Saturday, September 26, 2015

Gema Kehidupan




saat liburan sekolah, seorang ayah untuk pertama kalinya mengajak anaknya yang berumur sepuluh tahun pergi berlibur ke daerah pegunungan. Tempat yang dituju itu ternyata sangat indah, berhawa sejuk, dan membawa suasana yang hening dan tenteram. Banyak pohon menjulang tinggi di antara bukit-bukit dan pegunungan. Ayah dan anak itu berjalan-jalan menikmati eloknya pemandangan. Saking senangnya, sesekali bocah kecil itu melompat-lompat dan berlari-lari kecil ke sana kemari.

Suatu ketika, karena kurang hati-hati saat berlari-larian, anak itu tergelincir jatuh. "Aduuuuuh...!" teriaknya kesakitan. Dan sesaat hampir bersamaan, jelas terdengar suara, "Aduuuuh...!" berulang-ulang di sisi pegunungan. Anak itu terheran-heran. Penasaran dan ingin tahu dari mana asal teriakan yang menirukan suaranya tadi, si anak berteriak lagi dengan suara lebih keras.

"Hai... siapa kamuuuu...?!"

Sesaat kemudian, ia menerima jawaban yang hampir sama kerasnya, "Hai....siapa kamuuuu...?!"

Setelah itu, suasana kembali hening dan hanya desau angin yang terdengar. Anak kecil itu makin gusar karena hanya mendengar suaranya ditirukan, tetapi tidak melihat orang yang menirukan suaranya. Lalu dengan marah sekali ia berteriak sekeras-kerasnya, "Pengecut kamu...!"

Dan, sesaat kemudian ia pun langsung menerima jawaban yang sama nadanya, "Pengecut kamu...!"

 

Dengan pandangan yang heran bercampur kesal, anak itu menatap ayahnya. "Ayah, siapa orang yang iseng menirukan teriakan-teriakanku tadi? Kenapa semua ucapanku dia tiru?" tanya anak itu.

Ayahnya tersenyum bijak dan berkata, "Anakku, perhatikan baik-baik!" Kemudian, sang ayah berteriak dengan keras sekali ke arah pegunungan, "Kamu hebat...!"

Terdengar jawaban bunyi yang sama kerasnya dan berulang, "Kamu hebat...!"

Melihat roman muka anaknya yang masih keheranan, lelaki itu kembali berteriak keras-keras. "Kamu luar biasa...!" Dan sama seperti teriakan-teriakan sebelumnya yang diikuti dengan suara yang sama. "Kamu luar biasa...!"

Anak itu tetap saja keheranan sambil terus memandangi ayahnya. Tampak sekali ia tak sabar menunggu penjelasan ayahnya. Sang ayah pun berkata, "Wajar saja kau heran, anakku. Ini pengalaman pertamamu berada di tempat yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Orang menyebut suara yang memantul balik tadi sebagai gema. Itulah pantulan suara."

Sang ayah melanjutkan penjelasannya, "Sama dengan gema tadi, anakku. Kehidupan ini juga akan selalu memantulkan kembali apa pun yang kita berikan kepadanya. Maksudnya, apa pun yang kamu pikirkan, katakan, dan lakukan, maka akan seperti itu pula hasil yang kau dapat. Jika setiap saat kamu berpikir positif, mengucapkan kata-kata bijak, selalu berbuat kebaikan, rajin belajar dan disiplin, maka hidup akan menggemakan begitu banyak kebaikan ke dalam hidupmu.

Kamu akan mendapat penghormatan karena kecakapanmu berpikir, mendapat penghargaan karena kepandaianmu berbicara, juga mendapat kasih dan pertolongan dari sesama karena kebaikanmu. Dengan demikian kamu akan mendapatkan kehidupan yang sukses."


"dapat kita simpulkan bahwa hidup kita adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, dan kita lakukan. Ini sudah menjadi semacam hukum alam. Jika kita selalu berpikir negatif, penuh kekhawatiran dan kecurigaan, maka kehidupan akan memberi reaksi yang sama negatifnya kepada kita. Jika kita ingin hidup dipenuhi dengan cinta kasih, maka ciptakanlah lebih banyak cinta kasih dalam hati kita.

