Thursday, August 27, 2015

Belajar lagi!

Adi, siswa kelas 4 SD, mendapat penghargaan sebagai “murid dengan kemampuan membaca terbaik di kelas”. Dalam sebuah acara yang dihadiri guru, siswa, dan orangtua murid, Adi dan teman-teman lain yang berprestasi, menerima piagam penghargaan di atas panggung, diiringi tepuk tangan meriah oleh semua orang yang hadir di situ. Betapa bahagia dan bangganya Adi! Inilah piagam pertama yang diterimanya.

Begitu tiba di rumah, Adi langsung ke belakang; menemui dan menyombongkan diri di hadapan pembantu rumahnya. Sambil menyodorkan piagam yang terbingkai indah, ia berkata lantang, "Mbaaak, coba lihat! Kalau mau, mbak juga bisa membaca sebaik aku lho!"

Si mbak terdiam sambil memandang pigura di tangannya agak lama dengan tatapan kagum dan berucap riang, "Wah hebat, Mas Adi. Mbak orang kampung, nggak sekolah. Makanya nggak bisa membaca dan menulis seperti Mas Adi. Selamat ya, Mas.."

Mendengar kalimat itu, Adi langsung berlari ke ruangan keluarga dan berkata dengan bangga kepada ayahnya. "Ayah, kasihan si mbak ya. Mbak nggak pernah sekolah dan nggak bisa membaca. Padahal Adi baru berumur 9 tahun, tapi Adi bukan hanya pandai membaca, bahkan mendapat penghargaan pula. Duuuh, aku jadi ingin tahu, bagaimana ya perasaan mbak dan orang-orang yang buta huruf lainnya kalau membuka buku tetapi tidak bisa membacanya sama sekali?"

Tanpa menjawab sepatah kata pun, sang ayah menuju rak buku dan mengambil sebuah buku, lalu membuka sembarang halaman dan memberikannya kepada Adi.

"Adi, coba lihat buku ini. “

Adi terdiam memandangi buku yang diberikan ayahnya, dan saat itu juga kesombongannya pun langsung menguap.

“Adi tidak bisa membaca satu huruf pun, Yah…”

Sang ayah melanjutkan berkata, "Buku ini ditulis dalam aksara Mandarin. Nah, sekarang Adi sudah bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh Mbak dan orang-orang yang buta huruf lainnya kan? Adi, sekolah memang tempat untuk belajar tetapi tidak perlu disombongkan. Kamu masih muda. Masih banyak sekali hal-hal baru yang harus kita pelajari di luar sekolah. Setiap orang, jika mampu dan mau belajar dengan giat, pasti bisa berprestasi. Tetapi akan lebih baik lagi kalau mampu berprestasi tanpa menyombongkan diri dan tidak perlu menghina orang lain yang tidak mampu. Adi mengerti?"

Seumur hidupnya, Adi tidak pernah melupakan pelajaran dari sang ayah. Jika perasaan sombong datang, dia dengan tenang akan mengingatkan dirinya, "Ingat, Adi, masih banyak aksara di luar sana yang tidak bisa kamu baca.”

Setiap manusia dikarunia bakat yang berbeda-beda. Kita semua mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, saat kita memunyai kelebihan,  pengalaman, atau skill tertentu bukan berarti  kita lebih segalanya dari orang lain. Apalagi  kita merasa sombong dan melihat orang lain lebih rendah.

Begitu sebaliknya pada saat  orang lain memiliki kelebihan, kekuatan, dan keterampilan tertentu bukan berarti kita kalah segalannya dari mereka, kita harus tetap sadar dan percaya bahwa ada kelebihan yang kita miliki.

Maka kita perlu selalu mengingatkan pada diri sendiri, saat kita punya kelebihan tidak perlu tinggi hati. Saat kita punya kelemahan tidak harus rendah diri, selalu siap belajar dan belajar lagi. Sehingga kita akan selalu mampu mengaktualisasikan diri dengan semaksimalnya dan meraih sukses yang luar biasa!

Wednesday, August 26, 2015

Tempayan Retak

seorang pemuda memiliki 2 buah tempayan untuk mencari air. Kedua tempayan itu dipikul di pundak dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela. Setibanya di rumah, setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal setengah.

Hal tersebut berlangsung setiap hari. Tentunya tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak, merasa malu akan kekurangannya. Ia juga bersedih, sebab hanya bisa memenuhi separuh dari kewajibannya.

Setelah beberapa lama, akhirnya tempayan retak berkata kepada si pemuda, "Aku malu, sebab airku selalu bocor melalui bagian tubuhku yang retak."

