Saturday, February 28, 2015

Kisah Pencuri Saleh

Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran danketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Sang ibu heran dengan pertanyaan anaknya yang tiba-tiba itu. Ia pun balik bertanya, "Apa urusanmu hingga ingin mengetahui pekerjaan ayahmu?" Ungkapan sang ibu itu menunjukkan bahwa ia enggan menjawab pertanyaan anaknya.

Pemuda itu terus-menerus memaksa ibunya agar mengungkapkan pekerjaan ayahnya. Lama-kelamaan sang ibu tidak tahan menanggapi desakan anaknya. Dengan nada tinggi, sang ibu berkata, "Ketahuilah bahwa ayahmu dulu adalah seorang pencuri!"

Bukan kecewa yang dirasakan pemuda itu ketika mengetahui ayahnya adalah pencuri, melainkan hasrat yang menggebu-gebu untuk mengikuti jejak ayahnya sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh gurunya.

Pemuda itu menjelaskan kepada ibunya, "Aku diperintahkan oleh guruku untuk bekerja seperti pekerjaan ayahku tanpa meninggalkan kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalambekerja."

"Hai, Anakku! Apakah dalam mencuri ada ketakwaan?" sela ibunya.

Anaknya menjawab dengan keluguannya, "Ya, begitulah kata guruku."

Ia pun belajar bagaimana menjalankan profesi sebagai pencuri. Ketika ilmu teknik mencuri yang didalaminya sudah cukup. Ia pun memutuskan untuk beraksi melaksanakan perintah sang guru.

Seusai shalat Isya' dan semua orang tertidur lelap, ia pun keluar rumah untuk menjalankan aksi perdananya. Ia selalu ingat pesan gurunya untuk membawa kejujuran dan ketakwaan saat bekerja.

Rumah yang diincar pertama kali adalah yang terdekat dengan rumahnya, yaitu rumah tetangganya sendiri. Namun, ia ingat bahwa mengganggu tetangga bukanlah pekerjaan takwa. Kemudian ia urungkan niatnya untuk mencuri di rumah tetangganya.

Begitu pula, ketika hendak mencuri di rumah anak yatim, ia berpikir, "Allah memperingatkan untuk tidak memakan harta anak yatim." Ia pun pergi mencari rumah berikutnya.

Sambil berjalan, ia merenung, ternyata tidak mudah untuk menjadi pencuri yang bertakwa. Bagaimana pun juga mengambil harta orang lain tidak diperbolehkan agama. Akan tetapi, perintah sang guru harus dilaksanakan. Tidak boleh berputus asa!

Langkahnya terhenti di sebuah rumah besar nan megah. Konon pemilik rumah itu terkenal memiliki harta berlimpah melebihi kebutuhannya. Dengan keterbatasan ilmunya, ia beranggapan bahwa tidak mengapa jika mengambil zakat dari kekayaan orang tersebut. Toh, bagian zakat itu bukan hak si empunya kekayaan, tetapi hak orang miskin.

Tekad yang bulat mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah besar yang tidak berpenjaga tersebut. Satu per satu kamar ia selidiki untuk menemukan tempat penyimpanan harta.

Akhirnya, ia sampai di sebuah kamar besar dan didapatinya sebuah kotak besar berisi emas, perak, dan uang tunai. Ia kumpulkan buku-buku catatan yang berisi laporan keuangan si pedagang kaya tersebut. Dengan lentera kecil yang dibawanya, ia mulai menghitung zakat yang harus dikeluarkan oleh orang kaya itu.

Keahlian dalam hal keuangan, pembukuan, dan pembagian harta ia kerahkan di sana. Dikarenakan begitu banyaknya perhitungan yang harus diselesaikan, ia pun lupa waktu. Fajar sudah menyingsing pertanda tiba waktu shalat Subuh.

Sang tuan rumah pun telah bangun dari lelapnya untuk melaksanakan shalat Subuh. Alangkah terkejutnya ketika kamar tempat penyimpanan hartanya telah terbuka. Apalagi ia mendapati seseorang tengah asyik dengan buku-buku catatannya di bawah cahaya lentera kecil.

Dengan lantang, si tuan rumah menghardik pemuda tersebut, "Hai! Siapa kau!"

Sang pemuda terkesiap mendengar teguran tersebut. Saat disadarinya hari sudah hampir terang, ia bergegas untuk melaksanakan shalat. Ia berkata kepada si pemilik rumah, "Maaf, akan saya jelaskan nanti. Tapi, izinkan saya untuk shalat Subuh terlebih dahulu."

Akhirnya, mereka berdua pun shalat Subuh berjemaah dengan si tuan rumah sebagai imamnya. Usai shalat, pemuda itu mengaku kepada tuan rumah, "Saya pencuri."

Si tuan rumah makin bertambah keheranannya, "Lantas apa yang kau lakukan dengan buku-buku catatanku?" tanya tuan rumah.

"Aku sedang menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Ini hasilnya," jawab pemuda itu sambil menyodorkan hasil perhitungannya.

Ia pun menasihati si tuan rumah tentang keutamaan zakat. Tiada kemarahan terlihat di wajah si tuan rumah. Ia malah terkagum-kagum akan kejujuran serta kepandaian dan ketepatan si pencuri dalam berhitung. Selain itu, ia jadi mengetahui tentang pentingnya mengeluarkan zakat.

Akhirnya, si tuan rumah mengangkatnya menjadi sekretaris dan juru hitung pribadinya. Ia pun menikahkan sang pemuda dengan putrinya. Ibu si pemuda tinggal bersama mereka. Berkat kejujuran dan ketakwaan yang dibawa sang pemuda dalam perbuatannya,kebahagiaan mendatangi dirinya dan orang lain.

Bekerjalah dengan Cinta

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.

Wanita itu memang tidak terlalu rentan, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?

* * *

Selalu…

Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.

Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.

Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.

Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.

Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.

Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.

Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.

Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…

Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran). Wallahu a’lamu bish-shawaab.
-Abu Aufa-

Catatan:
- Kokusai kouryuu kaikan: International House
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Ojichan: pria berumur, setengah tua



Kisah 1001 Kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups

Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?

Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?

ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?

Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.

Semoga Allah Memaafkan Prasangka Saya!

KEJADIAN ini terjadi saat saya sedang menaiki kereta arah Depok Jakarta Kota beberapa minggu lalu. Kala itu, sepasang suami istri, entah siapa namanya, terlihat begitu berantakan dan sedikit kumal. Mohon maaf, bahkan badan keduanya mengeluarkan bau kurang sedap. Aroma ini bahkan membuat seorang Ibu yang awalnya duduk di dekatnya terpaksa harus keluar dari kereta dan muntah sejadi-jadinya. Mungkin karena tidak tahan dengan baunya.
Awalnya saya berfikir bahwa kedua pasangan sepuh (tua) ini adalah seorang pengemis atau gelandangan. Namun rupanya Allah menghentakkan hati saya dengan cara pembelajaran sangat luar biasa hari itu.

Saya tidak akan bercerita mengenai bagaimana kisah cinta pasangan ini, ikatan cinta keduanya, bagaimana mereka bersama mengarungi masa-masa tua atau dengan kisah-kisah romantis mereka menikmati hidup bersama.

Bukan itu yang akan saya ceritakan. Lebih itu dan jauh lebih indah dari itu.

Selama perjalanan, yang kala itu saya ditemani sebungkus kentang goreng, tak henti-hentinyanya memandangi sepasang suami istri ini.

Sebenarnya saya merasa terganggu karena bau yang dibawa kedua orangtua itu sungguh sangat menyengat. Tak dapat saya gambarkan baunya seperti apa, saya hanya dapat memastikan bahwa saat itu kepala saya sangat pusing akibat baunya. Tidak hanya saya, bahkan orang lain yang berada di dekatnyapun tidak tahan.

Tiba-tiba datang seorang pemuda dengan gaya sangat stylish sambil menggunakan headsetduduk tepat di samping sang pria yang memakai baju putih.

Sesaat ketika melihat pemuda itu perawakannya sangat mirip dengan teman saya di kampus Unhas, Ujung Pandang. Entah apa motivasi pemuda itu duduk tepat disamping bapak tersebut sedangkan setiap orang yang berada dalam gerbong kereta berusaha menjauhi pasangan suami istri itu karena tak tahan baunya.

Hingga mulailah terdengar pemuda itu menanyakan beberapa hal kepada bapak tersebut. Nama bapak siapa?

Tinggal di mana? Mau kemana? Punya anak berapa?

Sungguh saya dibuat terkagum dengan perawakan pemuda itu. Walaupun terlihat selengean (cuek) namun sungguh ia satu dari beberapa orang hebat yang pernah kemui selama ini.

Banyak hal yang membuat saya yakin bahwa pemuda itu adalah orang hebat. Kala itu, kereta sudah hampir tiba di stasiun Gondangdia, stasiun tujuan pasangan suami istri ini.

Kulihat pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengambil beberapa uang berwarna merah (Rp 100.000) dalam jumlah yang sangat banyak, sangat banyak namun saya tak tahu pastinya.

“Pak, saya punya sedikit rejeki buat bapak dan ibu mungkin bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak dan ibu beberapa hari ke depan,” ujarnya dengan nada sangat sopan.