Jika kita ingin lebih berhasil dalam kehidupan ini, maka kita pun harus berani memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.Kesuksesan hari ini tidak tercipta karena kebetulan atau keberuntungan semata. Setiap keberhasilan pasti terwujud karena akumulasi dari usaha-usaha yang kita lakukan kemarin. Yang jelas, makna dari "gema kehidupan" adalah apa yang kita beri, itulah yang kita dapatkan. Siaplah memberi yang terbaik kepada kehidupan ini agar kehidupan memberi yang terbaik pula kepada kita " !

Monday, September 21, 2015

Menghargai Orang Lain

seorang perempuan setengah baya terlihat menggandeng anaknya memasuki sebuah taman besar yang ada di sebuah perkantoran terkenal. Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Ibu itu tampak sedang memarahi anak semata wayangnya. Mulutnya tak henti-hentinya mengomel. Tak jauh dari tempat duduk itu, ada seorang kakek tua yang tengah memotong rumput.

Tiba-tiba, ibu mengeluarkan sehelai tisu dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke arah orang tua itu. Si kakek terkejut. Ia melirik dengan pandangan heran ke arah ibu itu. Tapi, si ibu malah berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si kakek pun memungut tisu itu pelan-pelan dan lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.

Tak disangka sesaat kemudian, si ibu kembali melemparkan sehelai tisu ke arah si kakek. Sekali lagi, dalam diam si kakek mengambil tisu yang dibuang itu dan memasukkannya ke tong sampah. Si kakek kembali meneruskan pekerjaannya. Namun baru saja si kakek mengambil gunting rumput, untuk ketiga kalinya tisu jatuh di depannya. Si kakek kembali memungutinya dan melemparkan ke tong sampah. Kejadian ini berlangsung hingga 6-7 kali. Meski begitu, si kakek tidak menunjukkan ekspresi marah.

"Nah, coba kau lihat sendiri," ucap ibu itu kepada anaknya sembari menunjuk ke arah si kakek. "Kalau kamu malas belajar, setelah besar nanti kau akan jadi orang tak berguna. Cuma bisa jadi buruh pekerja kasar yang tidak terhormat seperti orang tua itu."

Si kakek dengan tenang melangkah mendekati wanita itu, "Nyonya, tempat ini bukan taman untuk umum. Taman ini cuma diperuntukkan bagi karyawan perusahaan kami. Hanya mereka yang boleh duduk di sini."

"Ya, aku tahu. Aku adalah manajer salah satu departemen di perusahaan ini! Aku kerja di gedung kantor ini."
"Boleh, saya pinjam handphone nyonya?"

Dengan berat hati, wanita itu memberikan ponselnya ke orang tua itu. Sembari melakukan itu, si ibu tak lupa mengajari anaknya, "Lihat kakek miskin ini. Ponsel saja tidak punya. Kamu harus rajin-rajin belajar, agar kelak tidak jadi seperti kakek yang tak berguna ini."

Selesai menelepon, si kakek mengembalikan ponsel itu dengan sopan. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki menghadap si kakek dengan penuh hormat. Si kakek berkata, "Sekarang aku putuskan memecat ibu ini dari perusahaan."

"Ya, Pak. Saya akan langsung bereskan."

Lalu si kakek menghampiri anak kecil itu. Sembari mengucap-usap kepalanya, ia berkata, "Nak, aku harap kau mengerti, di dunia ini yang terpenting adalah belajar menghormati orang lain." Setelah berkata begitu, si kakek melangkah perlahan menuju gedung.

Si ibu kaget bukan main dengan kejadian mendadak ini. Ia lalu bertanya kepada lelaki tadi, "Kenapa bersikap penuh hormat kepada tukang kebun itu?"

"Apa, tukang kebun? Beliau adalah presiden direktur kelompok perusahaan ini. Namanya Bapak Mauritz."

Si ibu pun langsung terduduk lunglai di kursi.

"jika kita banyak mengucap syukur, dunia ini akan terasa lebih indah. Dengan menghargai dan menghormati orang lain, kita juga akan memperoleh banyak teman serta menerima cinta, kasih, dan bahagia yang berlimpah".

