Kumpulan cerita, kisah inspiratif yang layak menjadi renungan agar hidup menjadi lebih bermakna dan lebih berguna bagi diri, keluarga dan sesama untuk INDONESIA EMAS yang Lebih Baik.
Saturday, October 24, 2015
Sunday, October 18, 2015
Tak ada jalan kembali
Sering kali, kita “dimanjakan” oleh sebuah pilihan. Misalnya, saat memilih menjadi wirausahawan dengan keluar dari pekerjaan, kita “dimanjakan” dengan pikiran, “Kalau tak bisa sukses, perusahaan lama pasti akan menerimaku lagi.” Akibatnya, pikiran yang ada di “zona nyaman” itu justru membuat kita kurang bisa maksimal dalam menjalankan usaha. Beda dengan orang yang dipecat dari pekerjaan. Karena kepepet, ia akan mati-mati berjuang. Sebab, jika tak sukses, ia akan kesulitan meneruskan kehidupannya.
Banyak karya besar dunia yang justru muncul akibat “kepepet”. Karena tak ada jalan kembali, dan satu-satunya pilihan adalah maju ke depan, justru segenap potensi menjadi tercurahkan. Hal ini mengingatkan kita pada kisah salah satu sosok inspiratif yaitu mantan pemimpin redaksi Majalah Elle di Perancis. Jean-Dominique Bauby. Sang pemimpin redaksi majalah fashion kenamaan itu meninggal pada tahun 1996 silam di usia 45 tahun. Namun, sebelum meninggal, ia menuliskan catatan yang diberi judul Le Scaphandre et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).
Hebatnya, buku itu “ditulis” dalam keadaan lumpuh total! Ya, Jean tak punya “jalan kembali” ke kariernya yang cemerlang sebagai penulis andal dan pemimpin redaksi majalah Elle. Itu semua disebabkan oleh penyakit yang disebut locked-in syndrome, yang ia sebut dirinya “seperti pikiran di dalam botol”. Ia masih bisa berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Itulah satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dalam kondisi “tak ada jalan kembali” itu, Jean “menulis” dengan kedipan kelopak matanya. “Penerjemahnya”, Claude Mendibil, menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. Salah satunya, ia menulis: “Saya akan jadi pria paling bahagia di dunia, jika saya bisa dengan mudah menelan ludah yang memenuhi mulut saya.” Bayangkan, penderitaan seperti apa yang dialaminya. Namun, dengan kondisi itu, ia menulis buku terakhir yang menginspirasi dunia. Ia bahkan juga mendirikan asosiasi yang membantu orang-orang yang menderita seperti dirinya. Ia terus maju untuk menjadi “motivator” dengan caranya. Karena itu, sejak ia meninggal—yakni tiga hari seusai buku itu dicetak—kisah perjuangannya mampu menginspirasi banyak orang. Itulah sepenggal kisah orang yang “tak punya jalan kembali”, namun ia mampu terus maju dan “memenuhi” takdirnya, sebagai inspirator dunia.
yakinlah, kita pasti punya sejuta potensi yang masih bisa dikerahkan untuk menjadikan hidup kita penuh kebaikan. Jika Jean bisa melakukan sesuatu yang penuh arti di ujung hidupnya, kita pun bisa melangkah lebih pasti untuk mencapai sukses yang kita damba. Salah satu caranya: “jangan memikirkan jalan kembali”. Tapi, fokuskan pada apa yang bisa kita maksimalkan untuk melangkah lebih baik ke depan.
Terus melangkah, semoga hidup kita akan makin penuh berkah.
Monday, October 5, 2015
KISAH TENTANG BAN
Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka. "Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?" tanya si bocah dengan penasaran.
Sang ayah tersenyum. "Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita," katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. "Belajar dari ban?" Mata sang anak membelalak. "Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?"
Sang ayah tertawa. "Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya. Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat."
Si bocah mulai serius. "Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?"
"Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan. Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung. Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?" tanya sang ayah.
"Aku tahu, pasti ban ya, Yah?" jawab sang bocah antusias.
"Benar sekali. Yang ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat," ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.
"Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?"
"Wow, benar juga Yah," puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.
"Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Dia biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya."
"Maksud ayah apa?" tanya si bocah bingung.
"Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?" tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah.
"Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?"
"Persis," jawab sang ayah. "Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu. Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor."
"Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku."
Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas. "Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan."
Sang anak mengangguk-angguk.
Sang ayah menuntaskan penjelasannya, "Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong dan merasa hebat sendiri, dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita.."
Tetap semangat..💪💪
Saturday, September 26, 2015
Gema Kehidupan
saat liburan sekolah, seorang ayah untuk pertama kalinya mengajak anaknya yang berumur sepuluh tahun pergi berlibur ke daerah pegunungan. Tempat yang dituju itu ternyata sangat indah, berhawa sejuk, dan membawa suasana yang hening dan tenteram. Banyak pohon menjulang tinggi di antara bukit-bukit dan pegunungan. Ayah dan anak itu berjalan-jalan menikmati eloknya pemandangan. Saking senangnya, sesekali bocah kecil itu melompat-lompat dan berlari-lari kecil ke sana kemari.
Suatu ketika, karena kurang hati-hati saat berlari-larian, anak itu tergelincir jatuh. "Aduuuuuh...!" teriaknya kesakitan. Dan sesaat hampir bersamaan, jelas terdengar suara, "Aduuuuh...!" berulang-ulang di sisi pegunungan. Anak itu terheran-heran. Penasaran dan ingin tahu dari mana asal teriakan yang menirukan suaranya tadi, si anak berteriak lagi dengan suara lebih keras.
"Hai... siapa kamuuuu...?!"
Sesaat kemudian, ia menerima jawaban yang hampir sama kerasnya, "Hai....siapa kamuuuu...?!"
Setelah itu, suasana kembali hening dan hanya desau angin yang terdengar. Anak kecil itu makin gusar karena hanya mendengar suaranya ditirukan, tetapi tidak melihat orang yang menirukan suaranya. Lalu dengan marah sekali ia berteriak sekeras-kerasnya, "Pengecut kamu...!"
Dan, sesaat kemudian ia pun langsung menerima jawaban yang sama nadanya, "Pengecut kamu...!"
Dengan pandangan yang heran bercampur kesal, anak itu menatap ayahnya. "Ayah, siapa orang yang iseng menirukan teriakan-teriakanku tadi? Kenapa semua ucapanku dia tiru?" tanya anak itu.
Ayahnya tersenyum bijak dan berkata, "Anakku, perhatikan baik-baik!" Kemudian, sang ayah berteriak dengan keras sekali ke arah pegunungan, "Kamu hebat...!"
Terdengar jawaban bunyi yang sama kerasnya dan berulang, "Kamu hebat...!"
Melihat roman muka anaknya yang masih keheranan, lelaki itu kembali berteriak keras-keras. "Kamu luar biasa...!" Dan sama seperti teriakan-teriakan sebelumnya yang diikuti dengan suara yang sama. "Kamu luar biasa...!"
Anak itu tetap saja keheranan sambil terus memandangi ayahnya. Tampak sekali ia tak sabar menunggu penjelasan ayahnya. Sang ayah pun berkata, "Wajar saja kau heran, anakku. Ini pengalaman pertamamu berada di tempat yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Orang menyebut suara yang memantul balik tadi sebagai gema. Itulah pantulan suara."
Sang ayah melanjutkan penjelasannya, "Sama dengan gema tadi, anakku. Kehidupan ini juga akan selalu memantulkan kembali apa pun yang kita berikan kepadanya. Maksudnya, apa pun yang kamu pikirkan, katakan, dan lakukan, maka akan seperti itu pula hasil yang kau dapat. Jika setiap saat kamu berpikir positif, mengucapkan kata-kata bijak, selalu berbuat kebaikan, rajin belajar dan disiplin, maka hidup akan menggemakan begitu banyak kebaikan ke dalam hidupmu.
Kamu akan mendapat penghormatan karena kecakapanmu berpikir, mendapat penghargaan karena kepandaianmu berbicara, juga mendapat kasih dan pertolongan dari sesama karena kebaikanmu. Dengan demikian kamu akan mendapatkan kehidupan yang sukses."
"dapat kita simpulkan bahwa hidup kita adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, dan kita lakukan. Ini sudah menjadi semacam hukum alam. Jika kita selalu berpikir negatif, penuh kekhawatiran dan kecurigaan, maka kehidupan akan memberi reaksi yang sama negatifnya kepada kita. Jika kita ingin hidup dipenuhi dengan cinta kasih, maka ciptakanlah lebih banyak cinta kasih dalam hati kita.