Tahukah pembaca, apa jawaban bapak itu? Inilah jawabannya;

“Sungguh agamaku melarangku menjadi seorang pengemis yang menengadahkan tangan menunggu bantuan uang dari situan kaya raya, kuyakin tuhanku maha kaya, sangat kaya. Saya tahu niat Ananda adalah untuk membantu kami, dan sungguh saya yakin bahwa Allah-lah yang telah mengirimmu kepada kami, namun mohon maaf nak, saya tak bisa menerima itu. Saya tak ingin sebuah kisah dari perjalanan perjuangan hidup kami mencari rezeki, terdapat sebuah kisah bahwa kami menerima uang dari orang lain dikarenakan kasihan dengan kondisi kami. Saya yakin nak, sebentar lagi Allah akan memberikan rezeki bagi kami dengan cara yang lebih baik dari ini. Ya, saya yakin sebentar lagi nak, sebentar lagi.”

Kemudian bapak ini melangkahkan kakinya turun ke stasiun Gondangdia bersama istrinya.

Semoga Allah memaafkan prasangka saya yang menganggap bapak dan Ibu itu adalah seorang pengemis. Sungguh mereka sebenar-benarnya hamba Allah yang bertebaran di muka bumi dan mencari rezeki Allah layaknya seorang pahlawan.

Pengalaman ini sontak menambah keyakinan saya bahwa rezeki Allah sungguh sangat dekat. InsyaAllah.*/ cerita ini dikisahkan Wahyu Hidayat Ar Rasyid dan diedit redaksi

Kemuliaan Sang Nenek di Mapolda Jatim

Oleh: Yusron Aminulloh

KALAU Anda sempat berada di markas Kepolosian Daerah Jawa Timur, di jalan A Yani Surabaya. Carilah seorang nenek mulia. Nenek usia 87 tahun itu, dulu, karyawan sipil di Mapolda Jatim, tapi hari hari ini, sang nenek berjualan kue. Ia jam 06.00 – 12.00 berada di sana untuk berjualan kue. Ia, pedagang yang disayang banyak orang, bukan saja karena mantan karyawan di situ, tetapi keteguhan nenek ini, memberi inspirasi banyak orang.

Sebut saja namanya Supartini, Nenek ini menjadi potret ibu sejati, pejuang kehidupan. Bahkan sikap kerja keras. Apalagi kalau kita melihat di jalan raya, banyak ibu-ibu masih muda, tetapi menjadi peminta minta. Tanpa malu, mereka menengadahkan tangan, dan menikmati hari hari hidupnya dengan belas kasihan orang. Meski peminta minta ini, secara ekonomi diam-diam lebih mapan dibanding para pekerja keras lainnya. Namun mereka menihilkan harga dirinya habis habisan.

Maka, membaca profil nenek mulia ini, harusnya menjadi tamparan bagi ibu ibu muda yang tidak mau mengabdikan hidupnya untuk kehidupan. Dalam sebuah dialog, nenek ini masih tangkas menjawab setiap pertanyaan dengan bahasa yang lugas.

“Nenek usia berapa ? Kok masih kerja?”

“87 Tahun nak. Saya masih kuat kok.”

“Bukankah nenek pensiunan karyawan POLRI, dan punya gaji?”

“Ya nak, bahkan gaji saya cukup, karena saya sekolahnya hanya SR, pensiun saya Rp 1,6 juta,”

“Lho nek, bukankah gaji sudah cukup untuk hidup nenek?”

“Ya sangat cukup. Tapi saya kerja bukan semata cari uang, tetapi mencari kegiatan,”

“Kalau sudah tua seperti nenek, mencari kegiatan itu ya ke masjid nek, masak kerja,”

“Wah, kalau ke masjid itu nomor satu. Tetapi kerja ini kan siang dan tidak mengganggu sama sekali ibdah saya. Saya jualan ini biar tidak melamun dan badan menjadi sehat. Kalau pagi saya ikut naik praoto (truk polisi) saat berangkat dan pulang naik angkutan kota. Alhamdulillah nambah sehat.”

Sebuah dialog sederhana dan menarik. Sebuah kesederhanaan, memaknai usia dengan kerja,bukan bicara. Dengan langkah, bukan mengeluh, dengan positif dan tanpa energi negatif sedikitpun. Bahkan, dalam dialog berikutnya menjadi sebuah getaran jiwa.

“Kue yang nenek jual ini membuat apa membeli ke orang nek ?”

“Oh saya tidak membuat, tetapi membeli di tetangga saya .”

“Berapa nenek beli ?

“Rp 4.000,- nak.”

“Lho kok nenek jual Rp 5.000,-. Untungnya kecil. Harusnya nenek jual Rp 6.000,-. Kan nenek perlu transport, dll,”

“Kasihan anak anak (polisi dan karyawan polda, maksudnya). “

“Kenapa kasihan nek ?”

“Ya mereka kan bekerja untuk anak anaknya.Biar uangnya dikumpulkan, bisa untuk anak anaknya sekolah, tidak habis untuk beli kue. Jadi saya cari untung kecil saja, gak apa apa. Sudah cukup.”

Sebuah jawaban menghentakkan hati. Nenek ini bukan memberikan pelajaran kepada kita, betapa tidak hanya memikirkan dirinya, namun juga memikirkan orang lain (konsumenya). Beliau seorang pedagang yang memikirkan anak-anak pelanggannya, memikirkan keluarga orang yang dilayani dengan keikhlasannya.

Saya memberikan tiga catatan atas kisah nyata yang mulia ini.

Pertama, bahwa hidup itu yang penting endingnya. Kemuliaan nenek yang sudah bekerja keras selama 40 tahun, ternyata hari hari senja—saat pensiun—tidak dipakai untuk sekedar diam dan diam diri. Namun ia tetap bekerja, sehingga tidak ada waktu melamun.

Akibat langkahnya setiap hari,  ia pergi jam 06.00 dan pulang jam 12.00 tiap hari dengan jarak jauh, rumanya sekitar Pacarkeling menuju Mapolda A Yani Surabaya—sekitar 16 Km— ia mendapat keberkahan kesehatan. Sementara banyak orang lain, usia 60 hingga 70 tahun, saat pensiun, rasanya hari demi hari berat dijalani karena penyakit yang datang satu persatu.

Kedua, yang dilakukan nenek mulia ini tidak semata mata mencari uang. Tetapi mencari kegiatan. Meski tidak seberapa yang ia dapat setiap hariya, tetapi iamerasa bahagia. Coba lihat dialog diatas. Ia tidak mau mencari keuntungan banyak, karena ia memikirkan konsumennya yang punya anak dan keluarga. Sebuah langkah kongkrit bershadaqah dengan cara yang indah.

Sementara banyak orang yang secara ekonomi cukup. Di saat usia senja, selalu tidak mau berbagi secara ekonomi, karena merasa tidak punya penghasilan lagi. Bahkan, ketika diajak untuk bekerja sosial, mereka enggan juga karena fisik sudah terbatas. Bandingkan dengan nenek usia 87 tahun ini, tentu kita patut malu.

Ketiga, ketika sang nenek ditegur bahwa masa tua adalah untuk ibadah. Dengan tegas nenek ini menjawab bahwa ke masjid adalah nomor satu. Ini artinya, nenek ini boleh dibilang ahli ibadah. Bahkan kesempurnaan ibadahnya diteruskan dengan bekerja dan bekerja.

Dalam bahasa KH A.Mustofa Bisri, langkah nenek ini berangkat bekerja, bukan hanya bekerja. Tetapi itu adalah berdzikir. Ia berdzikir kepada Allah dengan caranya. Yakni bekerja memuliakan orang lain. Ibadahnya menyatu dalam dirinya. Ia tidak memakai teori, namun ia mempraktekkan. Ia menyatukan dirinya dalam keabadian menuju SurgaNya.

Pingin rasanya saya mencium erat erat ibu, nenek dan wanita mulia ini.*

Penulis adalah pendiri MEP Training Cente

Kisah Nyata: Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!

Madinah National Hospital [ilustrasi]

AKU hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.

Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.

“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,”  kata petugas itu datar.

Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan,handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]

Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.

Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.

“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.

Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.

“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk  membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.

Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.

Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.

Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa,  nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.

Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.

Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.

Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.

Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.

Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.

Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan

Ya Allah, Izinkah Aku Mengenakan “Mahkota” Padanya Kelak

SATU hal yang selalu saya syukuri, aku dan adik-adikku punya kedekatan yang akrab dengan abah (panggilan ayah kami). Seiring waktu, kini abah memiliki 10 orang anak, umurnya mulai menginjak separuh abad lamanya. Sebuah usia yang tak bisa dibilang masih muda.

Abah, sosok lelaki pekerja keras dengan segudang kesibukan yang tak bisa kutuang dalam kata-kata. Demikian aku menyifatinya. Pekerjaan utamanya adalah mengurus dakwah atau biasa disebut da’i. Saat ini abah juga lanjut kuliah Pasca Sarjana Program Doktoral di sebuah kampus Islam.

Mengungkap kesibukan abah adalah hal konyol. Tak jarang hal itu menjadi permainan tebak-tebakanku bersama adik-adik di malam hari.

“Ayo, siapa yang punya tebakan benar. Abah sedang apa dan di mana sekarang?” Tanyaku memancing permainan. “Abah makan apa dan tidur di mana malam ini?” Kasyful Anwar, adikku yang kedua, ikut bertanya meramaikan suasana.

Tentu saja, kami harus mengingat jawaban yang ada. Sebab jawaban yang benar hanya bisa “diputuskan” setelah abah pulang ke rumah nantinya. Itupun tak ada yang tahu, kapan abah bisa pulang ke rumah.

