap hari,  ia pergi jam 06.00 dan pulang jam 12.00 tiap hari dengan jarak jauh, rumanya sekitar Pacarkeling menuju Mapolda A Yani Surabaya—sekitar 16 Km— ia mendapat keberkahan kesehatan. Sementara banyak orang lain, usia 60 hingga 70 tahun, saat pensiun, rasanya hari demi hari berat dijalani karena penyakit yang datang satu persatu.

Kedua, yang dilakukan nenek mulia ini tidak semata mata mencari uang. Tetapi mencari kegiatan. Meski tidak seberapa yang ia dapat setiap hariya, tetapi iamerasa bahagia. Coba lihat dialog diatas. Ia tidak mau mencari keuntungan banyak, karena ia memikirkan konsumennya yang punya anak dan keluarga. Sebuah langkah kongkrit bershadaqah dengan cara yang indah.

Sementara banyak orang yang secara ekonomi cukup. Di saat usia senja, selalu tidak mau berbagi secara ekonomi, karena merasa tidak punya penghasilan lagi. Bahkan, ketika diajak untuk bekerja sosial, mereka enggan juga karena fisik sudah terbatas. Bandingkan dengan nenek usia 87 tahun ini, tentu kita patut malu.

Ketiga, ketika sang nenek ditegur bahwa masa tua adalah untuk ibadah. Dengan tegas nenek ini menjawab bahwa ke masjid adalah nomor satu. Ini artinya, nenek ini boleh dibilang ahli ibadah. Bahkan kesempurnaan ibadahnya diteruskan dengan bekerja dan bekerja.

Dalam bahasa KH A.Mustofa Bisri, langkah nenek ini berangkat bekerja, bukan hanya bekerja. Tetapi itu adalah berdzikir. Ia berdzikir kepada Allah dengan caranya. Yakni bekerja memuliakan orang lain. Ibadahnya menyatu dalam dirinya. Ia tidak memakai teori, namun ia mempraktekkan. Ia menyatukan dirinya dalam keabadian menuju SurgaNya.

Pingin rasanya saya mencium erat erat ibu, nenek dan wanita mulia ini.*

Penulis adalah pendiri MEP Training Cente

Kisah Nyata: Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!

Madinah National Hospital [ilustrasi]

AKU hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.

Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.

“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,”  kata petugas itu datar.

Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan,handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]

Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.

Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.

“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.

Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.

“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk  membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.

Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.

Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.

Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa,  nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.

Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.

Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.

Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.

Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.

Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.

Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan

Ya Allah, Izinkah Aku Mengenakan “Mahkota” Padanya Kelak

SATU hal yang selalu saya syukuri, aku dan adik-adikku punya kedekatan yang akrab dengan abah (panggilan ayah kami). Seiring waktu, kini abah memiliki 10 orang anak, umurnya mulai menginjak separuh abad lamanya. Sebuah usia yang tak bisa dibilang masih muda.

Abah, sosok lelaki pekerja keras dengan segudang kesibukan yang tak bisa kutuang dalam kata-kata. Demikian aku menyifatinya. Pekerjaan utamanya adalah mengurus dakwah atau biasa disebut da’i. Saat ini abah juga lanjut kuliah Pasca Sarjana Program Doktoral di sebuah kampus Islam.

Mengungkap kesibukan abah adalah hal konyol. Tak jarang hal itu menjadi permainan tebak-tebakanku bersama adik-adik di malam hari.

“Ayo, siapa yang punya tebakan benar. Abah sedang apa dan di mana sekarang?” Tanyaku memancing permainan. “Abah makan apa dan tidur di mana malam ini?” Kasyful Anwar, adikku yang kedua, ikut bertanya meramaikan suasana.

Tentu saja, kami harus mengingat jawaban yang ada. Sebab jawaban yang benar hanya bisa “diputuskan” setelah abah pulang ke rumah nantinya. Itupun tak ada yang tahu, kapan abah bisa pulang ke rumah.

Kadang, pekerjaannya sebagai da’i mengharuskan abah bercengkrama dengan persoalan umat secara langsung. Dari satu daerah pindah ke daerah berikutnya. Ah, memikirkannnya saja sudah melelahkan, bagaimana dengan abah yang melakoninya? “Lebih baik tidur saja sekarang,” ucapku mengakhiri permainan tebak-tebakan.

Iya, abah selalu istimewa buat kami sepuluh orang anaknya. Suatu malam selepas Maghrib, kami sekeluarga besar sedang berkumpul di rumah kami yang sederhana. Tak ada tema tertentu, semua yang hadir bebas berceloteh dan berbicara apa saja. Tiba-tiba, abah memberi isyarat diam kepada kami semua.

“Abah punya rahasia,” pancing abah tersenyum.

Mendengar kata rahasia, tanpa dikomando kami semua segera memilih diam, siap menyimak apa gerangan rahasia abah tersebut.