Jika kita ingin lebih berhasil dalam kehidupan ini, maka kita pun harus berani memberikan yang terbaik dari yang kita miliki.Kesuksesan hari ini tidak tercipta karena kebetulan atau keberuntungan semata. Setiap keberhasilan pasti terwujud karena akumulasi dari usaha-usaha yang kita lakukan kemarin. Yang jelas, makna dari "gema kehidupan" adalah apa yang kita beri, itulah yang kita dapatkan. Siaplah memberi yang terbaik kepada kehidupan ini agar kehidupan memberi yang terbaik pula kepada kita " !
Monday, September 21, 2015
Menghargai Orang Lain
seorang perempuan setengah baya terlihat menggandeng anaknya memasuki sebuah taman besar yang ada di sebuah perkantoran terkenal. Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Ibu itu tampak sedang memarahi anak semata wayangnya. Mulutnya tak henti-hentinya mengomel. Tak jauh dari tempat duduk itu, ada seorang kakek tua yang tengah memotong rumput.
Tiba-tiba, ibu mengeluarkan sehelai tisu dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke arah orang tua itu. Si kakek terkejut. Ia melirik dengan pandangan heran ke arah ibu itu. Tapi, si ibu malah berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si kakek pun memungut tisu itu pelan-pelan dan lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.
Tak disangka sesaat kemudian, si ibu kembali melemparkan sehelai tisu ke arah si kakek. Sekali lagi, dalam diam si kakek mengambil tisu yang dibuang itu dan memasukkannya ke tong sampah. Si kakek kembali meneruskan pekerjaannya. Namun baru saja si kakek mengambil gunting rumput, untuk ketiga kalinya tisu jatuh di depannya. Si kakek kembali memungutinya dan melemparkan ke tong sampah. Kejadian ini berlangsung hingga 6-7 kali. Meski begitu, si kakek tidak menunjukkan ekspresi marah.
"Nah, coba kau lihat sendiri," ucap ibu itu kepada anaknya sembari menunjuk ke arah si kakek. "Kalau kamu malas belajar, setelah besar nanti kau akan jadi orang tak berguna. Cuma bisa jadi buruh pekerja kasar yang tidak terhormat seperti orang tua itu."
Si kakek dengan tenang melangkah mendekati wanita itu, "Nyonya, tempat ini bukan taman untuk umum. Taman ini cuma diperuntukkan bagi karyawan perusahaan kami. Hanya mereka yang boleh duduk di sini."
"Ya, aku tahu. Aku adalah manajer salah satu departemen di perusahaan ini! Aku kerja di gedung kantor ini."
"Boleh, saya pinjam handphone nyonya?"
Dengan berat hati, wanita itu memberikan ponselnya ke orang tua itu. Sembari melakukan itu, si ibu tak lupa mengajari anaknya, "Lihat kakek miskin ini. Ponsel saja tidak punya. Kamu harus rajin-rajin belajar, agar kelak tidak jadi seperti kakek yang tak berguna ini."
Selesai menelepon, si kakek mengembalikan ponsel itu dengan sopan. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki menghadap si kakek dengan penuh hormat. Si kakek berkata, "Sekarang aku putuskan memecat ibu ini dari perusahaan."
"Ya, Pak. Saya akan langsung bereskan."
Lalu si kakek menghampiri anak kecil itu. Sembari mengucap-usap kepalanya, ia berkata, "Nak, aku harap kau mengerti, di dunia ini yang terpenting adalah belajar menghormati orang lain." Setelah berkata begitu, si kakek melangkah perlahan menuju gedung.
Si ibu kaget bukan main dengan kejadian mendadak ini. Ia lalu bertanya kepada lelaki tadi, "Kenapa bersikap penuh hormat kepada tukang kebun itu?"
"Apa, tukang kebun? Beliau adalah presiden direktur kelompok perusahaan ini. Namanya Bapak Mauritz."
Si ibu pun langsung terduduk lunglai di kursi.
"jika kita banyak mengucap syukur, dunia ini akan terasa lebih indah. Dengan menghargai dan menghormati orang lain, kita juga akan memperoleh banyak teman serta menerima cinta, kasih, dan bahagia yang berlimpah".
Saturday, September 19, 2015
Perdebatan yang Tiada Guna
ada seorang guru yang sangat dihormati karena sikapnya tegas dan bijaksana. Suatu hari, dua orang murid menghadap kepadanya. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3 x 7. Murid pandai mengatakan hasilnya 21. Murid bodoh bersikukuh bahwa 3 x 7 hasilnya adalah 27.
Kata murid bodoh dengan sengit, "Guru. Muridmu mohon keadilan. Jika benar bahwa 3 x 7 = 27 maka kawanku ini harus dicambuk 6 kali oleh Guru. Tetapi kalau dia yang benar bahwa 3 x 7 = 21 maka muridmu ini bersedia untuk memenggal kepala sendiri!!" Murid yang bodoh ini sangat yakin dengan pendapatnya bahwa 3 x 7 adalah 27.
"Katakan Guru, mana yang benar?" desak murid bodoh bersemangat.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, sang guru menjawab, “Pelajaran hari ini bukan siapa salah atau benar. Tapi tentang kebijaksanaan. Bagi murid yang tidak bijak, Guru putuskan hukuman cambuk 6 kali.” Si murid pandai jelas saja protes keras.
"Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu.. tapi karena kamu tidak cukup bijak. Mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!!"
Sang guru melanjutkan, "Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif, daripada harus melihat satu nyawa terbuang sia-sia! Ini peringatan buat kamu agar jangan lagi melakukan perdebatan yang sia-sia".
"Sering kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tak berguna, entah dengan pasangan kita, rekan kerja atau teman sendiri. Selain hanya membuang waktu & energi untuk hal yang tidak perlu, malahan sering berakhir dengan kemarahan, kejengkelan bahkan kebencian bagi yang kalah, atau kesombongan dan tindakan menghina bagi yang menang. Sungguh tidak berguna alias sia-sia".
Mari membuka diri untuk terus belajar hal yang positif. Tidak merasa kalah saat pendapatnya tidak diterima dan tidak menjadi takabur saat terjadi yang sebaliknya. Selalu bisa menerima dan memahami kelemahan orang lain dan mampu memahami kelebihan orang lain tanpa harus berdebat dengan sia-sia.
Thursday, September 17, 2015
Mencari Alasan
Kita tercipta memang tidak sempurna. Namun, justru karena ketidaksempurnaan itu, kita jadi bisa saling mengisi satu sama lainnya. Dan, justru karena ketidaksempurnaan itu pula, kita jadi bisa belajar banyak hal, belajar untuk bisa mengisi kekosongan yang ada.
Maka, saat kita belum mencapai impian, sebenarnya kita bukan tidak bisa. Namun, sering kita sendiri yang merasa tidak mampu sehingga mencari-cari alasan yang akhirnya jadi melemahkan semangat kita. Padahal, jika kita punya tekad, ketidaksempurnaan itu akan bisa kita tutup dengan kemauan yang kuat.
Maka, kalau kita selalu mencari alasan mengapa kita TIDAK BISA melakukan sesuatu, bisa dipastikan kita tidak akan pemah menemukan alasan mengapa kita BISA! Ingat, di dunia ini sering kali manusia sukses bukan karena bisa atau tidak bisa, tetapi karena mau atau tidak mau!
http://kn-mart.blogspot.co.id/?m=1
Wednesday, September 16, 2015
Kelemahan atau Kekuatan?
Kita masing-masing tentu punya kelemahan yang sering kali ingin kita tutupi. Kita bahkan sering malu dengan kelemahan itu. Namun, tahukah jika sering kali pula kelemahan terbesar kita bisa menjadi kekuatan kita yang terbesar? Ambillah contoh kisah seorang bocah berusia 10 tahun ini.
Dalam sebuah kecelakaan mobil, si bocah ini harus kehilangan tangan kirinya. Biarpun begitu, ia tetap memutuskan untuk belajar bela diri judo dan memulai latihannya dengan seorang guru judo yang bijaksana. Latihannya berjalan baik. Namun, ia bingung kenapa setelah tiga bulan berlatih, gurunya hanya mengajarkan satu gerakan.
"Guru," tanya bocah itu. "Bukankah aku harusnya belajar lebih banyak gerakan?"
"Memang hanya ini gerakan yang kamu ketahui, tapi hanya gerakan inilah yang kamu perlu pelajari." Begitulah jawaban sang guru.