Kadang, pekerjaannya sebagai da’i mengharuskan abah bercengkrama dengan persoalan umat secara langsung. Dari satu daerah pindah ke daerah berikutnya. Ah, memikirkannnya saja sudah melelahkan, bagaimana dengan abah yang melakoninya? “Lebih baik tidur saja sekarang,” ucapku mengakhiri permainan tebak-tebakan.

Iya, abah selalu istimewa buat kami sepuluh orang anaknya. Suatu malam selepas Maghrib, kami sekeluarga besar sedang berkumpul di rumah kami yang sederhana. Tak ada tema tertentu, semua yang hadir bebas berceloteh dan berbicara apa saja. Tiba-tiba, abah memberi isyarat diam kepada kami semua.

“Abah punya rahasia,” pancing abah tersenyum.

Mendengar kata rahasia, tanpa dikomando kami semua segera memilih diam, siap menyimak apa gerangan rahasia abah tersebut.

“Meski abah sudah tua, tapi abah tetap memendam cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an seperti kalian semua. Hafalannya harus khatam, bukan setengah-setengah lagi,” ungkap abah membongkar rahasia.

“Karena punya banyak tugas, abah coba menghafal sedikit demi sedikit, ayat per ayat. Paling tidak, bisa hafal satu juz selama tiga atau empat bulan sekali,” papar abah memberi gambaran tentang the secret misson itu.

“Jika Allah berkehendak memberi umur 10 tahun lebih, berarti abah bisa selesai 30 juz sebelum meninggal nanti. Doakan abah ya, Nak!” pinta abah yang langsung diamini oleh ummi dan kami semua.

Jujur, saat itu, aku tak kuasa menyembunyikan airmata. Hidup abah mungkin tidak seberuntung anak-anaknya. Abah bukan dibesarkan dalam lingkungan agama. Abah juga tak pernah berstatus “santri” di sebuah pesantren. Tak seperti anak-anaknya yang sejak dini sudah mengecap didikan ala pesantren.

Menurut abah, semangat keislaman itu baru tumbuh sejak aktif berorganisasi kala menjadi mahasiswa dulu. Ada rasa haru yang menggemuruh dalam dadaku mendengar tutur abah yang begitu jujur dan merendah. Orangtua yang ingin mengikuti jejak anak-anaknya, demikian kalimat yang sering diulang abah belakangan ini.

Ah,  ‘orangtua yang ingin mengikuti jejak anak-anaknya’ bagiku, kalimat ini cukup menggelitik. Bukankah setiap kebaikan anak adalah poin keberkahan buat orangtua itu sendiri?

Alhamdulillah, di antara kami bersaudara, ada beberapa adik yang sudah menyelesaikan hafalan 30 juz secara lengkap. Selebihnya, mereka semua sedang berproses dengan jumlah dan tingkatan hafalan al-Qur’an yang berbeda-beda.

Jika Kasyful, adikku, sedang di rumah. Tak sungkan, abah memilih mundur selangkah ke belakang dan mempersilahkan putra keduanya itu mengambil posisinya sebagai imam shalat. Seolah abah memberi isyarat, bahwa kemuliaan seseorang itu diukur sebanding dengan al-Quran.

“Silakan maju, abah biar di belakang saja,” ucap abah kepada adikku.

Masih berselimut haru memikirkan ucapan abah Maghrib itu, tiba-tiba ingatanku tertumbuk pada peristiwa yang lain. Dengan bangga, abah pernah menceritakan kemajuan hapalan al-Qur’annya kepada kami semua. Saat itu rupanya abah baru saja menyelesaikan surah al-Muthaffifin yang disimak dan diuji oleh adikku yang kelima.

Menurut abah, surah ini yang paling susah ia hafal di juz ke-30.

“Alhamdulillah, tuntas juga akhirnya Juz Amma ini. Sebab di sana ada al-Muthaffifin.” Jelas abah membagi alasan kebahagiaannya.

Sebenarnya, abah bukan tak punya hapalan sama sekali. Beberapa ayat dan surah abah hafal secara berserak dalam al-Qur’an. Ini juga alasan, mengapa abah surprised atas keberhasilan menuntaskan satu juz secara penuh. Abah tak malu mengakui hal itu, padahal di saat yang sama, adikku yang ketujuh sudah melewati Juz Amma itu dua tahun yang lalu. Sekali lagi, abah sukses memaksaku menitikkan kembali air mata. Entah untuk ke berapa kalinya aku menangis buatnya. Aku sendiri tak pernah ingin menghitungnya.

Kadangkala aku berpikir, apa alasan abahngotot ingin juga menjadi penghafal Al-Qur’an? Bukankah seusi dan kondisinya “hukum” itu berubah menjadi tak wajib?

Bagiku yang mengenalnya, abah sudah terlalu lelah dengan kesibukan yang tak henti menjejalinya. Biarlah kami sepuluh orang anaknya ini mengikat janji bersama. Membelikan mahkota buat ayah kami tercinta di surga kelak. Biarlah kami sepuluh orang anaknya ini yang bergantian mengenakan mahkota tersebut di atas kepala orang yang tak henti kami berdoa untuknya.

Dalam diam aku masih terus meraba, boleh jadi abah tak puas “hanya” menjadi istimewa bagi keluarga yang mencintainya. Tapi abah juga ingin status yang lebih istimewa lagi. Menjadi “Ahlullah” di sisi Rabbnya nanti .

“Yaa Allah, mudahkan segala urusan orang mencintai kami dalam kebaikan. Sampaikan kepada mereka untuk setiap cita-cita mulia. Kumpulkan kami kembali di firdaus-Mu yang tertinggi sebagaimana Engkau pernah mengumpulkan kami di bumi.”*/Diceritakan Nurul Qolbi

Wednesday, February 25, 2015

Kisah Dialog Habib dan Syiah Yang Berujung Hidayah

Sebuah kisah sampai kepada saya dari sebuah kota di Jawa. Kisah ini adalah tentang seorang Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dalam bahasa awam dikenal dengan sebutan ‘Habib’. Kita sebut beliau sebagai Habib Fulan, seorang ulamaAhlus Sunnah wal Jamaah yang memiliki ghirah keislaman yang tinggi.

Suatu kali beliau kedatangan seorang kawan dari Pasuruan yang lama tidak bersua. Sang kawan ini dulunya adalah seorang lelaki shalih yang baik berakidah Sunni. Namun kini, sebuah berita telah sampai pada Habib Fulan bahwa kawannya itu telah berpindah akidah menjadi pengikut Syiah. Kita sebut ia dengan nama Alan.

Kondisi akidah Alan itu membuat Habib Fulan prihatin, terlebih lagi kawannya itu tersesat dalam agama yang jauh dari tauhid dan Islam.

Maka terjadilah dialog antara Habib Fulan yang Sunni dengan Alan yang Syiah.

“Apa kabarmu dan keluargamu? Dan dimana engkau sekarang tinggal?” tanya Habib Fulan.

“Alhamdulillah bi khair, Bib. Saya sekarang di Pasuruan, keluarga semua ala kulli hal,mabsuthin. Alhamdulillah Bib, saya bersyukur dikaruniai Allah keluarga yang baik. Dapat isteri shalihah. Kalau emas sih 24 karat, mertua ana juga, masya Allah.”

“Alhamdulillah ya. Anak ente berapa?

“Tiga, Bib. Dan ketiganya juga sudah nikah. Saya pun dapat menantu-menantu yang luar biasa akhlaknya…..Shallallahu ala Muhammad wa alihi.”

“Luar biasa ya, kalo begitu kamu ini lebih hebat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…..!” ungkap Habib Fulan.

“Apa, Bib? Astaghfirullahal adzim, jangan bicara begitu, Bib. Allahumma shalli ala Muhammad wa alihi! Yang bener ’ammi…. , saya dibanding Rasulullah?…. Shalli alaih, shalli alaih wa aalih…!” ungkapnya menyampaikan keterkejutan atas ‘pujian’ Habib Fulan sembari terus mengumandangkan shalawat.

“Kenapa enggak, ya Akhi? Bukankah keluargamu sungguh ideal. Engkau bisa dapat isteri yang shalihah, mertua dan besan, serta menantu-menantu yang tidak ada cela, semuanya masyaAllah istimewa.”

“Sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,” lanjut Habib, “mendapatkan isteri-isteri yang jahat, mertua-mertua yang murtad dan khianat, menantu yang murtad juga khianat, dan seterusnya dan seterusnya…”

Tentu saja Habib Fulan sedang menyindir akidah Syiah yang dianut Alan. Habib menjelaskan dalam akidah Syiah, istri-istri Nabi Muhammad yakni Ummul Mu’minin Aisyah dan Hafshah merupakan dua wanita jahat yang memusuhi imam Syiah. Dua besan Nabi Muhammad, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Amirul Mu’minin Umar bin Al Khathab dalam akidah Syiah adalah dua orang yang murtad sepeninggal Nabi, keduanya dalam akidah Syiah dianggap berkhianat karena merebut kekhalifahan dari tangan Imam Syiah. Demikian juga menantu Nabi, Khalifah Utsman bin Affan dihukumi murtad dan khianat oleh Syiah.

Seketika mendengar penjelasan Habib Fulan, sang teman yang Syi’ah itu pun terhenyak dan terpaku oleh jurus dakwah yang cerdas diplomatis namun tetap santun itu.

