Kumpulan cerita, kisah inspiratif yang layak menjadi renungan agar hidup menjadi lebih bermakna dan lebih berguna bagi diri, keluarga dan sesama untuk INDONESIA EMAS yang Lebih Baik.
Saturday, October 24, 2015
Sunday, October 18, 2015
Tak ada jalan kembali
Sering kali, kita “dimanjakan” oleh sebuah pilihan. Misalnya, saat memilih menjadi wirausahawan dengan keluar dari pekerjaan, kita “dimanjakan” dengan pikiran, “Kalau tak bisa sukses, perusahaan lama pasti akan menerimaku lagi.” Akibatnya, pikiran yang ada di “zona nyaman” itu justru membuat kita kurang bisa maksimal dalam menjalankan usaha. Beda dengan orang yang dipecat dari pekerjaan. Karena kepepet, ia akan mati-mati berjuang. Sebab, jika tak sukses, ia akan kesulitan meneruskan kehidupannya.
Banyak karya besar dunia yang justru muncul akibat “kepepet”. Karena tak ada jalan kembali, dan satu-satunya pilihan adalah maju ke depan, justru segenap potensi menjadi tercurahkan. Hal ini mengingatkan kita pada kisah salah satu sosok inspiratif yaitu mantan pemimpin redaksi Majalah Elle di Perancis. Jean-Dominique Bauby. Sang pemimpin redaksi majalah fashion kenamaan itu meninggal pada tahun 1996 silam di usia 45 tahun. Namun, sebelum meninggal, ia menuliskan catatan yang diberi judul Le Scaphandre et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).
Hebatnya, buku itu “ditulis” dalam keadaan lumpuh total! Ya, Jean tak punya “jalan kembali” ke kariernya yang cemerlang sebagai penulis andal dan pemimpin redaksi majalah Elle. Itu semua disebabkan oleh penyakit yang disebut locked-in syndrome, yang ia sebut dirinya “seperti pikiran di dalam botol”. Ia masih bisa berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Itulah satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dalam kondisi “tak ada jalan kembali” itu, Jean “menulis” dengan kedipan kelopak matanya. “Penerjemahnya”, Claude Mendibil, menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. Salah satunya, ia menulis: “Saya akan jadi pria paling bahagia di dunia, jika saya bisa dengan mudah menelan ludah yang memenuhi mulut saya.” Bayangkan, penderitaan seperti apa yang dialaminya. Namun, dengan kondisi itu, ia menulis buku terakhir yang menginspirasi dunia. Ia bahkan juga mendirikan asosiasi yang membantu orang-orang yang menderita seperti dirinya. Ia terus maju untuk menjadi “motivator” dengan caranya. Karena itu, sejak ia meninggal—yakni tiga hari seusai buku itu dicetak—kisah perjuangannya mampu menginspirasi banyak orang. Itulah sepenggal kisah orang yang “tak punya jalan kembali”, namun ia mampu terus maju dan “memenuhi” takdirnya, sebagai inspirator dunia.
yakinlah, kita pasti punya sejuta potensi yang masih bisa dikerahkan untuk menjadikan hidup kita penuh kebaikan. Jika Jean bisa melakukan sesuatu yang penuh arti di ujung hidupnya, kita pun bisa melangkah lebih pasti untuk mencapai sukses yang kita damba. Salah satu caranya: “jangan memikirkan jalan kembali”. Tapi, fokuskan pada apa yang bisa kita maksimalkan untuk melangkah lebih baik ke depan.
Terus melangkah, semoga hidup kita akan makin penuh berkah.
Monday, October 5, 2015
KISAH TENTANG BAN
Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka. "Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?" tanya si bocah dengan penasaran.
Sang ayah tersenyum. "Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita," katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. "Belajar dari ban?" Mata sang anak membelalak. "Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?"
Sang ayah tertawa. "Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya. Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat."
Si bocah mulai serius. "Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?"
"Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan. Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung. Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?" tanya sang ayah.
"Aku tahu, pasti ban ya, Yah?" jawab sang bocah antusias.
"Benar sekali. Yang ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat," ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.
"Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?"
"Wow, benar juga Yah," puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.
"Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Dia biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya."
"Maksud ayah apa?" tanya si bocah bingung.
"Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?" tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah.
"Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?"
"Persis," jawab sang ayah. "Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu. Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor."
"Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku."
Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas. "Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan."
Sang anak mengangguk-angguk.
Sang ayah menuntaskan penjelasannya, "Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong dan merasa hebat sendiri, dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita.."
Tetap semangat..💪💪