Pemuda itu tersenyum, "Tidakkah kau lihat, bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu, dan setiap hari dalam perjalanan pulang, kau menyirami benih-benih itu.. Selama setahun terakhir ini, aku bisa memetik bunga-bunga cantik, uuntuk menghias meja. Dan aku jual sebagai tambahan penghasilanku. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumahku tidak akan menjadi seindah sekarang."

semua mempunyai kekurangan masing-masing seperti si tempayan retak, namun "keretakan" & "kekurangan" itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan serta memuaskan.

TERIMA KASIH ATAS WAKTU MU

Putera yang telah yatim sedari kecil, tinggal bersama sang bunda di sebuah rumah yang sederhana. Mereka bertetangga akrab dengan Pak Mansur yang tinggal sendiri di rumahnya yang luas. Dalam segala hal, masalah apa pun, Pak Mansur adalah konsultan terbaik bagi Putera.

 

Setelah lulus sekolah dan menikah, Putera dan keluarga kecilnya pindah ke kota. Dia begitu sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk menemani istri dan anaknya, apalagi pulang kampung untuk bertandang ke tetangganya dulu.

 

Suatu hari, bunda mengabarkan berita duka bahwa Pak Mansur meninggal dunia dan akan dimakamkan 3 hari mendatang. Meski pekerjaan menumpuk, Putera memutuskan untuk pulang. Upacara pemakaman berlangsung sederhana dan sepi karena Pak Mansur tidak memiliki banyak kerabat.

 

Malam sebelum kembali ke kota, Putera bersama sang bunda berkunjung ke rumah tetangga lama. Pusaran waktu seakan membawanya ke masa lalu saat bersama penghuni rumah itu. Di sini, setiap lukisan, setiap sudut, dia hafal dan paling tahu...Tiba-tiba, Putera menghentikan langkahnya dan menatap meja di depannya.

 

"Ada apa?" tanya bunda.
"Kotak kecil itu hilang," jawab Putera.
"Kotak kecil apa?" tanya bundanya lagi.
"Pak Mansur punya sebuah kotak kecil berwarna emas dan terkunci. Di meja ini. Sering saya tanya, ‘Apa isi kotak kecil itu?' dan dia selalu menjawab, ‘Di dalam sini, tersimpan barang yang paling berharga'," jelas Putera sambil menirukan suara Pak Mansur. "Dan saya bahkan tidak pernah tahu barang apa yang paling berharga itu," lanjut Putera, merasa bersalah.

 

Dua minggu berlalu, Putera mendapat kiriman sebuah paket. Tertulis nama pengirim: "Bapak Mansur". Dengan penasaran, buru-buru dibukanya kiriman itu. Putera terpana saat menemukan kotak kecil berwarna emas dan sebuah kunci, serta secarik kertas. Dengan tangan gemetar, Putera membaca surat itu: "Setelah saya meninggal, kotak ini tolong diberikan kepada Putera. Ini adalah barang yang paling berharga selama kehidupanku." Dengan debar jantung yang kuat, Putera menemukan sebuah jam saku yang sangat indah. Dengan rasa sayang, Putera menyentuh permukaan jam saku dan membuka penutupnya. Di dalamnya terukir kata-kata: "Putera, terima kasih atas waktumu-Mansur."

 

"Ya Tuhan, ternyata barang paling berharga bagi Pak Mansur adalah waktuku. Saat bersama dengannya!"

 

Putera terpaku sejenak dan seakan ‘tertampar' kesadarannya. Ia segera berpesan kepada asistennya untuk mengosongkan jadwal selama 3 hari. "Mengapa, Pak?" tanya asistennya kebingungan.

 

"Penting dan mendesak! Saya harus menemani keluarga saya," jawabnya.

 

Sahabat yang luar biasa,

Setiap saat kita sibuk bekerja keras dengan alasan ingin sukses dan kaya raya demi membahagiakan keluarga kita. Tetapi, pada akhirnya, justru waktu bersama keluargalah yang selalu dikorbankan untuk itu, sehingga banyaknya uang tidak berujung membahagiakan.

 

Mari ingatkan pada diri sendiri, untuk bijak membagi waktu agar kehidupan berjalan dengan seimbang dan bahagia menjadi milik bersama.

Sunday, August 23, 2015

Semua Orang adalah Penting

Suatu ketika, di sebuah kelas, ada pelajaran dari seorang mahaguru. Ia adalah seorang bijak yang dikenal dengan berbagai kepandaian dan kepiawaiannya menyelesaikan semua masalah. Karena itu, murid-murid dalam kelas tersebut sangat antusias mendapatkan ilmu dari sang guru.