Maka, dengan hidayah Allah, teman Syiah itu pun mulai sadar akan kesalahannya. Seraya menunduk terus beristighfar dan bershalawat, ia pun akhirnya kembali ke jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meninggalkan akidah kebencian Syiah.

Segala puji hanya bagi Allah…

(Muhammad Ariefuddin)

Saturday, February 21, 2015

Preman Masuk Islam

Luqman Hakim meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang preman yang suka mencuri, berjudi, dan meminum minuman keras datang menemui Rasulullah saw. Ia bermaksud untuk bertobat sehingga Rasulullah mengajaknya pada Al-Islam.

Setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mengadu kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang banyak melakukan dosa. Bagaimanakah caranya agar aku bisa meninggalkan kebiasaan burukku?"

Rasulullah menjawab, "Berjanjilah untuk tidakberbohong!"

Syarat yang mudah, pikir preman tersebut, ia pun menyanggupinya.

Dalam perjalanan pulang, setiap kali ia hendak berbuat jahat selalu teringat pesan Rasulullah untuk tidak berbohong.

"Apa jawabanku jika Rasulullah bertanya tentang apa yang aku lakukan hari ini? Sanggupkah aku berbohong kepadanya?"

Pada kesempatan lain, godaan untuk berbuat jahat muncul kembali. Ia kembali teringat pesan Rasulullah. Ia bergumam, "Kalau aku berbohong kepada Rasulullah, berarti aku mengkhianati janjiku kepadanya. Jika aku berkata benar bahwa aku telah melakukan kejahatan, aku harus menerima hukuman sesuai dengan aturan Islam."

Ia pun mengurungkan niat jahatnya. Demikianlah setiap ada keinginan untuk mabuk, mencuri, dan berjudi, ia selalu teringat pesan Rasulullah tersebut hingga ia selalu mengurungkan niatnya untuk berbuat dosa.
"Ya Allah, ternyata dalam pesan Rasulullah itu terkandung hikmah yang sangat berharga," pikirnya.

Ia pun berhasil meninggalkan kebiasaan buruknya dan menjadi mukmin saleh dan mulia.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, "Wahai anakku, jika kau mampu menyambut pagi dan soremu dengan hati yang bersih dari niat curang kepada orang lain maka lakukanlah!"

Kemudian Rasulullah saw melanjutkan ucapannya, "Hal tersebut merupakan sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkannya maka itulah bukti kecintaannya kepadaku dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga." (HR Turmudzi)

Berhaji Karena Menunda Haji

Setelah sekian lama menabung, mengumpulkan lembar demi lembar rupiah dari hasil berjualan, terkumpullah dalam tabungan Pak Ahmad sejumlah uang yang cukup untuk membayar ongkos naik haji (ONH). Impian sejak muda untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sebentar lagi akan terwujud. Doa-doa yang senantiasa terucap selepas shalat taklama lagi akan menjadi kenyataan.

Pak Ahmad bukanlah orang kaya. Dia hanyalah penjual es yang harus bekerja ekstrakeras agar bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk berhaji. Kuatnya keinginan Pak Ahmad untuk berhaji menjadikan dia mampu berdisiplin menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabungkan.

Sebenarnya, ada sedikit rasa "tidak enak" dalam hati Pak Ahmad. Uang yang dikumpulkannya itu hanya cukup untuk melunasi ONH untuk dirinya sendiri, tidak untuk istrinya. Padahal, uang itu terkumpul karena bantuan istrinya juga.

"Tidak apalah, mudah-mudahan Allah memberikan rezeki sehingga istrinya bisa kebagian jatah haji pada tahun-tahun berikutnya," begitu pikiran Pak Ahmad.

Satu hari menjelang pendaftaran, salah seorang tetang-ganya datang ke rumah untuk meminjam sejumlah uang untuk membayar biaya rumah sakit. Tetangga Pak Ahmad ini terbilang orang susah, untuk makan sehari-hari saja, dia kelimpungan.

Kesulitannya semakin bertambah ketika suaminya terkena sakit parah dan mau tidak mau dia harus menyelamatkan nyawanya dengan memasukkannya ke rumah sakit. Itu pun di kelas III yang hampir semua penghuninya kaum duafa. Setelah berusaha ke sana-kemari meminjam uang, hasilnya nihil, lalu ibu ini memberanikan diri datang ke rumah Pak Ahmad untuk meminjam uang.

Pak Ahmad pun dihadapkan pada pilihan sulit: meminjamkan uang dan cita-citanya untuk berhaji akan kandas di tengah jalan atau tidak meminjamkan uang dan membuat penderitaan tetangganya bertambah panjang. Setelah berdiskusi dengan istrinya, Pak Ahmad memilih jalan ketiga.

Dia tidak meminjamkan uang dan tidak pula menahannya, tetapi memberikan seluruh uang hajinya untuk membayar biaya rumah sakit tetangganya. Sebuah pilihan yang sangat berat dan berani serta tidak masuk akal dalam pandangan kaum materialis.

Bayangkan saja, bertahun-tahun menabung, peras keringat banting tulang mengumpulkan uang, ketika uang sudah terkumpul, dia memberikannya begitu saja kepada orang lain. Namun, amal kebaikan sering sekali tak bisa diukur dengan logika kebanyakan orang.

Sebagaimana tak masuk logikanya Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih anaknya atau "keanehan" sikap para sahabat yang rela meninggalkan tanah kelahirannya, sanak saudara, dan harta kekayaannya demi berhijrah ke Madinah walau harus melalui perjalanan yang sangat berat. Itulah buah keimanan yang teramat tinggi nilainya yang sulit dicerna oleh orang-orang yang matanya sudah silau dengan dunia.

Pak Ahmad dan istrinya sangat yakin bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal kebaikan hamba-hamba-Nya. Bukankah Allah dan Rasul-Nya telah berjanji, "Barang siapa yang meringankan beban saudaranya di dunia, niscaya Allah akan meringankan bebannya di akhirat."

Kemampuan memilih prioritas amal yang disertai keyakinan yang mantap terhadap janji Allah telah menguatkan hati Pak Ahmad untuk memberikan hartanya yang paling berharga.

Disertai derai air mata sedih campur bahagia, tetangga Pak Ahmad menerima uang itu. Dia seakan tengah bermimpi, ternyata pada zaman sekarang masih ada orang yang berhati mulia seperti Pak Ahmad dan istrinya. Dia tak mampu berkata apa-apa selain ucapan terima kasih dan doa semoga Allah mengganti uang tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

Kisah pun berlanjut. Seorang dokter yang menangani operasi Pak Fulan, tetangga Pak Ahmad, sedikit kaget. Kok bisa pasien seperti Pak Fulan bisa membayar biaya operasi yang termasuk mahal, bahkan sangat muaaahal bagi sebagian orang. Padahal, dokter itu sudah bisa menebak latar belakang Pak Fulan. Iseng-iseng dia bertanya dari mana Pak Fulan mendapatkan uang, apakah dia menjual warisan, menjual ramah, meminjam, atau apa?

"Sama sekali bukan Dok, kami ini orang miskin, tidak punya apa-apa. Jangankan membayar biaya rumah sakit yang puluhan juta, untuk makan sehari-hari pun harus gali lobang tutup lobang," jawab Pak Fulan.

"Lho, kalau begitu dari mana?"

"Alhamdulillah, ada seseorang yang membayarkan biaya operasi kami."

Dokter itu makin penasaran, "Wah hebat benar orang itu. Pastilah dia orang kaya yang sangat dermawan."

"Oh.... Tidak Dok, dia orang biasa-biasa," Pak Fulan kemudi-an menceritakan kisah Pak Ahmad yang rela menunda ibadah haji demi meringankan beban penderitaan dirinya yang sekadar seorang tetangga.

Selesai Pak Fulan bercerita, Dokter itu langsung meminta izin untuk diperkenalkan dengan Pak Ahmad. Dia ingin tahu lebih jauh tentang siapa Pak Ahmad itu sebenarnya. Allah pun mempertemukan mereka.

Kepada Pak Ahmad dan istrinya, Dokter ini berkata, "Saya ingin belajar ikhlas seperti yang Ibu-Bapak lakukan. Akan tetapi, bukan di sini, saya ingin belajarnya di Tanah Suci. Jadi, saya dan keluarga akan mengajak serta Ibu dan Bapak pergi ke sana tahun ini."

Mata Pak Ahmad tampak berkaca-kaca. Sejenak, dia tidak bisa berkata-apa. Dia seakan tidak percaya dengan kata-kata yang didengarnya. Hingga akhirnya, ucapan hamdalah terucap dari bibirnya.

Begitulah, sebelum membalas kebaikannya di akhirat, Allah Swt. telah memberikan DP-nya terlebih dahulu di dunia. Harapan Pak Ahmad untuk berhaji dengan istrinya akhirnya terlaksana dalam keadaan yang penuh bahagia.

Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur dari selainmu. Berbuatlah sesuatu yang menggembirakan orang lain sebagaimana yang engkau inginkan mereka berbuat untukmu.

Janganlah berbuat sesuatu yang engkau tidak ingin orang lain berbuat hal itu kepadamu.

Janganlah berbuat aniaya sebagaimana engkau tidak suka dianiaya.

Berbuat baiklah kepada selainmu sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat baik kepadamu. Cegahlah dirimu dari perbuatan mungkar sebagaimana engkau tidak ingin orang lain berbuat itu kepadamu.

Berbuatlah sesuatu yang menyenangkan orang lain agar dia juga berbuat sesuatu yang menyenangkan dirimu. (Rasulullah saw.)