Saturday, September 19, 2015

Perdebatan yang Tiada Guna

ada seorang guru yang sangat dihormati karena sikapnya tegas dan bijaksana. Suatu hari, dua orang murid menghadap kepadanya. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3 x 7. Murid pandai mengatakan hasilnya 21. Murid bodoh bersikukuh bahwa 3 x 7 hasilnya adalah 27.

Kata murid bodoh dengan sengit, "Guru. Muridmu mohon keadilan. Jika benar bahwa 3 x 7 = 27 maka kawanku ini harus dicambuk 6 kali oleh Guru. Tetapi kalau dia yang benar bahwa 3 x 7 = 21 maka muridmu ini bersedia untuk memenggal kepala sendiri!!" Murid yang bodoh ini sangat yakin dengan pendapatnya bahwa 3 x 7 adalah 27.

"Katakan Guru, mana yang benar?" desak murid bodoh bersemangat.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, sang guru menjawab, “Pelajaran hari ini bukan siapa salah atau benar. Tapi tentang kebijaksanaan. Bagi murid yang tidak bijak, Guru putuskan hukuman cambuk 6 kali.” Si murid pandai jelas saja protes keras.

"Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu.. tapi karena kamu tidak cukup bijak. Mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!!"

Sang guru melanjutkan, "Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif, daripada harus melihat satu nyawa terbuang sia-sia! Ini peringatan buat kamu agar jangan lagi melakukan perdebatan yang sia-sia".

"Sering kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, entah dengan pasangan kita, rekan kerja atau teman sendiri. Selain hanya membuang waktu & energi untuk hal yang tidak perlu, malahan sering berakhir dengan kemarahan, kejengkelan bahkan kebencian bagi yang kalah, atau kesombongan dan tindakan menghina bagi yang menang. Sungguh tidak berguna alias sia-sia".

Mari membuka diri untuk terus belajar hal yang positif. Tidak merasa kalah saat pendapatnya tidak diterima dan tidak menjadi takabur saat terjadi yang sebaliknya. Selalu bisa menerima dan memahami kelemahan orang lain dan mampu memahami kelebihan orang lain tanpa harus berdebat dengan sia-sia.

Thursday, September 17, 2015

Mencari Alasan

Kita tercipta memang tidak sempurna. Namun, justru karena ketidaksempurnaan itu, kita jadi bisa saling mengisi satu sama lainnya. Dan, justru karena ketidaksempurnaan itu pula, kita jadi bisa belajar banyak hal, belajar untuk bisa mengisi kekosongan yang ada.

Maka, saat kita belum mencapai impian, sebenarnya kita bukan tidak bisa. Namun, sering kita sendiri yang merasa tidak mampu sehingga mencari-cari alasan yang akhirnya jadi melemahkan semangat kita. Padahal, jika kita punya tekad, ketidaksempurnaan itu akan bisa kita tutup dengan kemauan yang kuat.

Maka, kalau kita selalu mencari alasan mengapa kita TIDAK BISA melakukan sesuatu, bisa dipastikan kita tidak akan pemah menemukan alasan mengapa kita BISA! Ingat, di dunia ini sering kali manusia sukses bukan karena bisa atau tidak bisa,  tetapi karena mau atau tidak mau!

http://kn-mart.blogspot.co.id/?m=1

Wednesday, September 16, 2015

Kelemahan atau Kekuatan?


Kita masing-masing tentu punya kelemahan yang sering kali ingin kita tutupi. Kita bahkan sering malu dengan kelemahan itu. Namun, tahukah jika sering kali pula kelemahan terbesar kita bisa menjadi kekuatan kita yang terbesar? Ambillah contoh kisah seorang bocah berusia 10 tahun ini.

Dalam sebuah kecelakaan mobil, si bocah ini harus kehilangan tangan kirinya. Biarpun begitu, ia tetap memutuskan untuk belajar bela diri judo dan memulai latihannya dengan seorang guru judo yang bijaksana. Latihannya berjalan baik. Namun, ia bingung kenapa setelah tiga bulan berlatih, gurunya hanya mengajarkan satu gerakan.