“Saya akan mengajarkan apa yang penting untuk kehidupan kalian. Namun, sebelumnya, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar yang harus kalian jawab dalam kertas yang sudah dibagikan. Mohon jawab dengan sebaik mungkin dan harap dijawab semua pertanyaan yang ada,” seru sang mahaguru kepada semua siswa.

Tampak kemudian, para siswa sibuk dengan kertas dan pulpen di tangan masing-masing. Mereka sangat antusias berusaha menjawab satu demi satu pertanyaan dalam kertas yang sudah dibagikan.

Beberapa waktu kemudian…

“Baik, waktu sudah habis. Silakan kumpulkan semua jawaban,” seru beliau.

Segera, murid-murid pun mengumpulkan jawaban. Namun, sepertinya, ada wajah kurang puas di antara murid-murid. Mereka tampak saling bertanya-tanya satu sama lain, berusaha membandingkan jawaban masing-masing.

Melihat hal tersebut, guru lantas bertanya, “Mengapa ribut? Ada yang sulit dari pertanyaan tadi?”

Tampak, seorang murid mengacungkan jarinya. “Sebenarnya pertanyaan yang Guru ajukan bisa kami jawab. Guru bertanya tentang arti sukses, gagal, tentang mimpi-mimpi kami dan berbagai hal yang akan kami lakukan dalam hidup ini. Tapi, ada satu pertanyaan yang menurut kami di luar itu semua. Pada pertanyaan terakhir, Guru bertanya, siapa nama tukang bersih-bersih yang membersihkan sekolah kami tadi pagi? Apa maksud Guru bertanya demikian?”

Sang guru tampak tersenyum. “Baiklah. Akan aku jawab rasa penasaran kalian. Namun sebelumnya, siapakah di antara kalian yang sudah menjawab pertanyaan tersebut?”

Murid-murid kembali saling berpandangan. Rupanya, tak ada satu pun yang mampu menjawab dengan benar. Mereka hanya menyebut Pak Tukang Bersih-Bersih, Pak Murah Senyum, dan aneka sebutan yang mencirikan fisik atau kebiasaan dari tukang bersih-bersih di sekolah mereka. Tapi, tak ada satu pun yang menyadari siapa nama asli dari tukang bersih-bersih yang merapikan sekolah mereka setiap hari.

Mahaguru itu pun mengangguk-angguk dan tersenyum simpul melihat murid-murid baru menyadari jika mereka tak ada satu pun yang tahu nama tukang bersih-bersih di sekolah mereka. “Benar... tak ada satu pun yang tahu? Baiklah. Namanya Pak Ali. Dia adalah perantauan dari luar pulau dan sudah bekerja di sini 20 tahun lebih,” terang sang mahaguru.

Mengetahui informasi yang baru diketahui itu, seorang murid lantas bertanya. “Guru, terima kasih telah mengingatkan kami pada sosok tukang bersih-bersih di sekolah ini. Tapi, lantas apa hubungannya dengan pelajaran yang akan Guru berikan?” tanya si murid.

“Bagus sekali pertanyaanmu. Yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya sederhana, namun sangat penting. Yakni, jangan pernah meremehkan siapa pun orang di sekelilingmu. Pembantumu, gurumu, orangtuamu, tukang antarmu, dan siapa pun di sekelilingmu. Sebab, mereka adalah orang-orang penting, entah apa pun peran mereka, yang akan membantumu meraih sukses di berbagai bidang. Karena itu, hargailah mereka. Hormatilah siapa pun orang di sekelilingmu. Maka, kamu pun akan menjadi manusia berharga dan terhormat, serta mampu jadi manusia seutuhnya,” ucap sang guru bijak.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu memperoleh kesuksesan tanpa keterlibatan orang lain. Baik yang sekadar membantu doa, mendukung sarana dan prasarana, hingga sekadar memberi peran kecil dalam hidup kita. Namun, tanpa disadari, mereka semua adalah orang-orang penting yang telah mendukung untuk mencapai apa pun yang kita inginkan.

Seorang tukang bersih-bersih yang membuat ruang belajar nyaman, tukang antar yang mengantarkan untuk pergi ke tujuan dengan selamat, tukang cuci baju yang membuat pakaian wangi sehingga enak dikenakan, semua itu adalah orang-orang penting—yang langsung maupun tidak langsung—membantu kita meraih sukses.

Untuk itu, mari kita menjaga hubungan baik dengan menghargai sekecil apa pun peran orang yang membantu, serta menghormati orang-orang yang telah berperan dalam kehidupan kita.