Gara-gara Kucing

AIkisah, sepasang suami-istri dikaruniai seorang anak pada tahun pertama masa pernikahannya. Tentu saja, mereka sangat gembira dengan anugerah Allah tersebut karena memiliki anak termasuk salah satu harapan besarnya. Akan tetapi, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Allah Swt. berkehendak menimpakan penyakit aneh kepada sang anak yang masih bayi itu. Berbagai ikhtiar pengobatan telah dilakukan kedua orang tuanya. Namun, pengobatan seakan takberdaya untuk menyembuhkannya, keadaan sang Anak se-makin memburuk.

Tidak hanya keadaan anaknya yang semakin memburuk, keadaan ibu-bapaknya pun menjadi buruk akibat kesedihan dan besarnya energi yang dikeluarkan untuk mengobati anak semata wayangnya itu. "Perasaan buruk itu menyeruak di dalam hati karena kami merasa takberdaya memberikan pengobatan bagi penderitaan anak kami," ujarnya.

Ketika kondisi sang Anak sudah sangat mengkhawatirkan, ada seseorang yang menunjukkan kepada pasangan muda ini seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal. Mereka pun segera mendatangi dokter tersebut. Saat tiba di tempat praktik dokter itu, demam anaknya semakin tinggi.

Dokter itu pun berkata, "Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, kemungkinan besar dia akan meninggal esok hari."

Keduanya kembali bersama sang Anak dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang tubuh sang Ayah memikirkan anaknya hingga kelopak matanya takmampu terpejam tidurmalam hari. 

Untuk menenangkan diri, dia pun segera shalat dan memohon jalan terbaik kepada Allah. Setelah selesai shalat, dia langsung pergi dengan wajah bermuram durja meninggalkan istrinya yang menangis sedih di dekat kepala anaknya.

Ayah muda ini terus berjalan di jalanan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk anaknya. Tiba-tiba, dia teringat pada sebuah hadits Rasulullah saw. tentang sedekah yang berbunyi, "Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah."

Namun, dia bingung, siapa yang harus dia temui pada waktu malam seperti ini. Dia bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan dikatakan oleh tuan rumah kepada dia jika dia melakukan itu?

Dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba, ada seekor kucing kelaparan yang mengeong di kegelapan malam. Dia pun segera teringat pada pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw, "Apakah berbuat baik pada binatang kami ada pahalanya?"

Rasulullah menjawab, "Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya." (HR Al Bukhari dan Muslim)

Tanpa pikir panjang, dia pun segera kembali ke rumah, mengambil sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.

Dia menutup pintu belakang rumahnya. Suara pintu itu bercampur dengan suara istrinya yang bertanya, "Mengapa kamu telah kembali dengan cepat?" dia pun bergegas menuju ke arah istrinya dan mendapati wajah sang Istri telah berubah. Dari permukaan wajahnya, terlihat raut kegembiraan.

Wanita muda itu berkata, "Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih dalam keadaan duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba, ada seekor burung hitam yang sangat besar dari langit yang terang hendak menyambar anak kita untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat? Tiba-tiba, muncul seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya terlibat perkelahian sengit. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu karena si burung badannya gemuk. Namun, akhirnya burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi."

Mendengar cerita istrinya, dia hanya tersenyum. Melihat suaminya, sang Istri menatap ke arahnya dengan terheran-heran.

Keduanya lalu bergegas mendekati anaknya. Dilihatnya demam sang Anak sudah mereda dan matanya sudah mulai terbuka. Esok harinya, sang Anak sudah mau makan dan sehat seperti sedia kala.

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang-ulang doa ketikaAllah menunda ijabah doa itu. Dialah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya kepadamu, bukan menurutpilihan seleramu. Kelak, pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki. (Ibnu Atha'ilah)


Dibalik Daun-daun yang Berserakan

Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan, Ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudu, masuk masjid, dan shalat Dhuhur. 

Setelah membaca wirid dan doa sekadarnya, nenek tersebut keluar masjid, lalu membungkuk-bungkuk di halaman. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceraan. Selembar demi selembar dikaisnya, tidak satu lembar pun ia lewatkan. 

Tentu saja perlu waktu lama untuk membersihkan halaman masjid dari dedaunan yang jatuh dari pohon dengan cara seperti itu. Padahal, jika tengah hari, sengatan matahari di Madura sungguh menyengat. Keringat pun mengucur dari tubuh yang kurus dan mulai rapuh itu.

Banyak pengunjung masjid yang merasa iba kepadanya. Hingga suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum si nenek datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai menunaikan shalat, ketika hendak melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. 

Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan lalu menangis. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang pun menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "berikan aku kesempatan untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan daun-daun yang berserakan seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan tua itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun di halaman masjid. 

Ia pun mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat; pertama, hanya Pak Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang, ia sudah meninggal, dan kita bisa mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Kanjeng Rasulullah. 

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya."

Begitulah, ketika seseorang mencintai Nabinya, ia akan mencari seribu satu cara agar bisa menyalurkan rasa cinta itu. Nenek renta ini bukanlah seorang ulama terkenal, ia hanyalah seorang penjual bunga cempaka. 

Tidak banyak kata dalam kamus kehidupannya untuk mengungkapkan kerinduannya kepada Rasulullah. Namun, dengan kesederhanaan yang begitu jernih dan berbalut keikhlasan, ia telah mampu menginspirasi banyak orang untuk mempertanyakan sejauh mana kecintaannya kepada Al Musthafa, Rasulullah saw.

Filosofi Botol Kecap

Dikisahkan ada seorang pengusaha kaya yang tampak bahagia. Uang bukan masalah baginya. Usahanya maju, dia jarang rugi, hampir semua bisnisnya mendatangkan keuntungan berlipat. Seakan-akan, uang itu mengejar-ngejar dirinya. 

Dia pun memiliki istri yang cantik, anak-anak yang sehat dan lucu. Akan tetapi, di balik kesuksesannya itu ada banyak perilaku buruk yang dia lakukan. Pengusaha ini gemar melakukan maksiat. 

Karena berkantong tebal, dia dengan mudah bisa bergonta-ganti pasangan alias mainperempuan, melakukan kecurangan dalam bisnis, mengonsumsi makanan dan minuman haram, dan beragam kemaksiatan lainnya.

Sampai suatu ketika, dia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Anaknya yang berusia tiga tahun meninggal duniakarena kecelakaan yang disebabkan keteledoran dirinya. Peristiwa itu membawa perubahan dalam dirinya. 

Dia bertobat dan bertekad untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa dia lakukan. Dia pun mulai belajar melakukan shalat, pergi ke masjid, melaksanakan puasa Ramadhan, dan sebagainya.

Di tengah upaya perbaikan diri itulah, krisis moneter yang menghantam pada tahun 1998 telah membawa perubahan drastis dalam bisnisnya. Perlahan, tetapi pasti, dia mengalami kebangkrutan. Satu per satu perusahaan miliknya gulung tikar dan berpindah tangan. 

Utangnya membengkak sehingga tabungan dan depositonya di bank serta properti dan kendaraannya habis untuk menutupi utang-utangnya itu. Jika sebelumnya kata "gagal" dan "rugi" seakan menjauh darinya, sekarang kedua kata itu seakan lekat dengannya. 

Jika sebelumnya gelimang rupiah demikian mudah dia dapatkan, sekarang uang recehan pun seakan enggan mendekat kepadanya. Telah berkali-kali, dia mencoba bangkit, merintis kembali bisnisnya, tetapi berkali-kali pula dia gagal. Tumpukan emosi negatif seakan tumpah ruah di otaknya.

Dalam kesulitan hidup yang mengimpit tersebut, dia mempertanyakan keadilan Tuhan. Saat tenggelam dalam kemaksiatan, begitu mudahnya rezeki didapat, tetapi setelah meninggalkan kemaksiatan, rezeki pun ikut meninggalkan dirinya. 

"Apakah ada yang salah? Ke mana doa-doa yang selama ini dia panjatkan? Apakah Tuhan tidak mendengar atau tidak sudi mengabulkan doaku? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang serta akan mengabulkan doa-doa dari setiap hamba-Nya?" 

Begitu keluhnya. Memang, di tengah kesulitan itu, kuantitas ibadah semakin berlipat-lipat. Namun, itu semua seakan belum cukup untuk mengembalikannya pada "kehidupan normal".

Berkali-kali, dia mendatangi ustaz dan kiai untuk meminta doa dan nasihat. Saat diberi doa atau amalan tertentu, dia akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Namun, lagi-lagi semuanya berakhir dengan kekecewaan. Dia pun mulai meragukan para kiai dan ustaz tersebut yang katanya hanya pandai berteori. Mana buktinya?

Di ambang keputusasaan, pertolongan Allah pun datang melalui salah seorang kenalannya. Dia adalah seorang dosen agama di sebuah perguruan tinggi ternama. Dosen itu tidak membawakannya uang, menawarkan kerja sama bisnis, atau hal lain yang bersifat materi. 

Namun, dia membawa nasihat yang mampu mengubah paradigma berpikir mantan pengusaha kaya ini. Tidak banyak dalil yang dia ungkapkan. Dia hanya memberikan analogi dan perlambang saja.