"Guru," tanya bocah itu. "Bukankah aku harusnya belajar lebih banyak gerakan?"
"Memang hanya ini gerakan yang kamu ketahui, tapi hanya gerakan inilah yang kamu perlu pelajari." Begitulah jawaban sang guru.

Meskipun tidak begitu memahami arti jawaban gurunya, si bocah mempercayainya. Karena itulah, ia tetap tekun berlatih.

Beberapa bulan kemudian, si bocah mengikuti turnamen pertamanya. Betapa kaget dirinya, si bocah itu mampu memenangkan dua pertandingan pertamanya dengan mudah. Pertandingan ketiga ternyata lebih sulit, tapi setelah beberapa lama, lawannya menjadi tidak sabar dan langsung menyerang. Dengan tangkasnya, si bocah menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan pertandingan itu. Meski tetap terheran-heran dengan keberhasilannya, si bocah sekarang masuk ke babak final.

Kali ini, lawannya berbadan jauh lebih besar, terlihat jauh lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Nampaknya, si bocah mendapat lawan yang tak imbang. Karena khawatir si bocah mungkin akan terluka, sang wasit membunyikan peluit tanda istirahat. Ketika hendak meniupkan peluitnya, sang guru menghalanginya, "Jangan," desak beliau. "Tetap lanjutkan pertandingannya!"

Ketika pertandingan dimulai kembali, lawan si bocah melakukan satu kesalahan besar. Pertahanannya mengendur. Dengan cepat, si bocah memakai gerakannya untuk menjatuhkannya. Si bocah memenangkan pertandingan itu dan sekaligus menjadi juara utama turnamen itu.

Di perjalanan pulang, si bocah mendiskusikan setiap gerakan di setiap pertandingan dengan gurunya. Lalu, ia memberanikan diri untuk menanyakan apa yang selama ini dipikirkannya.

"Guru, bagaimana aku bisa memenangkan turnamen dengan hanya satu gerakan?"
"Kamu menang karena dua alasan," jawab sang guru. "Pertama, kamu hampir menguasai salah satu teknik bantingan tersulit dalam seni bela diri judo. Kedua, satu-satunya pertahanan untuk gerakan itu bagi lawanmu adalah menangkap tangan kirimu."

Ternyata kekurangan atau kelemahan terbesar bocah itu telah menjadi kekuatannya yang terbesar. Luar biasa!

Tuesday, September 15, 2015

YOU ARE WHAT YOU THINK

seorang ibu muda memiliki 2 orang putra. Sayangnya si putra bungsu mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir yang lamban, tidak memiliki kecerdasan seperti sang kakak. Jadilah dia anak yang pemalu, rendah diri dan sering dilecehkan oleh teman2 di sekolahnya.

 

Tugas sebagai ibu merangkap tulang punggung keluarga, membuatnya kelelahan, sehingga kelambanan si bungsu pun sering menjadi sasaran kemarahan dan kejengkelannya. Kata-kata kasar, seperti: "dasar anak bodoh" dan sejenisnya seolah menjadi santapan sehari-hari buat si bungsu.

Ucapan sang ibu maupun ejekan dari teman-teman, meyakinkan si bungsu bahwa dirinya anak yang menyusahkan dan memalukan keluarganya. Kekecewaan terhadap diri sendiri tercermin pada kegiatan yang dilakukan dari hari ke hari. Setiap bangun pagi, saat menatap wajah sendiri dari pantulan kaca cermin, dia memulai kegiatan dengan menyapa diri yang ada di cermin sambil berucap lirih dan sedih, "Si bodoh sedang mencuci muka", "Si bodoh mulai menyikat gigi," "Si bodoh lagi mandi," "Si bodoh berangkat ke sekolah," dan seterusnya.

Waktu terus berjalan ...

 

Diceritakan, sebagai warga negara dewasa, ada wajib militer yang harus dijalani. Maka, si putra bungsu ini pun mendaftar dan mulai mengikuti berbagai tes: tes kesehatan, tes kemampuan fisik, dan tes yang lain. Saat hari pengumuman, dia dipanggil menghadap ke dewan penguji.