Semua orang adalah penting! Sukses sejati adalah sukses yang juga mampu dibagi dan dirasakan bagi orang-orang di sekeliling kita.

Ingat peran orang-orang di sekeliling dan teruslah berbagi kebahagiaan dengan mereka. Niscaya, maka kehidupan kita akan jauh lebih bernilai.

Saturday, August 22, 2015

Harimau dan Hutan

Sudah sekian lama, harimau dan hutan bersahabat. Mereka saling tolong-menolong satu sama lain. Harimau menjaga hutan. Demikian juga hutan  menyediakan hampir semua kebutuhan harimau. Dengan adanya harimau, hutan bebas dari jarahan manusia. Kayu-kayu dari pepohonannya terlindungi oleh harimau yang setiap hari berjaga keliling hutan. Begitu pula hutan, menyediakan makanan yang dibutuhkan oleh harimau sehari-hari. Kehidupan harimau dan hutan berjalan sangat harmonis.

Namun, keharmonisan itu rupanya membuat kijang iri. Sebab, kijang sering kali menjadi hewan yang paling banyak jadi korban karena bangsanya menjadi makanan empuk harimau yang lapar. Karena itu, kijang pun menyusun strategi agar keharmonisan harimau dan hutan jadi terpecah belah.

Maka, suatu kali, kijang pun berbisik pada pohon terbesar yang jadi wakil hutan. Kijang berkata, bahwa harimau sebenarnya adalah hewan yang mau untungnya sendiri. Hutan hanya diperdaya harimau. Sebab, tanpa harimau pun, sebenarnya hutan baik-baik saja.

Kijang juga melakukan hal yang sama pada harimau. Namun, agar tak mencolok, kijang menyuruh monyet untuk membisikkan hasutan pada harimau soal hutan. Maka, monyet pun membisiki harimau, bahwa selama ini harimau hanya dimanfaatkan hutan untuk menjaganya.

Mendengar hasutan itu, harimau dan hutan tiap hari kemudian jadi menjaga jarak satu sama lain. Keakraban yang terjalin harmonis selama ini jadi renggang. Hingga akhirnya, suatu hari harimau dan hutan bertengkar. Pohon pemimpin hutan merasa harimau hanya mau untungnya saja tinggal di hutan tanpa mau membantunya. Sebaliknya, harimau juga merasa, hutan hanya mengambil jasanya menjaga hutan tanpa mau memberikan hasil yang lebih padanya.

Pertengkaran keduanya pun menghebat. Maka, akhirnya harimau berjanji, ia akan keluar dari hutan untuk mencari hutan lain yang mau menampungnya. “Baik, aku akan pergi! Jangan pernah minta bantuanku lagi, hutan yang sombong!”

“Kamu yang sombong, mentang-mentang kuat dan ganas, jadi sok jagoan! Pergi sana, aku tak butuh kamu lagi!” sahut hutan.

Mendengar itu, kijang dan monyet diam-diam bersorak. Mereka sudah pasti akan segera terbebas dari ancaman harimau. Namun rupanya, itu tak berlangsung lama. Selama ini, manusia jarang masuk ke hutan itu karena takut ancaman harimau yang buas. Tetapi, karena harimau pergi dari hutan, manusia pun bebas menjebak harimau hingga berhasil ditangkap. Manusia pun tak takut lagi dengan harimau yang berhasil dikurung. Sejak saat itu pula, manusia mulai menjarah hutan. Kayu ditebangi. Pohon digunduli. Hewan-hewan liar—termasuk kijang dan monyet—ditangkap, ada yang dijual, ada yang dijadikan makanan. Akibat kejadian itu, hutan pun jadi berubah total. Tak ada lagi kicau burung indah, tak ada lagi hewan yang berkeliaran bebas, pohon pun banyak yang tumbang diambili kayunya. Semua menyesal. Akibat sebuah hasutan, hutan, harimau, dan semua isi hutan jadi mendapat imbas yang tak diinginkan

Kadang kala kita lupa, pada orang-orang yang langsung dan tidak langsung berjasa pada kita. Padahal sebagai makhluk sosial, kita sejatinya bergantung satu sama lain. Memang, secara kedudukan, ada yang mengatur, ada yang memimpin, ada yang jadi bawahan. Tapi, semua punya peranan masing-masing. Dan, jangan lupa, semua ibarat puzzle, harus saling melengkapi. Tanpa ada satu komponen, kadang kita akan jadi kerepotan untuk meraih harmonisasi hidup.