Meskipun tidak begitu memahami arti jawaban gurunya, si bocah mempercayainya. Karena itulah, ia tetap tekun berlatih.
Beberapa bulan kemudian, si bocah mengikuti turnamen pertamanya. Betapa kaget dirinya, si bocah itu mampu memenangkan dua pertandingan pertamanya dengan mudah. Pertandingan ketiga ternyata lebih sulit, tapi setelah beberapa lama, lawannya menjadi tidak sabar dan langsung menyerang. Dengan tangkasnya, si bocah menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan pertandingan itu. Meski tetap terheran-heran dengan keberhasilannya, si bocah sekarang masuk ke babak final.
Kali ini, lawannya berbadan jauh lebih besar, terlihat jauh lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Nampaknya, si bocah mendapat lawan yang tak imbang. Karena khawatir si bocah mungkin akan terluka, sang wasit membunyikan peluit tanda istirahat. Ketika hendak meniupkan peluitnya, sang guru menghalanginya, "Jangan," desak beliau. "Tetap lanjutkan pertandingannya!"
Ketika pertandingan dimulai kembali, lawan si bocah melakukan satu kesalahan besar. Pertahanannya mengendur. Dengan cepat, si bocah memakai gerakannya untuk menjatuhkannya. Si bocah memenangkan pertandingan itu dan sekaligus menjadi juara utama turnamen itu.
Di perjalanan pulang, si bocah mendiskusikan setiap gerakan di setiap pertandingan dengan gurunya. Lalu, ia memberanikan diri untuk menanyakan apa yang selama ini dipikirkannya.
"Guru, bagaimana aku bisa memenangkan turnamen dengan hanya satu gerakan?"
"Kamu menang karena dua alasan," jawab sang guru. "Pertama, kamu hampir menguasai salah satu teknik bantingan tersulit dalam seni bela diri judo. Kedua, satu-satunya pertahanan untuk gerakan itu bagi lawanmu adalah menangkap tangan kirimu."
Ternyata kekurangan atau kelemahan terbesar bocah itu telah menjadi kekuatannya yang terbesar. Luar biasa!
Tuesday, September 15, 2015
YOU ARE WHAT YOU THINK
seorang ibu muda memiliki 2 orang putra. Sayangnya si putra bungsu mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir yang lamban, tidak memiliki kecerdasan seperti sang kakak. Jadilah dia anak yang pemalu, rendah diri dan sering dilecehkan oleh teman2 di sekolahnya.
Tugas sebagai ibu merangkap tulang punggung keluarga, membuatnya kelelahan, sehingga kelambanan si bungsu pun sering menjadi sasaran kemarahan dan kejengkelannya. Kata-kata kasar, seperti: "dasar anak bodoh" dan sejenisnya seolah menjadi santapan sehari-hari buat si bungsu.
Ucapan sang ibu maupun ejekan dari teman-teman, meyakinkan si bungsu bahwa dirinya anak yang menyusahkan dan memalukan keluarganya. Kekecewaan terhadap diri sendiri tercermin pada kegiatan yang dilakukan dari hari ke hari. Setiap bangun pagi, saat menatap wajah sendiri dari pantulan kaca cermin, dia memulai kegiatan dengan menyapa diri yang ada di cermin sambil berucap lirih dan sedih, "Si bodoh sedang mencuci muka", "Si bodoh mulai menyikat gigi," "Si bodoh lagi mandi," "Si bodoh berangkat ke sekolah," dan seterusnya.
Waktu terus berjalan ...
Diceritakan, sebagai warga negara dewasa, ada wajib militer yang harus dijalani. Maka, si putra bungsu ini pun mendaftar dan mulai mengikuti berbagai tes: tes kesehatan, tes kemampuan fisik, dan tes yang lain. Saat hari pengumuman, dia dipanggil menghadap ke dewan penguji.
"Ah... Aku si bodoh, bisakah lolos tes kali ini?" katanya dalam hati, sambil memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Sungguh tidak diduga sama sekali, hasil tesnya ternyata mendapat pujian tertinggi dari dewan penguji. "Selamat anak muda! Hasil tes Anda luar biasa!! Anda sungguh pemuda yang hebat dan berbakat."
Mendapat pujian seperti itu, dia seolah tidak mempercayai telinganya sendiri. Kata-kata dewan penguji adalah penemuan sisi baru dirinya yang tidak diketahui sebelumnya. Suara itu terus bergema di pikirannya, menumbuhkan kebanggaan, memotivasi setiap sikap dan tindakannya yang mencerminkan bahwa dirinya orang hebat dan luar biasa. Mulailah siklus hariannya berubah, "Aku, orang hebat sedang mandi," "Si hebat mencuci muka," "Pemuda berbakat lagi mengosok gigi," dan seterusnya. Kepercayaan diri dan citra dirinya meningkat luar biasa.
Hingga 20 tahun kemudian, si bungsu membuktikan dirinya sebagai salah seorang pengusaha sukses yang disegani, dihormati, dan menerima banyak penghargaan.
Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita.Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benak kita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku.
Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan.
Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap!
Saturday, September 12, 2015
Bibit yang Tidak Bisa Bertunas
di sebuah kerajaan. Karena raja tidak memiliki putra penerus, maka raja menganggap perlu mencari dan memilih calon penggantinya. Untuk itu, dibuatlah sayembara pemilihan ke seluruh negeri, agar diseleksi per daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri.
Babak akhir, tersisa delapan orang yang memiliki kepandaian setara dan lulus seleksi. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, "Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini."
Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, "Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda."
Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. "Hahaha...!" Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu.
Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, "Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!"
Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan," Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai...kalian 7 pemuda, tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipu baginda!"
Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Sungguh tragis, ambisi mereka untuk meraih jabatan tersandung karena ketidakjujuran .
Kejujuran adalah mutiara pribadi yang harus kita miliki dan pelihara dengan baik! Kejujuran adalah "mata uang" yang berlaku di mana-mana.Walaupun kita hidup tidak berkelimpahan harta, namun dengan kejujuran, hidup kita akan bebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Sehingga, kita akan menikmati kehidupan ini dengan tentram, damai, dan bahagia.
Aktualisasi diri
Seorang pemuda karyawan sebuah kantor sering mengeluhkan tentang karirnya. Ia merasakan bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik, Gaji yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karir, maupun gaji.
Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan, begitu seterusnya.
Suatu ketika, pemuda itu berjumpa dengan kawan lamanya. Kawan lama itu sudah menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan. Pemuda itu pun lantas bertanya, bagaimana caranya si kawan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang relative cepat.
''Kamu dekat dengan bosmu ya?'' Tanya si pemuda penasaran.
Kawan lamanya itu hanya tersenyum. Ia tahu, si pemuda curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.
"Memang, aku dekat dengan bos aku." Jawab kawan itu, "Tapi aku juga dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?"
Dengan malu, pemuda itu segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa sehingga bisa jadi direktur muda."
Setelah menceritakan keadaannya sendiri, si pemuda kembali bertanya, “Kawan, apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu?”
Dengan tersenyum bijak si kawan menjawab, "Aku tak punya rahasia apapun.Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?"
"Maksudmu bagaimana?"
''Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran.Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.''
Jangan kita memilih pindah tempat kerja hanya karena ingin “melarikan diri” dari masalah. Seringkali kita merasakan sudah berjuang maksimal tetapi belum mendapatkan yang kita inginkan. Jangan pernah putus asa! Kita belum berhasil bukan karena kita tidak mampu, namun, kita belum memaksimalkan semua kekuatan yang kita miliki.
Jika kita mau mengaktualisasikan diri dengan menggali kemampuan dalam diri terus menerus, niscaya, karir kita pasti akan meningkat lebih pesat dan kesuksesan menanti kita disana.
I LOVE YOU BECAUSE I NEED YOU
Apa sih yang membuat seseorang jatuh cinta? Apakah karena dia kaya, sehingga semua kebutuhan kita terpenuhi? Apakah karena dia adalah seseorang yang humoris, lucu, dan mau mendengar semua keluh kesah kita? Tetapi bagaimana kalau dia ternyata juga seorang miskin dan belum mapan? Ehmmm....., bagaimana kalau kita menyayangi seseorang dalam suatu paket yang sempurna, ya minimal hampir sempurna lah, yaitu mapan, humoris, lucu, baik hati, jujur, seiman, dsb?