 

"Ah... Aku si bodoh, bisakah lolos tes kali ini?" katanya dalam hati, sambil memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Sungguh tidak diduga sama sekali, hasil tesnya ternyata mendapat pujian tertinggi dari dewan penguji. "Selamat anak muda! Hasil tes Anda luar biasa!! Anda sungguh pemuda yang hebat dan berbakat." 

 

Mendapat pujian seperti itu, dia seolah tidak mempercayai telinganya sendiri. Kata-kata dewan penguji adalah penemuan sisi baru dirinya yang tidak diketahui sebelumnya. Suara itu terus bergema di pikirannya, menumbuhkan kebanggaan, memotivasi setiap sikap dan tindakannya yang mencerminkan bahwa dirinya orang hebat dan luar biasa. Mulailah siklus hariannya berubah, "Aku, orang hebat sedang mandi," "Si hebat mencuci muka," "Pemuda berbakat lagi mengosok gigi," dan seterusnya. Kepercayaan diri dan citra dirinya meningkat luar biasa.

 

Hingga 20 tahun kemudian, si bungsu membuktikan dirinya sebagai salah seorang pengusaha sukses yang disegani, dihormati, dan menerima banyak penghargaan.

Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita.Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benak kita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku.

 

Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan.

 

Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap!

 

Saturday, September 12, 2015

Bibit yang Tidak Bisa Bertunas

di sebuah kerajaan. Karena raja tidak memiliki putra penerus, maka raja menganggap perlu mencari dan memilih calon penggantinya. Untuk itu, dibuatlah sayembara pemilihan ke seluruh negeri, agar diseleksi per daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri.

Babak akhir, tersisa delapan orang yang memiliki kepandaian setara dan lulus seleksi. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, "Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini."

Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, "Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda."

Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. "Hahaha...!" Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu.

Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, "Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!"

Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan," Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai...kalian 7 pemuda, tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipu baginda!"

Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Sungguh tragis, ambisi mereka untuk meraih jabatan tersandung karena ketidakjujuran .

Kejujuran adalah mutiara pribadi yang harus kita miliki dan pelihara dengan baik! Kejujuran adalah "mata uang" yang berlaku di mana-mana.Walaupun kita hidup tidak berkelimpahan harta, namun dengan kejujuran, hidup kita akan bebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Sehingga, kita akan menikmati kehidupan ini dengan tentram, damai, dan bahagia.

Aktualisasi diri

Seorang pemuda karyawan sebuah kantor sering mengeluhkan tentang karirnya. Ia merasakan bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik, Gaji yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karir, maupun gaji.

Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan, begitu seterusnya.

 

Suatu ketika, pemuda itu berjumpa dengan kawan lamanya. Kawan lama itu sudah menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan. Pemuda itu pun lantas bertanya, bagaimana caranya si kawan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang relative cepat.

 

''Kamu dekat dengan bosmu ya?'' Tanya si pemuda penasaran.

 

Kawan lamanya itu hanya tersenyum. Ia tahu, si pemuda curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.

 

"Memang, aku dekat dengan bos aku." Jawab kawan itu, "Tapi aku juga dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?"

 

Dengan malu, pemuda itu segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa sehingga bisa jadi direktur muda."

 

Setelah menceritakan keadaannya sendiri, si pemuda kembali bertanya, “Kawan, apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu?”

 

Dengan tersenyum bijak si kawan menjawab, "Aku tak punya rahasia apapun.Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?"

 

"Maksudmu bagaimana?"

 

''Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran.Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.''

Jangan kita memilih pindah tempat kerja hanya karena ingin “melarikan diri” dari masalah. Seringkali kita merasakan sudah berjuang maksimal tetapi belum mendapatkan yang kita inginkan. Jangan pernah putus asa! Kita belum berhasil bukan karena kita tidak mampu, namun, kita belum memaksimalkan semua kekuatan yang kita miliki.

Jika kita mau mengaktualisasikan diri dengan menggali kemampuan dalam diri terus menerus, niscaya, karir kita pasti akan meningkat lebih pesat dan kesuksesan menanti kita disana.