Karena itu, jangan pernah iri dengan kedudukan orang lain yang lebih tinggi. Jangan pula memandang kedudukan rendah mereka yang ada di bawah. Sebab, harmonisasi antar-semua tersebut saling melengkapi. Ibarat hutan dan harimau, satu sama lain sebenarnya saling melindungi. Pun demikian kijang dan monyet, serta makhluk hidup lain di dalam hutan. Begitu salah satu komponen hilang, begitu mudahnya gangguan dari luar datang.

Inilah yang perlu kita terus ingat dalam setiap peran yang kita jalani di kehidupan. Apa pun peran yang kita miliki saat ini, jangan pernah posisikan diri sebagai “korban”. Tapi, jadikan diri sebagai salah satu komponen penyeimbang. Dengan begitu, kita bisa selalu bijak dalam menentukan pilihan. Dan, jangan lupakan pula soal kepedulian. Saat satu hal yang menjaga harmonisasi menghilang, bisa jadi suatu saat dampaknya akan segera sampai pada kita juga.

Mari, buka mata dan hati. Selalu jaga harmonisasi kehidupan. Apa pun peran yang kita lakoni saat ini, jalani dengan sepenuh hati. Bebaskan diri dari rasa iri dengki. Dengan begitu, kita akan jadi insan penuh arti yang bisa mengisi setiap keping harmonisasi hidup yang berkelimpahan. Sehingga, kebahagiaan sejati pun akan kita dapatkan.

Wednesday, August 19, 2015

Menjadi Pengikut

Hidup selalu berada dalam keseimbangan, ada yang gagal, ada yang suskes. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Apa pun dan di mana pun peran tersebut, kita bisa menjadi meraih sukses sejati jika saling bersinergi. 

Dalam berbagai kisah dan pengertian yang sering kita dengar di masyarakat, ada banyak orang yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Ada yang mendambakan menjadi kaya dan selalu ingin jadi nomor satu. Tentu, itu merupakan sebuah hal dan tujuan besar yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Dan, jika ditanya, hampir semua orang pasti menginginkannya.

Tapi, apakah semua orang mendapatkannya? Ini yang perlu kita kaji dan mengerti lebih mendalam. Sebab, tak selamanya kita akan duduk di puncak. Dan sebagaimana nomor, angka satu ya hanya satu saja, tak pernah dua atau tiga. Artinya, selalu akan lebih banyak orang berada di tataran "pengikut".

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menjadi pengikut, seseorang menjadi kalah, berada di bawah, dan selalu dalam posisi mengalah? Dalam sudut pandang harfiah bisa jadi yang di bawah memang selalu akan berada dalam posisi yang berat. Sebab, ia sedang menjadi bagian yang menopang yang di atas. Tapi, kalau dipikirkan lebih mendalam, bukankah tiang yang kokoh dari bangunan menjulang tinggi angkasa harus ditopang oleh fondasi yang kuat? Dan, bukankah sebuah perusahaan akan jadi hebat kalau pemimpinnya didukung oleh semua komponen—pengikut—yang mendukungnya?

Dalam pengertian ini, saya ingin menekankan bahwa sebenarnya, dalam posisi sebagai pengikut pun, kita seharusnya selalu memiliki jiwa seorang pemenang. Dalam kondisi berada di bawah, orang pun sebenarnya bisa memiliki nilai kesuksesannya sendiri. Lebih jauh lagi, untuk sukses, tak semata dilihat dari ukuran kasat mata berupa materi. Namun, kesuksesan akan “bicara” lebih banyak saat kita bisa menjadi manusia seutuhnya, saling menghargai, menjunjung toleransi, hingga saling membahagiakan.

Ada sebuah anekdot yang dulu pernah saya baca. Kalau negara Amerika Serikat menemukan sesuatu, mereka akan segera mengumumkannya. Sementara, kalau Rusia (dulu Uni Soviet), kalau menemukan sesuatu, akan diam-diam, hingga kemudian mengejutkan dunia. Penemuan-penemuan itu, oleh Jepang akan diperhatikan secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan caranya sendiri untuk jadi barang hebat lainnya. Sementara oleh Tiongkok, penemuan itu akan dicontoh, ditiru, kemudian akan dibuat dalam bentuk massal untuk kemudian memetik keuntungan.

Meski sekadar anekdot yang mengundang senyuman, tapi kisah tersebut bagi saya adalah bagian dari pembelajaran. Pertama, memang ada yang “tercipta” sebagai yang pertama. Semua ada porsinya. Kedua, mereka yang kreatif, meski menjadi “pengikut”,  bisa jadi malah memetik keuntungan yang paling nyata. Ketiga, dengan cara masing-masing, kita sebenarnya punya potensi di area tersendiri di mana kita memang hebat di dalamnya.