Boleh saja kita berangan - angan untuk mendapatkan suatu paket berupa Mr./Mrs. Perfect seperti itu. Tetapi yang mendasari cinta kita di sini adalah “ I Love You because I Need You “. Bisa dibilang ini adalah cinta yang tidak tulus, bahkan bisa dibilang matre.
Dengan prinsip ini kita mencintainya oleh karena kita membutuhkanya, untuk memenuhi segala kebutuhan kita, untuk memberikan rasa aman dan tenang, humoris, mau mendengarkan semua kesusahan dan permasalahan kita atau karena dia cantik atau gagah. Nah suatu saat akan ada saat saat dia jadi gagal, tidak gagah lagi, tidak lucu lagi, jadi emosional, tidak seksi lagi, lalu .... apakah kita akan tetap mencintainya? Teman-teman,jangan sampai fokus kita mencintai seseorang oleh karena kelebihan yang dia miliki, karena itu semua tidak abadi.
I LOVE YOU BECAUSE YOU LOVE ME
Seringkali seseorang mau mencintai seseorang ( atau mungkin berusaha mencintai ) oleh karena orang itu mencintai kita. Dengan harapan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, seiring dengan kebersamaan yang akan mereka lalui kelak. Apakah ini benar? Beberapa terbukti benar, tetapi banyak yang gagal.
I LOVE YOU BECAUSE I LOVE YOU
Love doesn’t need a reason. Cinta yang sejati tidak membutuhkan alasan. Aku mencintaimu karena…. ya karena aku mencintaimu, tidak ada alasan lain. Tidak peduli apakah kamu humoris/ pendiam, rendah hati/ judes, pandai/ biasa saja, dan kaya/ miskin.
Kesimpulan apa yang dapat kita ambil dari kisah singkat ini? Mencintai seseorang begitu saja?
Pertama kali kita mengenal dan mulai mencintai seseorang tentu saja akan adanya ketertarikan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi pada dasarnya oleh karena adanya ketertarikan secara fisik/ penampilan luar. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri. Kemudian saat kita mulai dekat (dalam artian mulai berpacaran) kita mulai saling introspeksi diri, mulai saling mengenal kelebihan dan kekurangan kita masing masing. Pada saat ini, banyak orang mulai terikat dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kita, seperti yang sudah disebutkan di atas. Sementara yang lain jadi saling menjauh, ketika mengetahui banyak sekali keburukan dari pasangan kita.
Apakah hal ini salah? Tidak sepenuhnya juga, siapa pula yang mau berpacaran dengan pemalas yang tidak mau bekerja keras, atau mungkin dengan seorang yang pemarah?
Tapi ingat.... tidak ada yang abadi. Mungkin saja seorang yang pemarah dalam hati kecilnya adalah seorang yang baik hati, hanya saja dia kurang bisa mengatur emosinya. Nah, dengan pendekatan yang baik dan telaten, suatu saat pasti akan ada perubahan. Bisa jadi pula seseorang yang kelihatan pemalas, sebenarnya hanya kurang mampu mengatur waktunya dengan baik. Terus, siapa yang bersedia dan menemaninya untuk melakukan pendekatan dan menikmati perubahannya ? Jawabannya adalahorang yang bersedia untuk mencintainya oleh karena dia mencintainya, bukan oleh karena alasan lainnya.
Oleh sebab itu, janganlah kita mencintai seseorang akan segala kebaikan yang dia miliki.Cintailah seseorang karena kau mencintainya....
Tuesday, September 8, 2015
Anak Kita Bukan Diri Kita
Dalam persepsi kita sebagai orangtua, anak-anak akan tetap menjadi anak-anak. Mereka makhluk kecil yang wajib kita lindungi. Bahkan sering perlindungan kita sebagai orangtua terlalu berlebihan terhadap anak-anak. Kita melindunginya bukan dalam artian mencakup perlindungan terhadap kondisi fisik mereka, tapi melindungi juga dalam hal-hal yang sifatnya internal. Bahkan sering perlindungan yang tidak perlu.
Beberapa dari kita sering mendekap mereka, bahkan menggenggam tangan mereka terlalu erat dan setengah memaksa, meminta mereka mengikuti jalan yang sudah kita tempuh dalam hidup karena terbukti keberhasilannya. Padahal, seperti sebuah ungkapan, dari penyair kenamaan, Kahlil Gibran, yakni bahwaanakmu bukan milikmu. Ungkapan ini bisa kita artikan bahwa anak-anak meski terlahir dari kita, namun sejatinya mereka adalah individu yang berbeda dari kita.
Banyak hal yang kita anggap terbaik untuk mereka—dengan alasan kita sudah melaluinya—tapi ternyata justru itu menjadikan konflik dengan anak-anak. Untuk itu, sebelum terlambat, mari kita ubah persepsi kita sehingga anak-anak bahagia berada di samping kita. Berikut beberapa hal yang bisa kita coba lakukan dan pahami untuk kebaikan anak-anak dan masa depannya sendiri…
1. Tunjuk Bintang dan Biarkan Mereka Meraihnya
Sebagai orangtua, kita tentu lebih menginginkan mereka mengikuti jalan yang sudah kita tempuh. Sebab, kita membuka jalan itu dengan susah payah dari jalan yang penuh onak dan duri hingga menjadi mulus untuk anak-anak kita lewati. Tapi sayangnya, anak-anak kita bukanlah kita. Kita adalah perpaduan orangtua kita. Sedang anak-anak adalah perpaduan antara kita dan pasangan kita, dengan masa lalu yang berbeda. Meski jalan yang kita lewati sama yaitu rumah tangga. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Duduk dekat anak-anak. Lalu jabarkan tentang banyaknya bintang impian di langit yang bisa mereka raih. Kita tunjuk satu bintang yang dulu menjadi impian kita. Lalu bertanya apakah mereka suka dengan bintang itu? Bila mereka tidak suka, beri pemahaman tentang banyak bintang yang lainnya. Biarkan mereka memilih. Dan ketika mereka memilih bintang yang mereka tunjuk dengan banyak harapan di dalamnya, tugas kita adalah menambah wawasan akan bintang itu. Lalu mengarahkan semaksimal mungkin, memfasilitasi, hingga mereka paham bahwa bintang yang mereka pilih tidak salah.
Bila mereka pada suatu kesempatan memilih bintang yang lain lagi, lakukan hal yang sama. Tidak ada yang sia-sia. Meski seribu bintang mereka pilih dan seribu kali kita berusaha, itu bukanlah menjadi sesuatu yang sia-sia tapi justru akan jadi tabungan karakter mereka. Dan kelak, ketika karakter dan keyakinan mereka sudah kuat, mereka akan memilih satu bintang dengan keyakinan penuh dan menjalaninya dengan pasti.
2. Masa Lalu Kita dan Mereka Tidak Sama
Jika masa lalu kita penuh dengan kesulitan dan kita menanggapinya dengan kerja keras, bukan berarti kita harus mengulang-ulangnya dalam sebuah nasihat tidak ada habisnya bagi anak-anak. Anak-anak tetaplah anak-anak dengan pendirian yang masih goyah. Masa lalu mereka baru sedikit, garam kehidupan yang mereka dapatkan juga berasal dari taburan cerita kita.
Masa lalu kita baik untuk dijadikan pelajaran yang bisa kita bagikan pada anak-anak dalam situasi yang nyaman. Tentu saja dengan melihat mereka sebagai individu yang berbeda dengan kita. Dengan situasi nyaman yang terbangun, anak-anak akan menarik benang merah mereka sendiri, lalu menjadikan cerita masa lalu kita pelajaran untuk mereka melangkah ke depan tanpa beban.
3. Karakter Mereka Bukan Karakter Kita
Anak-anak kita tumbuh dari lingkungan yang berbeda dari kita bertumbuh. Mereka memang menyimpan benih gen kita. Tapi potensi gen itu bisa tenggelam karena ada lingkungan lain yang lebih unggul. Sehingga, karakter yang mereka miliki bisa jadi bertolak belakang dengan karakter yang kita miliki. Jika kita menganggap karakter kita yang terbaik, jangan memaksakan. Kondisi anak-anak sekarang di masa tekhnologi berkembang pesat, berbeda dengan kita. Banyak dari mereka yang tidak suka akan paksaan karena alternatif pelarian semakin banyak untuk mereka.
Cara yang paling efektif tentu saja memahami karakter mereka. Bila karakter mereka keras kepala, alihkan keras kepala itu menjadi suatu positif. Misalnya mengajarkan keras kepala itu untuk suatu pendirian yang memang benar. Jangan keras kepala untuk sesuatu yang salah. Dengan begitu, anak-anak dan kita akan belajar menemukan titik temu meskipun karakter kita dan mereka berbeda.