Katanya, "Seseorang tidak bisa mengisi botol penuh kecap dengan air putih, sebelum kecapnya dibuang terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita bisa memasukkan air putih. Itu pun masih ada sisa-sisa kecap yang belum terbuang sehingga air yang kita masukkan masih akan bercampur dan berwarna hitam. Air itu harus dibuang lagi sehingga botol benar-benar bersih dari kecap. Baru setelah itu, air yang kita masukkan benar-benar bening karena tidak tercampur lagi dengan kecap. Analoginya, kecap itu adalah harta yang kita miliki dan air putih itu adalah doa dan amal ibadah yang kita lakukan. Antara maksiat dan kebaikan tidak akan mungkin bisa bersatu. Karena itu, ketika seseorang ingin menyucikan dirinya, semua kotoran yang ada dalam diri dan harta harus dibuang dan dibersihkan. Ada banyak skenario Tuhan untuk 'membersihkan' harta seseorang sehingga harta kotor yang dimilikinya benar-benar terkuras, mungkin dibangkrutkan usahanya, kena tipu, dan sebagainya. Andaipun semuanya sudah terkuras, boleh jadi masih ada kotoran yang masih tersisa dalam diri dan harta. Allah Swt. akan meinbersihkannya dengan penyakit, musibah, atau lainnya, sembari dia menahan rezeki dari orang itu. Nah, ketika dia sudah benar-benar bersih, Allah Swt. akan membukakan jalan rezeki yang halal kepadanya. Yang jadi masalah, apakah kita sabar atau tidak dalam proses pembersihan itu?"

Nasihat ini mampu menjawab pertanyaannya selama ini tentang keadilan Tuhan, tentang ijabah doa, tentang makna pertobatannya. Allah Swt. mengambil sebagian besar kekaya-annya bukan karena Allah benci, melainkan Allah amat sayang dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat. 

Sebabnya, bagaimana mungkin mengisikan nasi dan sup yang lezat ke dalam mangkuk yang blepotan dengan kotoran. Tentu sangat bijak jika mangkuk itu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula qada Allah, sebelum menuangkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya, dia akan membersihkan orang tersebut dari jelaga kemaksiatan yang masih hinggap dalam diri dan hartanya.

Beberapa tahun berlalu, mantan pengusaha kaya ini sudah berada kembali di jalur kesuksesan bisnisnya. Walau belum sesukses dahulu, tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat di hadapannya. Ibaratnya, dia tengah mengisi botol nasibnya dengan air putih keberhasilan setelah dia menumpahkan hitamnya air kemaksiatan.

Rentetan kegagalan dalam bisnis telah membawa perubahan positif dalam diri pengusaha ini walau sebelumnya dia nyaris jatuh pada keputusasaan. Filosofi botol kecap yang disampaikan temannya telah membuka sudut pandang baru terhadap makna ujian dan makna hidup yang sebenarnya. 

Dalam bahasa manajemen, pengusaha ini telah mengalami reinventing atau menemukan kembali tujuan hidupnya. Dalam Al Qur'an, ada sebuah pertanyaan, fa aina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi? Satu pertanyaan yang dilontarkan kepada Nabi Ibrahim seperti tertera dalam QS At Takwir, 81: 26.

"Maka ke manakah kamu akan pergi?"

Jawabannya ada dalam QS Ash Shaffat, 37: 99, "Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi (mengha-dap) kepada Tuhanku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" Artinya, Nabi Ibrahim menemukan kembali Allahnya di situ.

Segera bertobat dari suatu dosa merupakan fardu yang harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda. Barang siapa menangguhkannya, dia telah berbuat maksiat. Jadi, jika dia bertobat dari dosa, masih ada tobat lain, yaitu tobat dari menunda-nunda tobat. (Ibnul Qayyim Al Jauziyah)


Biarkan harapan bercerita

Apa yang mendorong petani berkeringat dan bekerja keras? … adalah harapan akan memetik panen dari tanamannya.

Apa yang membuat seorang pedagang tergiur melakukan banyak perjalanan, menempuh marabahaya, meninggalkan keluarga dan tanah air? … adalah harapan akan mendapat keuntungan.

Apa yang mendorong seorang pelajar bersungguh-sungguh, terus menerus belajar, begadang di malam hari, meresume dan menghafal? Adalah harapan akan lulus.

Apa yang mendorong seorang tentara melakukan berbagai manuver heroic dalam peperangan dan bersabar menghadapi peperangan yang ganas? … adalah harapan akan mendapatkan kemenangan.

Apa yang membuat seorang pasien dengan sukarela maupun terpaksa meminum obat yang pahit? Adalah harapan akan sembuh.

Apa yang mendorong seorang beriman menentang hawa nafsunya dan bersusah payah melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya? … adalah harapan terhadap ridha dan surga Allah SWT.

Jadi,

Biarkan harapan bercerita tentang dirinya.....

Tempe Setengah Jadi

Abah dan Emak tinggal di sebuah desa yang cukup terpencil. Setiap hari, mereka bekerja membuat tempe untuk kemudian Abah menjualnya ke pasar. Jualan tempe merupakan satu-satunya sumber pendapatan mereka untuk bertahan hidup.

Pada satu pagi, Abah jatuh sakit, Emak pun mengambil alih tugas menjual tempe. Saat tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar menjual tempenya, tiba-tiba Emak sadar bahwa tempe buatannya hari itu masih belum matang, masih separah jadi.

Emak merasa sangat sedih karena tempe yang masih muda dan belum matang pastinya tidak akan laku. Itu artinya, untuk hari itu, mereka tidak akan mendapatkan pemasukan. Ketika Emak dalam kesedihan, tiba-tiba Abah mengingatkan Emak bahwa Allah Swt mampu melakukan perkara-perkara ajaib karena tiada yang mustahil bagi-Nya.

Emak pun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar kacang kedelai ini menjadi tempe, amin." Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Emak sangat yakin Allah pasti mengabulkan doanya. 

Dengan tenang, Emak pun menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya. Emak pun membuka sedikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Emak termenung seketika sebab kacang itu masih tetap kacang kedelaiyang belum matang benar.

Namun, Emak tidak putus asa. Dia berpikir mungkin doanya kurang jelas didengar oleh Allah. Emak pun mengangkat kedua tangannya kembali dan berdoa lagi, "Ya Allah, aku tahu bahwa tiada yang mustahil bagi-Mu. Bantulah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe karena inilah mata pencarian kami. Aku mohon, jadikanlah kacang kedelaiku ini menjadi tempe, amin." 

Dengan penuh harapan, Emak pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan itu. Apakah yang terjadi? Emak menjadi heran sebab kacang-kacang kedelai itu ... masih tetap seperti semula!

Hari pun semakin siang. Artinya, pasar pun sudah ramai didatangi pembeli. Emak tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Berbekal keyakinan yang sangat tinggi, Emak memaksakan diri untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Emak berpikir, mungkin keajaiban Allah akan terjadi dalam perjalanannya ke pasar. 

Dia pun berangkat ke pasar. Semua perlengkapan untuk menjual tempe, seperti biasa, dibawa bersama. Sebelum keluar darirumah, Emak sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, "Ya Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara, aku berjalan menuju ke pasar, karuniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe, amin." Dengan penuh keyakinan, wanita tua ini pun berangkat. Di sepanjang perjalanan, dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya.

Sesampai di pasar, cepat-cepat, Emak meletakkan barang-barangnya. Emak betul-betul yakin kalau tempenya sekarang sudah benar-benar matang dan siap untuk dijual. Dengan hati yang berdebar-debar, Emak pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan yang ada. Perlahan-lahan, Emak membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya benar-benar tidak berubah, masih seperti semula!

Emak menarik napas dalam-dalam. Harapan dikabulkan-nya doa perlahan menipis. Emak merasa Allah tidak adil. Allah tidak kasihan kepadanya. Inilah satu-satunya sumber penghasilannya: berjualan tempe. 

Dia pun hanya duduk saja tanpa membuka barang dagangannya itu sebab dia yakin bahwa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru setengah jadi. Hari pun beranjak petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mulai berkurang.

Emak melihat para penjual tempe lainnya, jualan mereka sudah hampir habis. Emak tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa dia pulang tanpa membawa hasil jualannya hari itu. 

Namun, jauh di sudut hatinya, Emak masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Walau tahu bahwa hari itu dia tidak akan mendapatkan pendapatan langsung, tetapi Emak berdoa untuk terakhir kali "Ya Allah, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum jadi ini."

Tiba-tiba, Emak dikejutkan oleh teguran seorang wanita. "Bu ...! Maaf ya, saya ingin bertanya, apakah Ibu menjual tempe yang belum jadi? Dari tadi, saya sudah pusing berkeliling pasar ini untuk mencarinya, tapi tidak ketemu juga."

Emak langsung termenung, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Betapa tidak terkejut, sejak sepuluh tahun dia menjual tempe, tidak pernah ada seorang pun pelanggan yang mencari tempe belum jadi. 

Sebelum Emak menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat Emak berdoa di dalam hatinya "Ya Allah, saat ini aku tidak mau tempe ini menjadi matang. Biarlah kacang kedelai ini tetap seperti semula, amin." 

Sebelum menjawab wanita itu, Emak pun membuka sedikit daun penutupnya. Alangkah senangnya hati Emak, ternyata memang benar, tempenya masih seperti semula! Hati Emak pun bersorak gembira. "Alhamdulillah," ucapnya.

Wanita itu pun memborong semua tempenya yang belum jadi itu. Sebelum wanita itu pergi, Emak sempat bertanya mengapa dia membeli tempe yang belum jadi. Wanita itu menerangkan bahwa anaknya yang tengah sekolah di Inggris ingin makan tempe dari desa. 