Dengan pengertian tersebut, kita dapat memetik hikmah, bahwa tak salah untuk—“hanya”—menjadi seorang pengikut. Malah, di beberapa kondisi, kita bisa meraih sukses dengan cara kita masing-masing.

Tentu, jangan pula menjadi asal seorang pengikut. Jangan pula sekadar meniru mentah-mentah. Tapi, kita tetap harus menjadi “pengikut” yang punya karakter, kaya mental, hingga punya ciri tersendiri. Artinya, untuk meraih sukses sejati, seorang yang dalam posisi sedang “berperan” sebagai pengikut, tetap harus mampu menunjukkan jati dirinya. Ibarat dalam kejuaraan olahraga balap, meski sedang berada di belakang, kita tetap punya target juara. Maka, ketika akhirnya belum jadi juara pun, kita tetap punya sikap dan mental juara yang akan menjadikan kita meraih sukses sejati. Sehingga, saat berada di bawah, saat belum mencapai impian, saat sedang berjuang merangkak, kita tak pernah putus harapan. Masalah hasil hanyalah “bonus”. Justru, saat berproses itulah, kita sedang disiapkan menjadi insan-insan luar biasa.

Begitu pula ketika sedang berada di atas. Bukan berarti kalau sudah di puncak, tak lantas kita selalu jadi pemimpin. Bahkan sejatinya, pemimpin pun adalah seorang “pengikut”. Presiden misalnya, harus pula memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, orang super miliarder sekelas Bill Gates yang sukses dengan Microsoft-nya pun, kalau tak memikirkan “pengikut”-nya, bisa jadi produknya akan ditinggalkan pengguna.

Di sinilah keseimbangan kehidupan terjadi. Tak ada pemimpin yang abadi, tak ada pula pengikut sejati. Semua saling melengkapi, semua saling bersinergi. Seperti ungkapan yang saya kutip dari Edith Wharton—seorang penulis pemenang penghargaan Pulitzer—di atas. Yakni, untuk menjadi cahaya, kita bisa menjadi dua hal. Lilin yang menyala atau cermin yang memantulkan sinarnya ke mana-mana. Artinya, hendak jadi apa pun, dengan peran apa pun, seharusnya kita sadar dan mengerti, bahwa kita hidup tak sendiri. Kita bisa menjadi “sang sumber” utama kesuksesan, atau menjadi “cermin pemantul” yang akan melipatgandakan sukses itu ke mana-mana. Di mana pun dan apa pun peran tersebut, jika kita jalani dengan ketulusan dan keikhlasan, maka sukses dan bahagia sejati, akan jadi milik kita.

Menapaki Sukses dengan Membuat Perubahan

Kondisi kita saat ini tak bisa diubah tanpa kita sendiri yang mengubahnya. Sadari kekurangan, perbaiki diri, dan maksimalkan potensi! Saat kesempatan datang, manfaatkan, maka semua impian bisa menjadi kenyataan.

Kita tak pernah bisa memilih, bagaimana, di mana, kapan, serta latar belakang seperti apa kita dilahirkan. Ada yang terlahir kaya, miskin, dengan beragam suku bangsa serta agama. Semua itu hanya bisa dan akan berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh lingkungan sekitar di mana kita lahir dan tumbuh. Karena itu, apa pun latar belakang dan kondisi di mana kita dilahirkan, sudah selayaknya kita harus tetap bersyukur. Sebab, tak ada makhluk yang dicipta tanpa tujuan dan makna dalam hidupnya. Dan, dengan kesadaran yang penuh tentang pengertian bahwa kita pasti tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita seharusnya bisa memaksimalkan daya dan upaya untuk mencapai sukses yang kita damba.

Untuk itu, satu hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah melihat ke dalam diri, apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Apa saja hal yang harus diperbaiki, dikoreksi, dan bisa dimaksimalkan. Ketahui juga, potensi apa saja yang masih bisa kita tingkatkan. Dengan cara ini, kita akan menemukan fondasi yang kokoh untuk mencari jalan menuju kesuksesan.

Cerita pendek berikut bisa menjadi penggambaran perbedaan orang yang menyadari kekurangan dan mau berubah, dan orang yang memilih untuk berdiam diri saja, menunggu peruntungannya.