4. Teman Mereka Belum Tentu Teman Kita
Kalau dulu kita memiliki teman yang suka mem-bully kita lalu akhirnya kita menjadi over protective terhadap mereka dan teman-teman yang ada di dekat mereka, tentu itu bukan cara pendidikan yang tepat. Dunia berubah banyak. Selalu ada teman baik dan teman yang buruk. Tugas kita adalah menciptakan akar dan pemahaman yang baik sehingga mereka paham mana teman yang baik dan mana teman yang buruk.
Jangan katakan teman mereka buruk karena kita hanya mendengar dari orang lain tentang perilaku teman mereka. Bila anak suka berteman dengan teman itu, ajak teman itu datang ke rumah. Ketika berinteraksi di rumah, kita akan paham sejauh mana keburukan itu. Jika kita lihat bahwa anak kita berada di bawah kendali teman yang buruk itu, kita bisa menarik anak kita darinya. Tentu saja dengan memberikan banyak pemahaman pada anak sebelumnya sehingga anak menjadi paham kenapa kita melakukan hal itu.
5. Kerikil Mereka Bukan Kerikil Kita
Jelas, jika kita sudah bisa menghalangi setiap kerikil hambatan yang dulu kita jalani bukan berarti setiap kerikil yang ada di hadapan anak-anak langsung kita singkirkan. Bisa jadi kita dulu tertusuk hingga berdarah oleh suatu kerikil, tapi anak-anak kita tidak merasakan hal yang sama. Mereka memiliki kekuatan yang berbeda.
Yang perlu kita ubah adalah adalah pola pikir kita tentang anak-anak. Sering kita menganggap mereka terlalu kecil untuk melewati sebuah hambatan yang kita anggap besar. Padahal itu adalah bagian dari proses kehidupan yang harus mereka lalui. Pengalaman kita menghadapi kerikil hambatan dalam hidup justru bisa kita arahkan untuk membuat anak-anak paham dan pada akhirnya mengubah persepsi mereka sendiri akan makna sebuah hambatan.
6. Jalan Mereka Masih Panjang...
Dalam posisi kita saat ini, dengan banyak pengalaman hidup yang sudah kita jalani, kita sering lupa akan jalan yang sangat panjang yang pernah kita lalui. Dan lupa itu membuat kita jadi merasa bahwa anak-anak kita sedang berusaha menggaris jalannya sendiri dan jalan itu bengkok tidak lurus.
Tugas kita adalah memahami jalan yang sedang mereka lalui, sedang mereka garis dengan cara mereka, perlahan tapi pasti. Pahami dan pandang jalan itu seperti ketika kecil dulu kita memandangnya. Masih panjang yang harus anak-anak lalui agar tercipta jalan yang lurus dan menakjubkan untuk mereka. Rangkul mereka dan jadilah orangtua yang membuat mereka nyaman. Sehingga ketika mereka merasa jalan mereka bengkok, mereka akan datang pada kita untuk membantu meluruskannya. Bukan pada orang lain
Thursday, August 27, 2015
Belajar lagi!
Adi, siswa kelas 4 SD, mendapat penghargaan sebagai “murid dengan kemampuan membaca terbaik di kelas”. Dalam sebuah acara yang dihadiri guru, siswa, dan orangtua murid, Adi dan teman-teman lain yang berprestasi, menerima piagam penghargaan di atas panggung, diiringi tepuk tangan meriah oleh semua orang yang hadir di situ. Betapa bahagia dan bangganya Adi! Inilah piagam pertama yang diterimanya.
Begitu tiba di rumah, Adi langsung ke belakang; menemui dan menyombongkan diri di hadapan pembantu rumahnya. Sambil menyodorkan piagam yang terbingkai indah, ia berkata lantang, "Mbaaak, coba lihat! Kalau mau, mbak juga bisa membaca sebaik aku lho!"
Si mbak terdiam sambil memandang pigura di tangannya agak lama dengan tatapan kagum dan berucap riang, "Wah hebat, Mas Adi. Mbak orang kampung, nggak sekolah. Makanya nggak bisa membaca dan menulis seperti Mas Adi. Selamat ya, Mas.."
Mendengar kalimat itu, Adi langsung berlari ke ruangan keluarga dan berkata dengan bangga kepada ayahnya. "Ayah, kasihan si mbak ya. Mbak nggak pernah sekolah dan nggak bisa membaca. Padahal Adi baru berumur 9 tahun, tapi Adi bukan hanya pandai membaca, bahkan mendapat penghargaan pula. Duuuh, aku jadi ingin tahu, bagaimana ya perasaan mbak dan orang-orang yang buta huruf lainnya kalau membuka buku tetapi tidak bisa membacanya sama sekali?"
Tanpa menjawab sepatah kata pun, sang ayah menuju rak buku dan mengambil sebuah buku, lalu membuka sembarang halaman dan memberikannya kepada Adi.
"Adi, coba lihat buku ini. “
Adi terdiam memandangi buku yang diberikan ayahnya, dan saat itu juga kesombongannya pun langsung menguap.
“Adi tidak bisa membaca satu huruf pun, Yah…”
Sang ayah melanjutkan berkata, "Buku ini ditulis dalam aksara Mandarin. Nah, sekarang Adi sudah bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh Mbak dan orang-orang yang buta huruf lainnya kan? Adi, sekolah memang tempat untuk belajar tetapi tidak perlu disombongkan. Kamu masih muda. Masih banyak sekali hal-hal baru yang harus kita pelajari di luar sekolah. Setiap orang, jika mampu dan mau belajar dengan giat, pasti bisa berprestasi. Tetapi akan lebih baik lagi kalau mampu berprestasi tanpa menyombongkan diri dan tidak perlu menghina orang lain yang tidak mampu. Adi mengerti?"
Seumur hidupnya, Adi tidak pernah melupakan pelajaran dari sang ayah. Jika perasaan sombong datang, dia dengan tenang akan mengingatkan dirinya, "Ingat, Adi, masih banyak aksara di luar sana yang tidak bisa kamu baca.”
Setiap manusia dikarunia bakat yang berbeda-beda. Kita semua mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, saat kita memunyai kelebihan, pengalaman, atau skill tertentu bukan berarti kita lebih segalanya dari orang lain. Apalagi kita merasa sombong dan melihat orang lain lebih rendah.
Begitu sebaliknya pada saat orang lain memiliki kelebihan, kekuatan, dan keterampilan tertentu bukan berarti kita kalah segalannya dari mereka, kita harus tetap sadar dan percaya bahwa ada kelebihan yang kita miliki.
Maka kita perlu selalu mengingatkan pada diri sendiri, saat kita punya kelebihan tidak perlu tinggi hati. Saat kita punya kelemahan tidak harus rendah diri, selalu siap belajar dan belajar lagi. Sehingga kita akan selalu mampu mengaktualisasikan diri dengan semaksimalnya dan meraih sukses yang luar biasa!
Wednesday, August 26, 2015
Tempayan Retak
seorang pemuda memiliki 2 buah tempayan untuk mencari air. Kedua tempayan itu dipikul di pundak dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela. Setibanya di rumah, setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal setengah.
Hal tersebut berlangsung setiap hari. Tentunya tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak, merasa malu akan kekurangannya. Ia juga bersedih, sebab hanya bisa memenuhi separuh dari kewajibannya.
Setelah beberapa lama, akhirnya tempayan retak berkata kepada si pemuda, "Aku malu, sebab airku selalu bocor melalui bagian tubuhku yang retak."
Pemuda itu tersenyum, "Tidakkah kau lihat, bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu, dan setiap hari dalam perjalanan pulang, kau menyirami benih-benih itu.. Selama setahun terakhir ini, aku bisa memetik bunga-bunga cantik, uuntuk menghias meja. Dan aku jual sebagai tambahan penghasilanku. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumahku tidak akan menjadi seindah sekarang."
semua mempunyai kekurangan masing-masing seperti si tempayan retak, namun "keretakan" & "kekurangan" itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan serta memuaskan.
TERIMA KASIH ATAS WAKTU MU
Putera yang telah yatim sedari kecil, tinggal bersama sang bunda di sebuah rumah yang sederhana. Mereka bertetangga akrab dengan Pak Mansur yang tinggal sendiri di rumahnya yang luas. Dalam segala hal, masalah apa pun, Pak Mansur adalah konsultan terbaik bagi Putera.