Karena tempe itu akan dikirimkan ke tempat anaknya itu, si Ibu pun membeli tempe yang belum jadi. Harapannya, apabila sampai di Eropa nanti, akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah jadi, sesampainya di sana, tempe itu sudah tidak enak lagi dimakan.

Demi Allah, tiada seorang pun yang berbaik sangka kepada Allah, melainkan pasti akan memberikan kepadanya apa yang dia sangkakan. Sebab, semua kebaikan itu ada dalam genggaman Allah.

Maka apabila Allah sudah memberi husnuzan-Nya, berarti Allah akan memberi apa yang disangkakannya itu. (Abdullah bin Mas'ud)


4 pertanyaan yang membuat gelisah

SETELAH suami Rabi’ah al-‘Adawiyah wafat, Syekh Hasan al-Bashri beserta beberapa temannya meminta izin untuk menemuinya. Rabi’ah pun mengizinkan mereka untuk bertemu dengannya setelah ia mengulurkan tabir dan duduk di belakang tabir tersebut.

Wahai para syekh, ada apa kiranya kalian bertandang ke rumahku ini?” tanya Rabi’ah.

Lalu, Syekh Hasan al-Bashri berkata, “Wahai Rabi’ah, suamimu telah meninggal dunia. Kami ke sini bermaksud meminangmu. Sudilah kiranya engkau memilih salah seorang diantara kami untuk dijadikan suami. Teman-temanku ini merupakan para ahli zuhud.”

“Terimakasih sebelumnya, ini sebuah kehormatan bagiku. Sebenarnya aku sangat senang dan memuliakan kalian. Akan tetapi, aku ingin mengajukan pertanyaan kepada kalian terlebih dahulu. Jika ada diantara kalian yang mampu menjawabnya, akan aku jadikan suamiku,” kata Rabi’ah.

Lalu, salah seorang teman Syekh Hasan al-Bashri berkata, “Orang yang paling alim diantara kami adalah Syekh Hasan al-Bashri. Maka, dialah yang akan menjawab pertanyaan yang akan kausampaikan.”

“Baiklah, jika Syekh mampu menjawab pertanyaanku maka aku bersedia menjadi suamimu,” kata Rabi’ah

“Silahkan. Mudah-mudahan aku mendapat pertolongan dari Allah untuk menjawab pertanyaan yang kauajukan.”

“Wahai Syekh, bagaimana pendapat Anda, jika aku meninggal dunia kelak, apakah aku masih dalam keadaan Islam ataukah kafir?”

“Kematian merupakan masalah gaib bagi para makhluk,” kata Syekh Hasan al-Bashri

Kemudian, Rabi’ah mulai mengajukan pertanyaan yang kedua, “Bagaimana pendapat Anda, bila aku telah dimasukkan ke dalam kubur, lalu Malaikat Munkar dan Nakir memberikan pertanyaan kepadaku, apakah aku dapat menjawab pertanyaan tersebut atau tidak?”

“Soal mampu atau tidak seseorang menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir juga masalah yang gaib,” jawab Syekh Hasan al-Bashri.

Kemudian, Rabi’ah mengajukan pertanyaan yang ketiga, “Jika seluruh manusia dikumpulkan di tempat pemberhentian seperti hari kiamat dan buku catatan berterbangan di bawab ‘Arsy, kemudian catatan tersebut diterimakan kepada para pemilknya. Sebagian ada yang menerima dengan tangan kanan, yakni orang yang mukmin dan taat. Dan sebagian menerimanya dengan tangn kiri dari arah belakang punggungnya, yaitu orang kafir, maka apakah aku akan menerima catatan amalku menggunakan tangan kanan ataukah tangan kiri?”

“Itu juga perkara gaib,” jawab Syekh Hasan al-Bashri.

Kemudian, Rabi’ah mengajukan pertanyaan ke empat, “Jika hari kiamat kelak seluruh manusia dipanggil. Sebagian ada yang ditempatkan di syurga dan ada yang di neraka. Maka menurut Anda, aku akan diletakkan di mana, surga atau neraka?”

“Syurga dan neraka adalah perkara yang gaib,” jawab Syekh Hasan al-Bashri.

Setelah mendengar jawaban Syekh Hasan al-Bashri, Rabi’ah berkata, “ Wahai Syekh, apakah orang yang selalu gelisah atas keempat pertanyaan tersebut masih membutuhkan suami atau menghabiskan waktunya hanya untuk mencari suami?”

Syekh Hasan al-Bashri dan teman-temannya hanya bisa terdiam, mereka pun pamit dan meninggalkan rumah Rabi’ah al-Adawiyah. [reni/islampos]

Sumber : Saifudin, Ahmad. 2014. Islam Itu Penuh dengan Cinta: Yogyakarta. Pustaka Almajaya.

Thursday, February 19, 2015

Surat Cinta Tentang Sholat

Bila engkau anggap solat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya. 

Bila kau anggap solat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya..

Anggaplah solat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.

Anggaplah solat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah swt.

Anggaplah solat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah swt.

Anggaplah solat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.

Bayangkan ketika "azan berkumandang", tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.

Bayangkan ketika kau" takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.

Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya. 

Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "Aku Mencintaimu hambaKu".

Bayangkan ketika kau "duduk di antara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu".

Bayangkan ketika kau memberi "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu...

Subhanallah sungguh nikmat solat yg kita lakukan.

Wednesday, February 18, 2015

Kehambaan Kita Dalam Al-Fatihah

1) Al Fatihah, kesemuanya, adalah bangunan kokoh yang menggambarkan kehambaan. Pengabdian itu dapat berujud cinta, harap, maupun takut.

2) Maka terhimpun; "AlhamduliLlahi Rabbil 'Alamin" adalah cinta, "Arrahamanir Rahim" adalah harap, & "Maliki Yaumiddin" adalah takut.

3) Di antara Adab meminta; dahului dengan puja. Sebab dalam ketiganya terkandung pujian & pemuliaan pada Allah; setelah itu, berdoalah.

4) Tapi sebelum permohonan terucap; jelaskan hubungan kita dengan Dzat yang dipintai; sesetia apakah, setulus apakah, semesra apakah.

5) "IyyaKa na'budu", padanya terkandung Ghayah {tujuan} dari segala penghambaan, "Wa iyyaKa nasta'in" di situlah Wasilah {sarananya}.

6) Sebagai ikrar Tauhid, di dalamnya juga terkandung pengakuan jujur bahwa kita takkan mampu mengibadahi Allah tanpa pertolonganNya.

7) Maka kita mengesakan Allah, menyembahNya, mengabdikan hidup & mati; dengan mengandalkanNya, bergantung padaNya, bertawakkal atasNya.

8) Ialah juga titik pembagi antara hak Allah & hak hamba dalam keseluruhan surat; apa yang sesudahnya adalah ijabah dariNya tuk mereka.

9) Sesudah itu kita berdoa; tak sembarang pinta; hanya memohon hal paling berharga dalam hayat kita; hidayah tuk istiqamah di jalanNya.

10) "Shirathalladzina an'amta 'alaihim"; maka kita tahu, hidayah adalah nikmat setinggi-tingginya, seagung-agungnya, seindah-indahnya.

11) Dalam pendakian menjemput hidayah, penyakit-penyakit hati kita mohon agar digugurkanNya. Maka "IyyaKa na'budu" adalah obat Riya'.

12) "IyyaKa nasta'in" ialah obat takabbur. Dan "Ihdinash shirathal mustaqim" selain pinta jugalah pengakuan, ia obat tuk bodoh & sesat.

13) "Shirathalladzina an'amTa 'alaihim" juga memberi kita isyarat ketersambungan Risalah; kita muslim, & telah didahului para gemilang.

14) Orang-orang yang diberi nikmat itu ialah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada', & Shalihin yang kisah mereka sepanjang Quran jadi teladan.

15) Mereka terbimbing untuk bersikap terbaik dengan imannya; dalam sempit & lapang, susah & senang, lebih & kurang, tenang & goncang.

16) Mereka terjaga dari 2 bahaya; murka Allah & tersesat dari jalan ridhaNya. Yang dimurka itu sebab berilmu tanpa amal & menyalahguna.

17) Yang tersesat sebab mengikuti sangka & maksud baik tanpa mau mengkaji & mendalami pengajaranNya. Dua ini Ifrath & Tafrith beragama.

18) Yang menyeksamai Tafsirpun tak boleh lena. Benar bahwa Al Maghdhub 'Alaihim melanda Yahudi & gelar Adh Dhaallun mengenai Nashrani.

19) Tapi jika kita sebagai muslim diminta mengulang doa agar selamat dari keduanya minimal 17 kali sehari; betapa rawannya kita serupa.

20) Mari tak henti hayati Ummul Kitab ini; tuk menyempurnakan kehambaan, mengkhusyu'kan ibadah, & mencahayai hidup dengan petunjukNya.

Maka segala puji bagi Allah; yang menyelimutkan malam, mengistirahatkan insan, menyembunyikan aib, & mengampuni kesalahan. 

Oleh: Salim A Fillah

Belajar Syukur Dari Penjual Tape

Kisah Ustadz Cahyadi Takariawan tentang Penjual Tape yang luar biasa.

Saya pernah punya sahabat di Yogyakarta, seorang kakek tua penjual tape singkong keliling dengan sepeda kayuh.