I LOVE YOU BECAUSE I NEED YOU

Apa sih yang membuat seseorang jatuh cinta? Apakah karena dia kaya, sehingga semua kebutuhan kita terpenuhi? Apakah karena dia adalah seseorang yang humoris, lucu, dan mau mendengar semua keluh kesah kita? Tetapi bagaimana kalau dia ternyata juga seorang miskin dan belum mapan? Ehmmm....., bagaimana kalau kita menyayangi seseorang dalam suatu paket yang sempurna, ya minimal hampir sempurna lah, yaitu mapan, humoris, lucu, baik hati, jujur, seiman, dsb?

Boleh saja kita berangan - angan untuk mendapatkan suatu paket berupa Mr./Mrs. Perfect seperti itu. Tetapi yang mendasari cinta kita di sini adalah “ I Love You because I Need You “. Bisa dibilang ini adalah cinta yang tidak tulus, bahkan bisa dibilang matre.

Dengan prinsip ini kita mencintainya oleh karena kita membutuhkanya, untuk memenuhi segala kebutuhan kita, untuk memberikan rasa aman dan tenang, humoris, mau mendengarkan semua kesusahan dan permasalahan kita atau karena dia cantik atau gagah. Nah suatu saat akan ada saat saat dia jadi gagal, tidak gagah lagi, tidak lucu lagi, jadi emosional, tidak seksi lagi, lalu .... apakah kita akan tetap mencintainya? Teman-teman,jangan sampai fokus kita mencintai seseorang oleh karena kelebihan yang dia miliki, karena itu semua tidak abadi.

I LOVE YOU BECAUSE YOU LOVE ME

Seringkali seseorang mau mencintai seseorang ( atau mungkin berusaha mencintai ) oleh karena orang itu mencintai kita. Dengan harapan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, seiring dengan kebersamaan yang akan mereka lalui kelak. Apakah ini benar? Beberapa terbukti benar, tetapi banyak yang gagal.

I LOVE YOU BECAUSE I LOVE YOU

Love doesn’t need a reason. Cinta yang sejati tidak membutuhkan alasan. Aku mencintaimu karena…. ya karena aku mencintaimu, tidak ada alasan lain. Tidak peduli apakah kamu humoris/ pendiam, rendah hati/ judes, pandai/ biasa saja, dan kaya/ miskin.

Kesimpulan apa yang dapat kita ambil dari kisah singkat ini? Mencintai seseorang begitu saja?
Pertama kali kita mengenal dan mulai mencintai seseorang tentu saja akan adanya ketertarikan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi pada dasarnya oleh karena adanya ketertarikan secara fisik/ penampilan luar. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri. Kemudian saat kita mulai dekat (dalam artian mulai berpacaran) kita mulai saling introspeksi diri, mulai saling mengenal kelebihan dan kekurangan kita masing masing. Pada saat ini, banyak orang mulai terikat dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kita, seperti yang sudah disebutkan di atas. Sementara yang lain jadi saling menjauh, ketika mengetahui banyak sekali keburukan dari pasangan kita.

Apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya juga, siapa pula yang mau berpacaran dengan pemalas yang tidak mau bekerja keras, atau mungkin dengan seorang yang pemarah?

Tapi ingat.... tidak ada yang abadi. Mungkin saja seorang yang pemarah dalam hati kecilnya adalah seorang yang baik hati, hanya saja dia kurang bisa mengatur emosinya. Nah, dengan pendekatan yang baik dan telaten, suatu saat pasti akan ada perubahan. Bisa jadi pula seseorang yang kelihatan pemalas, sebenarnya hanya kurang mampu mengatur waktunya dengan baik. Terus, siapa yang bersedia dan menemaninya untuk melakukan pendekatan dan menikmati perubahannya ? Jawabannya adalahorang yang bersedia untuk mencintainya oleh karena dia mencintainya, bukan oleh karena alasan lainnya.

Oleh sebab itu, janganlah kita mencintai seseorang akan segala kebaikan yang dia miliki.Cintailah seseorang karena kau mencintainya....