Setelah lulus sekolah dan menikah, Putera dan keluarga kecilnya pindah ke kota. Dia begitu sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk menemani istri dan anaknya, apalagi pulang kampung untuk bertandang ke tetangganya dulu.
Suatu hari, bunda mengabarkan berita duka bahwa Pak Mansur meninggal dunia dan akan dimakamkan 3 hari mendatang. Meski pekerjaan menumpuk, Putera memutuskan untuk pulang. Upacara pemakaman berlangsung sederhana dan sepi karena Pak Mansur tidak memiliki banyak kerabat.
Malam sebelum kembali ke kota, Putera bersama sang bunda berkunjung ke rumah tetangga lama. Pusaran waktu seakan membawanya ke masa lalu saat bersama penghuni rumah itu. Di sini, setiap lukisan, setiap sudut, dia hafal dan paling tahu...Tiba-tiba, Putera menghentikan langkahnya dan menatap meja di depannya.
"Ada apa?" tanya bunda.
"Kotak kecil itu hilang," jawab Putera.
"Kotak kecil apa?" tanya bundanya lagi.
"Pak Mansur punya sebuah kotak kecil berwarna emas dan terkunci. Di meja ini. Sering saya tanya, ‘Apa isi kotak kecil itu?' dan dia selalu menjawab, ‘Di dalam sini, tersimpan barang yang paling berharga'," jelas Putera sambil menirukan suara Pak Mansur. "Dan saya bahkan tidak pernah tahu barang apa yang paling berharga itu," lanjut Putera, merasa bersalah.
Dua minggu berlalu, Putera mendapat kiriman sebuah paket. Tertulis nama pengirim: "Bapak Mansur". Dengan penasaran, buru-buru dibukanya kiriman itu. Putera terpana saat menemukan kotak kecil berwarna emas dan sebuah kunci, serta secarik kertas. Dengan tangan gemetar, Putera membaca surat itu: "Setelah saya meninggal, kotak ini tolong diberikan kepada Putera. Ini adalah barang yang paling berharga selama kehidupanku." Dengan debar jantung yang kuat, Putera menemukan sebuah jam saku yang sangat indah. Dengan rasa sayang, Putera menyentuh permukaan jam saku dan membuka penutupnya. Di dalamnya terukir kata-kata: "Putera, terima kasih atas waktumu-Mansur."
"Ya Tuhan, ternyata barang paling berharga bagi Pak Mansur adalah waktuku. Saat bersama dengannya!"
Putera terpaku sejenak dan seakan ‘tertampar' kesadarannya. Ia segera berpesan kepada asistennya untuk mengosongkan jadwal selama 3 hari. "Mengapa, Pak?" tanya asistennya kebingungan.
"Penting dan mendesak! Saya harus menemani keluarga saya," jawabnya.
Sahabat yang luar biasa,
Setiap saat kita sibuk bekerja keras dengan alasan ingin sukses dan kaya raya demi membahagiakan keluarga kita. Tetapi, pada akhirnya, justru waktu bersama keluargalah yang selalu dikorbankan untuk itu, sehingga banyaknya uang tidak berujung membahagiakan.
Mari ingatkan pada diri sendiri, untuk bijak membagi waktu agar kehidupan berjalan dengan seimbang dan bahagia menjadi milik bersama.
Sunday, August 23, 2015
Semua Orang adalah Penting
Suatu ketika, di sebuah kelas, ada pelajaran dari seorang mahaguru. Ia adalah seorang bijak yang dikenal dengan berbagai kepandaian dan kepiawaiannya menyelesaikan semua masalah. Karena itu, murid-murid dalam kelas tersebut sangat antusias mendapatkan ilmu dari sang guru.
“Saya akan mengajarkan apa yang penting untuk kehidupan kalian. Namun, sebelumnya, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar yang harus kalian jawab dalam kertas yang sudah dibagikan. Mohon jawab dengan sebaik mungkin dan harap dijawab semua pertanyaan yang ada,” seru sang mahaguru kepada semua siswa.
Tampak kemudian, para siswa sibuk dengan kertas dan pulpen di tangan masing-masing. Mereka sangat antusias berusaha menjawab satu demi satu pertanyaan dalam kertas yang sudah dibagikan.
Beberapa waktu kemudian…
“Baik, waktu sudah habis. Silakan kumpulkan semua jawaban,” seru beliau.
Segera, murid-murid pun mengumpulkan jawaban. Namun, sepertinya, ada wajah kurang puas di antara murid-murid. Mereka tampak saling bertanya-tanya satu sama lain, berusaha membandingkan jawaban masing-masing.
Melihat hal tersebut, guru lantas bertanya, “Mengapa ribut? Ada yang sulit dari pertanyaan tadi?”
Tampak, seorang murid mengacungkan jarinya. “Sebenarnya pertanyaan yang Guru ajukan bisa kami jawab. Guru bertanya tentang arti sukses, gagal, tentang mimpi-mimpi kami dan berbagai hal yang akan kami lakukan dalam hidup ini. Tapi, ada satu pertanyaan yang menurut kami di luar itu semua. Pada pertanyaan terakhir, Guru bertanya, siapa nama tukang bersih-bersih yang membersihkan sekolah kami tadi pagi? Apa maksud Guru bertanya demikian?”
Sang guru tampak tersenyum. “Baiklah. Akan aku jawab rasa penasaran kalian. Namun sebelumnya, siapakah di antara kalian yang sudah menjawab pertanyaan tersebut?”
Murid-murid kembali saling berpandangan. Rupanya, tak ada satu pun yang mampu menjawab dengan benar. Mereka hanya menyebut Pak Tukang Bersih-Bersih, Pak Murah Senyum, dan aneka sebutan yang mencirikan fisik atau kebiasaan dari tukang bersih-bersih di sekolah mereka. Tapi, tak ada satu pun yang menyadari siapa nama asli dari tukang bersih-bersih yang merapikan sekolah mereka setiap hari.
Mahaguru itu pun mengangguk-angguk dan tersenyum simpul melihat murid-murid baru menyadari jika mereka tak ada satu pun yang tahu nama tukang bersih-bersih di sekolah mereka. “Benar... tak ada satu pun yang tahu? Baiklah. Namanya Pak Ali. Dia adalah perantauan dari luar pulau dan sudah bekerja di sini 20 tahun lebih,” terang sang mahaguru.
Mengetahui informasi yang baru diketahui itu, seorang murid lantas bertanya. “Guru, terima kasih telah mengingatkan kami pada sosok tukang bersih-bersih di sekolah ini. Tapi, lantas apa hubungannya dengan pelajaran yang akan Guru berikan?” tanya si murid.
“Bagus sekali pertanyaanmu. Yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya sederhana, namun sangat penting. Yakni, jangan pernah meremehkan siapa pun orang di sekelilingmu. Pembantumu, gurumu, orangtuamu, tukang antarmu, dan siapa pun di sekelilingmu. Sebab, mereka adalah orang-orang penting, entah apa pun peran mereka, yang akan membantumu meraih sukses di berbagai bidang. Karena itu, hargailah mereka. Hormatilah siapa pun orang di sekelilingmu. Maka, kamu pun akan menjadi manusia berharga dan terhormat, serta mampu jadi manusia seutuhnya,” ucap sang guru bijak.
Tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu memperoleh kesuksesan tanpa keterlibatan orang lain. Baik yang sekadar membantu doa, mendukung sarana dan prasarana, hingga sekadar memberi peran kecil dalam hidup kita. Namun, tanpa disadari, mereka semua adalah orang-orang penting yang telah mendukung untuk mencapai apa pun yang kita inginkan.
Seorang tukang bersih-bersih yang membuat ruang belajar nyaman, tukang antar yang mengantarkan untuk pergi ke tujuan dengan selamat, tukang cuci baju yang membuat pakaian wangi sehingga enak dikenakan, semua itu adalah orang-orang penting—yang langsung maupun tidak langsung—membantu kita meraih sukses.
Untuk itu, mari kita menjaga hubungan baik dengan menghargai sekecil apa pun peran orang yang membantu, serta menghormati orang-orang yang telah berperan dalam kehidupan kita.
Semua orang adalah penting! Sukses sejati adalah sukses yang juga mampu dibagi dan dirasakan bagi orang-orang di sekeliling kita.
Ingat peran orang-orang di sekeliling dan teruslah berbagi kebahagiaan dengan mereka. Niscaya, maka kehidupan kita akan jauh lebih bernilai.