Hampir setiap hari ia lewat di depan rumah kontrakan saya ketika masih hidup mengontrak di Kota Jogja sekitar tahun 2002 – 2005. Bahkan kakek tua ini sering berhenti berlama-lama di depan rumah kontrakan, sampai saya keluar dan membeli tapenya.

Saking seringnya bertemu, akhirnya kami menjadi sahabat. Pantasnya ia menjadi bapak saya, melihat usianya. Sampai saya sering mengunjungi rumahnya yang sangat sederhana di daerah Sleman.

Menilik kondisi rumahnya, penampilan dan usahanya, tampak kalau ia hidup dalam berbagai bentuk kesulitan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, dengan genting kuno yang kecil ukurannya, serta lantai dari tanah tanpa ada tembok semen sama sekali.

Jika musim hujan, selalu tiris, air masuk ke dalam rumahnya, dan membuat lantai rumahnya ditumbuhi rumput karena kerap tersiram air hujan.

Di rumahnya tidak ada motor. Hanya ada satu sepeda kayuh yang ia gunakan untuk jualan tape keliling Kota Jogja.

Yang sangat mengagumkan bagi saya, ia lebih sering bercerita tentang kebahagiaan hidupnya sebagai penjual tape. Bukan bercerita tentang kegetiran hidup yang dialami.

Mungkin karena kegetiran itu sudah dirasakan setiap hari, maka menjadi tidak berasa lagi baginya. Yang lebih ia rasakan adalah kegembiraan, maka itu yang selalu diceritakan.

Ia selalu antusias menceritakan kegembiraan yang dirasakan ketika ada “orang-orang penting” membeli tape singkongnya, bahkan selalu mengulang cerita tentang seorang dokter yang berlangganan membeli tapenya.

Contoh kegembiraanya seperti ini.

“Yang membeli tape saya itu orangnya bermobil. Mobil mereka bagus-bagus”, cerita sang kakek dengan wajah berbinar-binar saking bahagianya.

Saya bayangkan, mereka yang punya mobil belum tentu sebahagia kakek itu. Namun kakek yang tidak punya mobil, justru merasakan kebahagiaan yang tidak didapatkan oleh para pemilik mobil.

Begitulah cara ia menikmati hidup. Barangkali ia ingin berpesan, hidup itu terlalu indah untuk dikesali. Nikmati saja semua problematika dalam kehidupan, agar kita selalu bahagia walau penuh dengan keterbatasan.

Kisah diambil dari status di fanpage Ustadz Cahyadi Takariawan, Yogyakarta
https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan

Jangan Lalaikan Panggilan

Beberapa bulan yang lalu saat saya sedang berada di tempat kerja, tiba-tiba datang seorang tamu yang kebetulan mencari salah satu staf di tempat saya kerja. Sebagai tuan rumah yang baik tentunya saya mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk ruangan saya sembari menunggu kawan yang dicarinya.

Selang beberapa saat teman yang dicari tamu tersebut datang dan kemudian mereka berjabat tangan. Sembari mengerjakan tugas kantor yang menumpuk saya menangkap arah pembicaraan mereka. Ternyata mereka adalah Guru dan Murid. Si murid begitu antusias untuk berbagi pengalaman dengan gurunya yang sekarang ada di depannya. Sebut saja si guru adalah pak Amir dan si murid adalah si Anwar. Selang beberapa saat berbicara si anwar memohon ijin untuk melakukan sholat dhuzur. Kebetulan saat itu memang sudah masuk waktu sholat dhuzur.

Usai sholat, kemudian si  Anwar masuk kembali ke ruangan Pak Amir. Pak Amir kemudian bertanya mengenai pekerjaan yang dilakukan si Anwar. Anwar menjawab “Alhamdulillah Pak, hasil usaha saya cukuplah untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak saya”. Iseng saja saya bertanya, “memang apa mas kerjanya?”. Dia menjawab “hanya usaha warnet”. Pertanyaan kemudian saya lanjutkan, “memang ga rugi mas usaha warnet di saat seperti ini?”. Dia menjawab “Alhamdulillah, rejeki sudah ada yang atur kok”. Dia menyebutkan bahwa omset warnetnya perhari tidak pernah kurang dari 100 ribu.

Jawaban yang sedikit aneh di benak saya. Bagaimana mungkin di saat banyak usaha warnet yang ada dia bisa sampai dapat omzet sampe 100 ribu?. Obrolan berhenti disini.

Saat saya memandang wajahnya, tampak bekas sebuah luka di keningnya. Kemudian saya coba bertanya mengenai luka yang ada di keningnya. Dia menjawab akibat kecelakaan yang dialaminya. Ceritanya begini.

Siang itu dia dari Surabaya hendak ke Malang karena ada suatu urusan. Sampai di daerah pandaan – Pasuruan, dia mendengar suara adzan dzuhur sudah berkumandang. Sempat dia mengucapkan kalimat “sebentar ah, nanggung, nanti sekalian sholat dzuhur di Malang. Mumpung jalanan sepi dan tidak macet”. Selang beberap menit kemudian dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depannya. Akhir cerita akhirnya dia berurusan dengan pihak berwenang apalagi si korban meninggal dunia. Sempat dia mendekam di tahanan gara-gara kasus kecelakaan tadi.

Akhir cerita, untuk menyelesaikan permasalahan kecelakaan tadi dia menghabiskan dana tidak kurang dari 90 juta. Selain untuk menyantuni keluarga si korban kecelakaan, uang tersebut juga digunakan untuk menebus kendaraan yang ditahan sebagai barang bukti. Coba anda bayangkan seberapa banyak uang tersebut. Namun si anwar sangat bersyukur karena dia hanya kehilangan 90 juta.

Mendengar penuturannya saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian anwar melanjutkan ceritanya. Ternyata dia melakukan satu kesalahan fatal dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan tersebut. Gara-gara dia menunda waktu sholat dzuhur di perjalanan. Lalu saya bertanya, memang salah ya menunda waktu sholat apalagi sedang dalam perjalanan?

Anwar menjawab “Mas... jika anda memanggil anak anda satu kali kemudian anak anda datang, apakah anda senang atau marah?”. Saya menjawab “senang”. Lalu dia bertanya kembali “kalo anda memanggil anak anda tetapi si anak bilang, sebentar yah, masing sibuk neh, bagaimana perasaan anda?”. Saya jawab lagi “ya kesel mas, masak anak dipanggil bapaknya malah ngasih tempo waktu”.

Kemudian si Anwar kembali bertanya kepada saya “Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya mas?”

Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, karena faktanya selama saya bekerja, meskipun terdengar suara adzan, saya selalu tidak sholat tepat waktu”. Lalu saya bertanya kepada anda para pembaca..

“Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya?”

Do'a dari orang muslim untuk muslim lainnya

Do'a dari orang muslim untuk muslim lainnya itu ternyata bukan lah hal main-main, yang bisa didapatkan dengan mudah.

Do'a itu bentuk pahala bonus dari Allah bagi hamba-Nya yang shaleh dan penyebar kebaikan dalam kehidupan.

Kita tidak akan bisa mendo'akan kebaikan untuk orang yang tidak pantas mendapatkannya. Hati terasa berat mengirimkan do'a untuk orang yang tidak punya prestasi kebaikan untuk orang lain. Apalagi mengajak atau memaksa orang lain mengirimkan do'a.

Lebih-lebih lagi bila dia seorang yang justru menebar kejahatan dalam kehidupan. Bukannya do'a kebaikan yang akan dikirimkan, malah barangkali laknat dan do'a keburukan yang dipanjatkan untuk mereka.

Kalau sudah berdo'a, nama-nama orang baik muncul dalam file saya untuk dido'akan. Bila lupa mendo'akan ada rasa bersalah dalam hati.

Sekalipun nama orang jahat muncul, lidah dan hati saya tidak mampu mengucapkan do'a kebaikan untuk mereka. Sekalipun mulut tidak berucap laknat, hati tidak bisa ditahan untuk mengutuk.

Sebagai contoh, nama Erdogan, Habibie dan pemimpin semacamnya sering muncul secara lembut memenuhi rongga hati supaya dido'akan. Lidahpun dengan suka rela berucap kebaikan.

Sayangnya, sekalipun nama pemimpin negeri di balik samudera dan semodelnya muncul dalam hati, bahkan ada yang mengingatkan untuk dido'akan, nurani berat sekali untuk mengirimkan do'a. Saya berusaha mengalihkan ingatan sebelum hati meraung untuk melaknat.

Do'a ternyata bukan hal main-main yang datang begitu saja. Dia buah kebaikan yang menyebar kepada banyak orang.

Kita perlu merenung, bila nama kita disebut orang, apa yang akan berteriak di dalam hati pendengar? Apakah do'a kebaikan atau justru laknat supaya celaka.

Mendingan hati manusia diam saja dari pada mengutuk.

Do'a tidak bisa dipaksakan, dia datang dari kasih sayang Allah dan cinta-Nya.

Sekalipun ada do'a kebaikan untuk kita, apakah do'a itu keluar dari lidah dan hati orang yang juga baik dalam pandangan Allah?

Dan jangan cemas bila laknat untuk diri kita yang berasal dari lidah dan hati yang terlaknat. Insyaallah, dia akan kembali kepada si pengirim.

Ya Allah, ringankan lidah dan hati hamba-hamba-Mu yang shaleh untuk mendo'an kebaikan dunia dan akhirat untuk kami.