Tuesday, September 8, 2015

Anak Kita Bukan Diri Kita

Dalam persepsi kita sebagai orangtua, anak-anak akan tetap menjadi anak-anak. Mereka makhluk kecil yang wajib kita lindungi. Bahkan sering perlindungan kita sebagai orangtua terlalu berlebihan terhadap anak-anak. Kita melindunginya bukan dalam artian mencakup perlindungan terhadap kondisi fisik mereka, tapi melindungi juga dalam hal-hal yang sifatnya internal. Bahkan sering perlindungan yang tidak perlu.

Beberapa dari kita sering mendekap mereka, bahkan menggenggam tangan mereka terlalu erat dan setengah memaksa, meminta mereka mengikuti jalan yang sudah kita tempuh dalam hidup karena terbukti keberhasilannya. Padahal, seperti sebuah ungkapan, dari penyair kenamaan, Kahlil Gibran, yakni bahwaanakmu bukan milikmu. Ungkapan ini bisa kita artikan bahwa anak-anak meski terlahir dari kita, namun sejatinya mereka adalah individu yang berbeda dari kita.

Banyak hal yang kita anggap terbaik untuk mereka—dengan alasan kita sudah melaluinya—tapi ternyata justru itu menjadikan konflik dengan anak-anak. Untuk itu, sebelum terlambat, mari kita ubah persepsi kita sehingga anak-anak bahagia berada di samping kita. Berikut beberapa hal yang bisa kita coba lakukan dan pahami untuk kebaikan anak-anak dan masa depannya sendiri…

1. Tunjuk Bintang dan Biarkan Mereka Meraihnya
Sebagai orangtua, kita tentu lebih menginginkan mereka mengikuti jalan yang sudah kita tempuh. Sebab, kita membuka jalan itu dengan susah payah dari jalan yang penuh onak dan duri hingga menjadi mulus untuk anak-anak kita lewati. Tapi sayangnya, anak-anak kita bukanlah kita. Kita adalah perpaduan orangtua kita. Sedang anak-anak adalah perpaduan antara kita dan pasangan kita, dengan masa lalu yang berbeda. Meski jalan yang kita lewati sama yaitu rumah tangga. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Duduk dekat anak-anak. Lalu jabarkan tentang banyaknya bintang impian di langit yang bisa mereka raih. Kita tunjuk satu bintang yang dulu menjadi impian kita. Lalu bertanya apakah mereka suka dengan bintang itu? Bila mereka tidak suka, beri pemahaman tentang banyak bintang yang lainnya. Biarkan mereka memilih. Dan ketika mereka memilih bintang yang mereka tunjuk dengan banyak harapan di dalamnya, tugas kita adalah menambah wawasan akan bintang itu. Lalu mengarahkan semaksimal mungkin, memfasilitasi, hingga mereka paham bahwa bintang yang mereka pilih tidak salah.

Bila mereka pada suatu kesempatan memilih bintang yang lain lagi, lakukan hal yang sama. Tidak ada yang sia-sia. Meski seribu bintang mereka pilih dan seribu kali kita berusaha, itu bukanlah menjadi sesuatu yang sia-sia tapi justru akan jadi tabungan karakter mereka. Dan kelak, ketika karakter dan keyakinan mereka sudah kuat, mereka akan memilih satu bintang dengan keyakinan penuh dan menjalaninya dengan pasti.

2. Masa Lalu Kita dan Mereka Tidak Sama
Jika masa lalu kita penuh dengan kesulitan dan kita menanggapinya dengan kerja keras, bukan berarti kita harus mengulang-ulangnya dalam sebuah nasihat tidak ada habisnya bagi anak-anak. Anak-anak tetaplah anak-anak dengan pendirian yang masih goyah. Masa lalu mereka baru sedikit, garam kehidupan yang mereka dapatkan juga berasal dari taburan cerita kita.

Masa lalu kita baik untuk dijadikan pelajaran yang bisa kita bagikan pada anak-anak dalam situasi yang nyaman. Tentu saja dengan melihat mereka sebagai individu yang berbeda dengan kita. Dengan situasi nyaman yang terbangun, anak-anak akan menarik benang merah mereka sendiri, lalu menjadikan cerita masa lalu kita pelajaran untuk mereka melangkah ke depan tanpa beban.