Saturday, August 22, 2015
Harimau dan Hutan
Sudah sekian lama, harimau dan hutan bersahabat. Mereka saling tolong-menolong satu sama lain. Harimau menjaga hutan. Demikian juga hutan menyediakan hampir semua kebutuhan harimau. Dengan adanya harimau, hutan bebas dari jarahan manusia. Kayu-kayu dari pepohonannya terlindungi oleh harimau yang setiap hari berjaga keliling hutan. Begitu pula hutan, menyediakan makanan yang dibutuhkan oleh harimau sehari-hari. Kehidupan harimau dan hutan berjalan sangat harmonis.
Namun, keharmonisan itu rupanya membuat kijang iri. Sebab, kijang sering kali menjadi hewan yang paling banyak jadi korban karena bangsanya menjadi makanan empuk harimau yang lapar. Karena itu, kijang pun menyusun strategi agar keharmonisan harimau dan hutan jadi terpecah belah.
Maka, suatu kali, kijang pun berbisik pada pohon terbesar yang jadi wakil hutan. Kijang berkata, bahwa harimau sebenarnya adalah hewan yang mau untungnya sendiri. Hutan hanya diperdaya harimau. Sebab, tanpa harimau pun, sebenarnya hutan baik-baik saja.
Kijang juga melakukan hal yang sama pada harimau. Namun, agar tak mencolok, kijang menyuruh monyet untuk membisikkan hasutan pada harimau soal hutan. Maka, monyet pun membisiki harimau, bahwa selama ini harimau hanya dimanfaatkan hutan untuk menjaganya.
Mendengar hasutan itu, harimau dan hutan tiap hari kemudian jadi menjaga jarak satu sama lain. Keakraban yang terjalin harmonis selama ini jadi renggang. Hingga akhirnya, suatu hari harimau dan hutan bertengkar. Pohon pemimpin hutan merasa harimau hanya mau untungnya saja tinggal di hutan tanpa mau membantunya. Sebaliknya, harimau juga merasa, hutan hanya mengambil jasanya menjaga hutan tanpa mau memberikan hasil yang lebih padanya.
Pertengkaran keduanya pun menghebat. Maka, akhirnya harimau berjanji, ia akan keluar dari hutan untuk mencari hutan lain yang mau menampungnya. “Baik, aku akan pergi! Jangan pernah minta bantuanku lagi, hutan yang sombong!”
“Kamu yang sombong, mentang-mentang kuat dan ganas, jadi sok jagoan! Pergi sana, aku tak butuh kamu lagi!” sahut hutan.
Mendengar itu, kijang dan monyet diam-diam bersorak. Mereka sudah pasti akan segera terbebas dari ancaman harimau. Namun rupanya, itu tak berlangsung lama. Selama ini, manusia jarang masuk ke hutan itu karena takut ancaman harimau yang buas. Tetapi, karena harimau pergi dari hutan, manusia pun bebas menjebak harimau hingga berhasil ditangkap. Manusia pun tak takut lagi dengan harimau yang berhasil dikurung. Sejak saat itu pula, manusia mulai menjarah hutan. Kayu ditebangi. Pohon digunduli. Hewan-hewan liar—termasuk kijang dan monyet—ditangkap, ada yang dijual, ada yang dijadikan makanan. Akibat kejadian itu, hutan pun jadi berubah total. Tak ada lagi kicau burung indah, tak ada lagi hewan yang berkeliaran bebas, pohon pun banyak yang tumbang diambili kayunya. Semua menyesal. Akibat sebuah hasutan, hutan, harimau, dan semua isi hutan jadi mendapat imbas yang tak diinginkan
Kadang kala kita lupa, pada orang-orang yang langsung dan tidak langsung berjasa pada kita. Padahal sebagai makhluk sosial, kita sejatinya bergantung satu sama lain. Memang, secara kedudukan, ada yang mengatur, ada yang memimpin, ada yang jadi bawahan. Tapi, semua punya peranan masing-masing. Dan, jangan lupa, semua ibarat puzzle, harus saling melengkapi. Tanpa ada satu komponen, kadang kita akan jadi kerepotan untuk meraih harmonisasi hidup.
Karena itu, jangan pernah iri dengan kedudukan orang lain yang lebih tinggi. Jangan pula memandang kedudukan rendah mereka yang ada di bawah. Sebab, harmonisasi antar-semua tersebut saling melengkapi. Ibarat hutan dan harimau, satu sama lain sebenarnya saling melindungi. Pun demikian kijang dan monyet, serta makhluk hidup lain di dalam hutan. Begitu salah satu komponen hilang, begitu mudahnya gangguan dari luar datang.
Inilah yang perlu kita terus ingat dalam setiap peran yang kita jalani di kehidupan. Apa pun peran yang kita miliki saat ini, jangan pernah posisikan diri sebagai “korban”. Tapi, jadikan diri sebagai salah satu komponen penyeimbang. Dengan begitu, kita bisa selalu bijak dalam menentukan pilihan. Dan, jangan lupakan pula soal kepedulian. Saat satu hal yang menjaga harmonisasi menghilang, bisa jadi suatu saat dampaknya akan segera sampai pada kita juga.
Mari, buka mata dan hati. Selalu jaga harmonisasi kehidupan. Apa pun peran yang kita lakoni saat ini, jalani dengan sepenuh hati. Bebaskan diri dari rasa iri dengki. Dengan begitu, kita akan jadi insan penuh arti yang bisa mengisi setiap keping harmonisasi hidup yang berkelimpahan. Sehingga, kebahagiaan sejati pun akan kita dapatkan.
Wednesday, August 19, 2015
Menjadi Pengikut
Hidup selalu berada dalam keseimbangan, ada yang gagal, ada yang suskes. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Apa pun dan di mana pun peran tersebut, kita bisa menjadi meraih sukses sejati jika saling bersinergi.
Dalam berbagai kisah dan pengertian yang sering kita dengar di masyarakat, ada banyak orang yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Ada yang mendambakan menjadi kaya dan selalu ingin jadi nomor satu. Tentu, itu merupakan sebuah hal dan tujuan besar yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Dan, jika ditanya, hampir semua orang pasti menginginkannya.
Tapi, apakah semua orang mendapatkannya? Ini yang perlu kita kaji dan mengerti lebih mendalam. Sebab, tak selamanya kita akan duduk di puncak. Dan sebagaimana nomor, angka satu ya hanya satu saja, tak pernah dua atau tiga. Artinya, selalu akan lebih banyak orang berada di tataran "pengikut".
Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menjadi pengikut, seseorang menjadi kalah, berada di bawah, dan selalu dalam posisi mengalah? Dalam sudut pandang harfiah bisa jadi yang di bawah memang selalu akan berada dalam posisi yang berat. Sebab, ia sedang menjadi bagian yang menopang yang di atas. Tapi, kalau dipikirkan lebih mendalam, bukankah tiang yang kokoh dari bangunan menjulang tinggi angkasa harus ditopang oleh fondasi yang kuat? Dan, bukankah sebuah perusahaan akan jadi hebat kalau pemimpinnya didukung oleh semua komponen—pengikut—yang mendukungnya?
Dalam pengertian ini, saya ingin menekankan bahwa sebenarnya, dalam posisi sebagai pengikut pun, kita seharusnya selalu memiliki jiwa seorang pemenang. Dalam kondisi berada di bawah, orang pun sebenarnya bisa memiliki nilai kesuksesannya sendiri. Lebih jauh lagi, untuk sukses, tak semata dilihat dari ukuran kasat mata berupa materi. Namun, kesuksesan akan “bicara” lebih banyak saat kita bisa menjadi manusia seutuhnya, saling menghargai, menjunjung toleransi, hingga saling membahagiakan.
Ada sebuah anekdot yang dulu pernah saya baca. Kalau negara Amerika Serikat menemukan sesuatu, mereka akan segera mengumumkannya. Sementara, kalau Rusia (dulu Uni Soviet), kalau menemukan sesuatu, akan diam-diam, hingga kemudian mengejutkan dunia. Penemuan-penemuan itu, oleh Jepang akan diperhatikan secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan caranya sendiri untuk jadi barang hebat lainnya. Sementara oleh Tiongkok, penemuan itu akan dicontoh, ditiru, kemudian akan dibuat dalam bentuk massal untuk kemudian memetik keuntungan.