Alkisah, ada dua orang pemuda miskin yang bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan yang miskin itulah, mereka sering kali berkhayal, bagaimana rasanya menjadi orang yang kaya dan serba berkecukupan. Saat mereka beranjak dewasa, mereka berkesempatan untuk bekerja pada seorang pedagang besar yang cukup terpandang. Kala itu, mereka menjadi buruh angkut barang di pelabuhan. Mereka pun kembali berkhayal, bagaimana agar bisa memperbaiki nasib, bahkan kalau bisa menjadi seperti sang pedagang besar.

Pemuda pertama memilih untuk melakukan sesuatu. Ia bekerja lebih keras dan lebih cepat. Ia mengatakan pada kawannya, bahwa dengan bekerja keras, kemungkinan besar ia akan mendapatkan upah lebih besar dan kepercayaan dari sang pedagang, sehingga bisa segera naik kelas, paling tidak agar tak lagi menjadi buruh angkut saja. Sedangkan pemuda kedua, merasa ia tak punya modal selain tenaga, memilih untuk melakukan apa adanya, sesuai dengan upah yang dibayarkan saat itu. Meski mereka berdua berkhayal dengan impian yang sama, pemuda pertama bekerja lebih giat dan tekun untuk mewujudkan impian itu. Sementara pemuda kedua hanya menjadikan impian itu sebagai lamunan belaka.

Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari, sang pedagang sering mengawasi pekerjanya. Dan, dia terkesan dengan pekerjaan si pemuda pertama yang terlihat sangat cekatan, melebihi buruh yang lain. Maka, dipanggilnyalah si pemuda pertama. Dan, saat ditanya, mengapa ia bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekannya, ia menjawab, dirinya punya impian untuk mengubah nasib.

Singkat cerita, sang pedagang melihat kesungguhan si pemuda pertama. Maka, ia pun dipercaya menjadi kurir untuk mengantar pesan sang pedagang pada relasi-relasinya. Pekerjaan itu pun dilakukan dengan sangat cekatan dan penuh tanggung jawab. Ia pun selalu bersikap baik dengan semua relasi sang pedagang, sehingga banyak relasi pedagang yang bersimpati padanya. Maka, tak heran jika si pedagang pun mau memberikan kepercayaan lebih besar pada pemuda pertama.

Tahun demi tahun. Si pemuda akhirnya sukses menjadi wakil sang pedagang. Dari sana, kehidupannya pun berubah seperti yang diimpikannya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, si pemuda pertama mampu mewujudkan khayalannya menjadi nyata.

Begitulah, ada banyak orang sukses, yang menapaki jejak kesuksesannya dengan mau berubah. Mereka tak peduli komentar orang lain. Justru, dengan kritikan dan bahkan cemoohan, mereka terpacu untuk membuktikan bahwa impiannya bukan sekadar bualan. Mereka inilah sang pemenang sejati kehidupan.

Berkaca dari kisah tersebut, mari kita sadari posisi kita saat ini. Dan, mulai berubah dengan mengerahkan kekuatan yang kita miliki untuk memperbaiki diri. Landasi semua impian dengan tindakan nyata, niscaya pintu kesuksesan akan selalu terbuka

Tuesday, August 18, 2015

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Mengalah tak berarti kalah. Mundur bukan berarti tak berani bertempur. Ungkapan tersebut barangkali sering membuat kita bimbang. Sebab, kadang ungkapan “pengecut” segera muncul akibat kita memutuskan mundur sejenak. Padahal, ada kalanya, mundur sebenarnya sedang mempersiapkan langkah terbaik untuk maju ke depan. Layaknya anak panah yang ditarik ke belakang, justru siap meluncur dengan cepat menuju sasaran.

Untuk itu, jika menghadapi kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan—apakah akan mundur atau mengalah—mungkin tulisan serta cerita berikut bisa kita jadikan pembelajaran bersama.

Dikisahkan, ada seorang bernama Zhang yang mempunyai dua orang putra yang punya watak berlawanan. Yang pertama adalah Zhang Da yang cenderung tamak, dan Zhang Er yang punya sikap suka mengalah. Zhang Er punya prinsip, yang penting bahagia dan hidup harus mengutamakan perdamaian. Karena itu, ketika orangtuanya Zhang meninggal dunia dan harta warisan sang ayah lebih banyak didominasi oleh kakaknya, Zhang Da, ia mengalah. Ia hanya berkata, “Jangan sampai karena masalah harta warisan yang sepele, merusak hubungan persaudaraan.”

Dengan kondisi tersebut, Zhang Da berkembang jadi saudagar kaya. Banyak penduduk desa yang bekerja padanya, meski sebenarnya kurang suka dengan sikapnya. Sedangkan adiknya hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Namun, karena perangainya yang baik, sang adik disukai oleh banyak orang.