“Meski abah sudah tua, tapi abah tetap memendam cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an seperti kalian semua. Hafalannya harus khatam, bukan setengah-setengah lagi,” ungkap abah membongkar rahasia.

“Karena punya banyak tugas, abah coba menghafal sedikit demi sedikit, ayat per ayat. Paling tidak, bisa hafal satu juz selama tiga atau empat bulan sekali,” papar abah memberi gambaran tentang the secret misson itu.

“Jika Allah berkehendak memberi umur 10 tahun lebih, berarti abah bisa selesai 30 juz sebelum meninggal nanti. Doakan abah ya, Nak!” pinta abah yang langsung diamini oleh ummi dan kami semua.

Jujur, saat itu, aku tak kuasa menyembunyikan airmata. Hidup abah mungkin tidak seberuntung anak-anaknya. Abah bukan dibesarkan dalam lingkungan agama. Abah juga tak pernah berstatus “santri” di sebuah pesantren. Tak seperti anak-anaknya yang sejak dini sudah mengecap didikan ala pesantren.

Menurut abah, semangat keislaman itu baru tumbuh sejak aktif berorganisasi kala menjadi mahasiswa dulu. Ada rasa haru yang menggemuruh dalam dadaku mendengar tutur abah yang begitu jujur dan merendah. Orangtua yang ingin mengikuti jejak anak-anaknya, demikian kalimat yang sering diulang abah belakangan ini.

Ah,  ‘orangtua yang ingin mengikuti jejak anak-anaknya’ bagiku, kalimat ini cukup menggelitik. Bukankah setiap kebaikan anak adalah poin keberkahan buat orangtua itu sendiri?

Alhamdulillah, di antara kami bersaudara, ada beberapa adik yang sudah menyelesaikan hafalan 30 juz secara lengkap. Selebihnya, mereka semua sedang berproses dengan jumlah dan tingkatan hafalan al-Qur’an yang berbeda-beda.

Jika Kasyful, adikku, sedang di rumah. Tak sungkan, abah memilih mundur selangkah ke belakang dan mempersilahkan putra keduanya itu mengambil posisinya sebagai imam shalat. Seolah abah memberi isyarat, bahwa kemuliaan seseorang itu diukur sebanding dengan al-Quran.

“Silakan maju, abah biar di belakang saja,” ucap abah kepada adikku.

Masih berselimut haru memikirkan ucapan abah Maghrib itu, tiba-tiba ingatanku tertumbuk pada peristiwa yang lain. Dengan bangga, abah pernah menceritakan kemajuan hapalan al-Qur’annya kepada kami semua. Saat itu rupanya abah baru saja menyelesaikan surah al-Muthaffifin yang disimak dan diuji oleh adikku yang kelima.

Menurut abah, surah ini yang paling susah ia hafal di juz ke-30.

“Alhamdulillah, tuntas juga akhirnya Juz Amma ini. Sebab di sana ada al-Muthaffifin.” Jelas abah membagi alasan kebahagiaannya.

Sebenarnya, abah bukan tak punya hapalan sama sekali. Beberapa ayat dan surah abah hafal secara berserak dalam al-Qur’an. Ini juga alasan, mengapa abah surprised atas keberhasilan menuntaskan satu juz secara penuh. Abah tak malu mengakui hal itu, padahal di saat yang sama, adikku yang ketujuh sudah melewati Juz Amma itu dua tahun yang lalu. Sekali lagi, abah sukses memaksaku menitikkan kembali air mata. Entah untuk ke berapa kalinya aku menangis buatnya. Aku sendiri tak pernah ingin menghitungnya.

Kadangkala aku berpikir, apa alasan abahngotot ingin juga menjadi penghafal Al-Qur’an? Bukankah seusi dan kondisinya “hukum” itu berubah menjadi tak wajib?

Bagiku yang mengenalnya, abah sudah terlalu lelah dengan kesibukan yang tak henti menjejalinya. Biarlah kami sepuluh orang anaknya ini mengikat janji bersama. Membelikan mahkota buat ayah kami tercinta di surga kelak. Biarlah kami sepuluh orang anaknya ini yang bergantian mengenakan mahkota tersebut di atas kepala orang yang tak henti kami berdoa untuknya.

Dalam diam aku masih terus meraba, boleh jadi abah tak puas “hanya” menjadi istimewa bagi keluarga yang mencintainya. Tapi abah juga ingin status yang lebih istimewa lagi. Menjadi “Ahlullah” di sisi Rabbnya nanti .

“Yaa Allah, mudahkan segala urusan orang mencintai kami dalam kebaikan. Sampaikan kepada mereka untuk setiap cita-cita mulia. Kumpulkan kami kembali di firdaus-Mu yang tertinggi sebagaimana Engkau pernah mengumpulkan kami di bumi.”*/Diceritakan Nurul Qolbi