Tuesday, August 11, 2015

Rezeki Yang Berlimpah-Limpah

Anak itu rezeki. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya berlimpah-limpah, tumpah-ruah, tercurah laksana air bah! Percayalah, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Yah, mengayakan. Kalau punya anak? Makin mengayakan !!!

Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya. (Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah?) Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, masih setengah enaknya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam. Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum menikah, mari didoakan ya. Semoga segera. Aamiin.

WINNER !!!

 Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka.

Misalnya saja:

-       -   Sakit, tapi masih bisa tersenyum.

-       -   Gagal, tapi masih bisa bahagia.

-       -   Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.

-       -   Miskin, tapi masih mau bersedekah.

Tidak percaya? Dengarkan saja percakapan ini:

            “Bisnisnya rugi ya, Pak?”

            “Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”

            “Lha, itu tokonya sampai tutup!”

            “Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”

            “Relokasi? Memangnya pindah ke mana, Pak?”

            “Nah, itu yang belum tahu, Mas. Hehehe!”

Atau dengarkan percakapan ini:

            “Kariernya mentok ya, Pak?”

            “Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”

            “Tapi perasaan, kok lama banget?”

            “Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”

“Terus, kapan naiknya?”

“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani saja sabar kok. Hehehe!”

Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’ (Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau Anda belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu Anda sudah berhasil, maka Anda akan dicap jenius).Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari sakit, kegagalan, kebangkrutan, dan kemiskinan. Di sini mereka tidak perlu menyimak motivator atau trainer. Tidak perlu mengikuti in house seminar atau in house training. Karena mereka berhasil melakukan self-motivating.

Ketika hati telah diliputi cinta, maka senyum, syukur, dan sedekah adalah perkara yang mudah. Iya, mudah. Apapun kondisinya. Dan disadari atau tidak, orang rata-rata hanya bisa tersenyum ketika ia sudah sembuh. Orang rata-rata hanya bisa bersyukur dan bersedekah ketika ia sudah berhasil. Ini kurang bijak, menurut saya. Alih-alih begitu, #SangPemenang 

malah bersikap terbalik.