3. Karakter Mereka Bukan Karakter Kita
Anak-anak kita tumbuh dari lingkungan yang berbeda dari kita bertumbuh. Mereka memang menyimpan benih gen kita. Tapi potensi gen itu bisa tenggelam karena ada lingkungan lain yang lebih unggul. Sehingga, karakter yang mereka miliki bisa jadi bertolak belakang dengan karakter yang kita miliki. Jika kita menganggap karakter kita yang terbaik, jangan memaksakan. Kondisi anak-anak sekarang di masa tekhnologi berkembang pesat, berbeda dengan kita. Banyak dari mereka yang tidak suka akan paksaan karena alternatif pelarian semakin banyak untuk mereka.

Cara yang paling efektif tentu saja memahami karakter mereka. Bila karakter mereka keras kepala, alihkan keras kepala itu menjadi suatu positif. Misalnya mengajarkan keras kepala itu untuk suatu pendirian yang memang benar. Jangan keras kepala untuk sesuatu yang salah. Dengan begitu, anak-anak dan kita akan belajar menemukan titik temu meskipun karakter kita dan mereka berbeda.

4. Teman Mereka Belum Tentu Teman Kita
Kalau dulu kita memiliki teman yang suka mem-bully kita lalu akhirnya kita menjadi over protective terhadap mereka dan teman-teman yang ada di dekat mereka, tentu itu bukan cara pendidikan yang tepat. Dunia berubah banyak. Selalu ada teman baik dan teman yang buruk. Tugas kita adalah menciptakan akar dan pemahaman yang baik sehingga mereka paham mana teman yang baik dan mana teman yang buruk.

Jangan katakan teman mereka buruk karena kita hanya mendengar dari orang lain tentang perilaku teman mereka. Bila anak suka berteman dengan teman itu, ajak teman itu datang ke rumah. Ketika berinteraksi di rumah, kita akan paham sejauh mana keburukan itu. Jika kita lihat bahwa anak kita berada di bawah kendali teman yang buruk itu, kita bisa menarik anak kita darinya. Tentu saja dengan memberikan banyak pemahaman pada anak sebelumnya sehingga anak menjadi paham kenapa kita melakukan hal itu.

5. Kerikil Mereka Bukan Kerikil Kita
Jelas, jika kita sudah bisa menghalangi setiap kerikil hambatan yang dulu kita jalani bukan berarti setiap kerikil yang ada di hadapan anak-anak langsung kita singkirkan. Bisa jadi kita dulu tertusuk hingga berdarah oleh suatu kerikil, tapi anak-anak kita tidak merasakan hal yang sama. Mereka memiliki kekuatan yang berbeda.

Yang perlu kita ubah adalah adalah pola pikir kita tentang anak-anak. Sering kita menganggap mereka terlalu kecil untuk melewati sebuah hambatan yang kita anggap besar. Padahal itu adalah bagian dari proses kehidupan yang harus mereka lalui. Pengalaman kita menghadapi kerikil hambatan dalam hidup justru bisa kita arahkan untuk membuat anak-anak paham dan pada akhirnya mengubah persepsi mereka sendiri akan makna sebuah hambatan.

6. Jalan Mereka Masih Panjang...
Dalam posisi kita saat ini, dengan banyak pengalaman hidup yang sudah kita jalani, kita sering lupa akan jalan yang sangat panjang yang pernah kita lalui. Dan lupa itu membuat kita jadi merasa bahwa anak-anak kita sedang berusaha menggaris jalannya sendiri dan jalan itu bengkok tidak lurus.

Tugas kita adalah memahami jalan yang sedang mereka lalui, sedang mereka garis dengan cara mereka, perlahan tapi pasti. Pahami dan pandang jalan itu seperti ketika kecil dulu kita memandangnya. Masih panjang yang harus anak-anak lalui agar tercipta jalan yang lurus dan menakjubkan untuk mereka. Rangkul mereka dan jadilah orangtua yang membuat mereka nyaman. Sehingga ketika mereka merasa jalan mereka bengkok, mereka akan datang pada kita untuk membantu meluruskannya. Bukan pada orang lain