Suatu kali, penduduk desa ingin membangun jalan raya yang menghubungkan desa mereka dengan kota untuk mempermudah penjualan barang-barang hasil desa. Namun, agar jalannya tak berkelok, jalan tersebut harus melalui ladang milik Zhang Da. Karena tamak, ia mau memberikan tanah dengan syarat siapa pun yang lewat harus memberikan sebagian besar pendapatannya pada Zhang Da karena dianggap sudah mengurangi hasil ladangnya yang akan diubah jadi jalan.

Penduduk desa tak mau mengikuti syarat tersebut. Beruntung, Zhang Er yang baik hati mau memberikan tanahnya untuk dipakai. Warisannya yang tak seberapa, diberikan kepada penduduk desa dengan cuma-cuma. Dan, meski agak sedikit berbelok, hal itu tetap sangat membantu penduduk desa sehingga mereka lebih mudah menjual dagangannya. Jalan itu pun makin ramai. Dan, karena tanah itu milik Zhang Er, ia pun mendirikan sebuah kedai teh di sana. Lama-lama, saking ramainya jalan, kedai teh Zhang Er pun makin ramai hingga kedainya berkembang dan ia pun akhirnya jadi saudagar kaya. Sebaliknya, sang kakak, Zhang Da, tak ada lagi penduduk yang mau bekerja dengannya. Akibatnya, ladangnya pun berakhir terlantar sehingga makin lama ia menjadi miskin.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali hal, yang secara sepintas terlihat merugikan, tetapi sebenarnya akan ada hasil yang baik di belakangnya. Memang, acap kali kita harus berkorban. Tak jarang kita harus mengalami banyak kegagalan. Namun jika kita mampu bersabar, layaknya Zhang Er, apa yang kita “investasikan”—meski terkesan merugi pada awalnya—bisa menjadi “tumbuhan dengan buah lebat” yang bisa kita petik setiap hari.

Mari, hidup dengan bersahaja. Jangan sampai kita mencontoh Zhang Da yang tamak. Meski tampak menguntungkan, jika dilakukan dengan cara-cara yang negatif, suatu kali pasti akan datang “balasan”. Sebaliknya, mari teladani sikap Zhang Er, yang mengalah, namun ujungnya banyak mendatangkan berkah.


Monday, August 17, 2015

MERANTAU !

Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.

Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”

 

Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput. 
- Kadang rezeki orang di negeri kita. 
- Kadang rezeki kita di negeri orang.

Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem,Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.

Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya.

Ayo hijrah!
Ayo merantau!

Tuesday, August 11, 2015

Rezeki Yang Berlimpah-Limpah

Anak itu rezeki. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya berlimpah-limpah, tumpah-ruah, tercurah laksana air bah! Percayalah, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Yah, mengayakan. Kalau punya anak? Makin mengayakan !!!

Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya. (Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah?) Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, masih setengah enaknya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!

Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam. Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.

Yang belum menikah, mari didoakan ya. Semoga segera. Aamiin.

WINNER !!!

 Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka.

Misalnya saja:

-       -   Sakit, tapi masih bisa tersenyum.

-       -   Gagal, tapi masih bisa bahagia.

-       -   Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.

-       -   Miskin, tapi masih mau bersedekah.

Tidak percaya? Dengarkan saja percakapan ini:

            “Bisnisnya rugi ya, Pak?”

            “Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”

            “Lha, itu tokonya sampai tutup!”

            “Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”

            “Relokasi? Memangnya pindah ke mana, Pak?”

            “Nah, itu yang belum tahu, Mas. Hehehe!”

Atau dengarkan percakapan ini:

            “Kariernya mentok ya, Pak?”

            “Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”

            “Tapi perasaan, kok lama banget?”

            “Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”

“Terus, kapan naiknya?”

“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani saja sabar kok. Hehehe!”

Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’ (Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau Anda belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu Anda sudah berhasil, maka Anda akan dicap jenius).Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari sakit, kegagalan, kebangkrutan, dan kemiskinan. Di sini mereka tidak perlu menyimak motivator atau trainer. Tidak perlu mengikuti in house seminar atau in house training. Karena mereka berhasil melakukan self-motivating.

Ketika hati telah diliputi cinta, maka senyum, syukur, dan sedekah adalah perkara yang mudah. Iya, mudah. Apapun kondisinya. Dan disadari atau tidak, orang rata-rata hanya bisa tersenyum ketika ia sudah sembuh. Orang rata-rata hanya bisa bersyukur dan bersedekah ketika ia sudah berhasil. Ini kurang bijak, menurut saya. Alih-alih begitu, #SangPemenang 

malah bersikap terbalik.