Meski sekadar anekdot yang mengundang senyuman, tapi kisah tersebut bagi saya adalah bagian dari pembelajaran. Pertama, memang ada yang “tercipta” sebagai yang pertama. Semua ada porsinya. Kedua, mereka yang kreatif, meski menjadi “pengikut”, bisa jadi malah memetik keuntungan yang paling nyata. Ketiga, dengan cara masing-masing, kita sebenarnya punya potensi di area tersendiri di mana kita memang hebat di dalamnya.
Dengan pengertian tersebut, kita dapat memetik hikmah, bahwa tak salah untuk—“hanya”—menjadi seorang pengikut. Malah, di beberapa kondisi, kita bisa meraih sukses dengan cara kita masing-masing.
Tentu, jangan pula menjadi asal seorang pengikut. Jangan pula sekadar meniru mentah-mentah. Tapi, kita tetap harus menjadi “pengikut” yang punya karakter, kaya mental, hingga punya ciri tersendiri. Artinya, untuk meraih sukses sejati, seorang yang dalam posisi sedang “berperan” sebagai pengikut, tetap harus mampu menunjukkan jati dirinya. Ibarat dalam kejuaraan olahraga balap, meski sedang berada di belakang, kita tetap punya target juara. Maka, ketika akhirnya belum jadi juara pun, kita tetap punya sikap dan mental juara yang akan menjadikan kita meraih sukses sejati. Sehingga, saat berada di bawah, saat belum mencapai impian, saat sedang berjuang merangkak, kita tak pernah putus harapan. Masalah hasil hanyalah “bonus”. Justru, saat berproses itulah, kita sedang disiapkan menjadi insan-insan luar biasa.
Begitu pula ketika sedang berada di atas. Bukan berarti kalau sudah di puncak, tak lantas kita selalu jadi pemimpin. Bahkan sejatinya, pemimpin pun adalah seorang “pengikut”. Presiden misalnya, harus pula memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, orang super miliarder sekelas Bill Gates yang sukses dengan Microsoft-nya pun, kalau tak memikirkan “pengikut”-nya, bisa jadi produknya akan ditinggalkan pengguna.
Di sinilah keseimbangan kehidupan terjadi. Tak ada pemimpin yang abadi, tak ada pula pengikut sejati. Semua saling melengkapi, semua saling bersinergi. Seperti ungkapan yang saya kutip dari Edith Wharton—seorang penulis pemenang penghargaan Pulitzer—di atas. Yakni, untuk menjadi cahaya, kita bisa menjadi dua hal. Lilin yang menyala atau cermin yang memantulkan sinarnya ke mana-mana. Artinya, hendak jadi apa pun, dengan peran apa pun, seharusnya kita sadar dan mengerti, bahwa kita hidup tak sendiri. Kita bisa menjadi “sang sumber” utama kesuksesan, atau menjadi “cermin pemantul” yang akan melipatgandakan sukses itu ke mana-mana. Di mana pun dan apa pun peran tersebut, jika kita jalani dengan ketulusan dan keikhlasan, maka sukses dan bahagia sejati, akan jadi milik kita.
Menapaki Sukses dengan Membuat Perubahan
Kondisi kita saat ini tak bisa diubah tanpa kita sendiri yang mengubahnya. Sadari kekurangan, perbaiki diri, dan maksimalkan potensi! Saat kesempatan datang, manfaatkan, maka semua impian bisa menjadi kenyataan.
Kita tak pernah bisa memilih, bagaimana, di mana, kapan, serta latar belakang seperti apa kita dilahirkan. Ada yang terlahir kaya, miskin, dengan beragam suku bangsa serta agama. Semua itu hanya bisa dan akan berubah sesuai dengan perkembangan dan pengaruh lingkungan sekitar di mana kita lahir dan tumbuh. Karena itu, apa pun latar belakang dan kondisi di mana kita dilahirkan, sudah selayaknya kita harus tetap bersyukur. Sebab, tak ada makhluk yang dicipta tanpa tujuan dan makna dalam hidupnya. Dan, dengan kesadaran yang penuh tentang pengertian bahwa kita pasti tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita seharusnya bisa memaksimalkan daya dan upaya untuk mencapai sukses yang kita damba.
Untuk itu, satu hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah melihat ke dalam diri, apa saja kekurangan yang perlu diperbaiki. Apa saja hal yang harus diperbaiki, dikoreksi, dan bisa dimaksimalkan. Ketahui juga, potensi apa saja yang masih bisa kita tingkatkan. Dengan cara ini, kita akan menemukan fondasi yang kokoh untuk mencari jalan menuju kesuksesan.
Cerita pendek berikut bisa menjadi penggambaran perbedaan orang yang menyadari kekurangan dan mau berubah, dan orang yang memilih untuk berdiam diri saja, menunggu peruntungannya.
Alkisah, ada dua orang pemuda miskin yang bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan yang miskin itulah, mereka sering kali berkhayal, bagaimana rasanya menjadi orang yang kaya dan serba berkecukupan. Saat mereka beranjak dewasa, mereka berkesempatan untuk bekerja pada seorang pedagang besar yang cukup terpandang. Kala itu, mereka menjadi buruh angkut barang di pelabuhan. Mereka pun kembali berkhayal, bagaimana agar bisa memperbaiki nasib, bahkan kalau bisa menjadi seperti sang pedagang besar.
Pemuda pertama memilih untuk melakukan sesuatu. Ia bekerja lebih keras dan lebih cepat. Ia mengatakan pada kawannya, bahwa dengan bekerja keras, kemungkinan besar ia akan mendapatkan upah lebih besar dan kepercayaan dari sang pedagang, sehingga bisa segera naik kelas, paling tidak agar tak lagi menjadi buruh angkut saja. Sedangkan pemuda kedua, merasa ia tak punya modal selain tenaga, memilih untuk melakukan apa adanya, sesuai dengan upah yang dibayarkan saat itu. Meski mereka berdua berkhayal dengan impian yang sama, pemuda pertama bekerja lebih giat dan tekun untuk mewujudkan impian itu. Sementara pemuda kedua hanya menjadikan impian itu sebagai lamunan belaka.
Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari, sang pedagang sering mengawasi pekerjanya. Dan, dia terkesan dengan pekerjaan si pemuda pertama yang terlihat sangat cekatan, melebihi buruh yang lain. Maka, dipanggilnyalah si pemuda pertama. Dan, saat ditanya, mengapa ia bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekannya, ia menjawab, dirinya punya impian untuk mengubah nasib.
Singkat cerita, sang pedagang melihat kesungguhan si pemuda pertama. Maka, ia pun dipercaya menjadi kurir untuk mengantar pesan sang pedagang pada relasi-relasinya. Pekerjaan itu pun dilakukan dengan sangat cekatan dan penuh tanggung jawab. Ia pun selalu bersikap baik dengan semua relasi sang pedagang, sehingga banyak relasi pedagang yang bersimpati padanya. Maka, tak heran jika si pedagang pun mau memberikan kepercayaan lebih besar pada pemuda pertama.
Tahun demi tahun. Si pemuda akhirnya sukses menjadi wakil sang pedagang. Dari sana, kehidupannya pun berubah seperti yang diimpikannya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, si pemuda pertama mampu mewujudkan khayalannya menjadi nyata.
Begitulah, ada banyak orang sukses, yang menapaki jejak kesuksesannya dengan mau berubah. Mereka tak peduli komentar orang lain. Justru, dengan kritikan dan bahkan cemoohan, mereka terpacu untuk membuktikan bahwa impiannya bukan sekadar bualan. Mereka inilah sang pemenang sejati kehidupan.
Berkaca dari kisah tersebut, mari kita sadari posisi kita saat ini. Dan, mulai berubah dengan mengerahkan kekuatan yang kita miliki untuk memperbaiki diri. Landasi semua impian dengan tindakan nyata, niscaya pintu kesuksesan akan selalu terbuka
Tuesday, August 18, 2015
Mengalah Bukan Berarti Kalah
Mengalah tak berarti kalah. Mundur bukan berarti tak berani bertempur. Ungkapan tersebut barangkali sering membuat kita bimbang. Sebab, kadang ungkapan “pengecut” segera muncul akibat kita memutuskan mundur sejenak. Padahal, ada kalanya, mundur sebenarnya sedang mempersiapkan langkah terbaik untuk maju ke depan. Layaknya anak panah yang ditarik ke belakang, justru siap meluncur dengan cepat menuju sasaran.
Untuk itu, jika menghadapi kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan—apakah akan mundur atau mengalah—mungkin tulisan serta cerita berikut bisa kita jadikan pembelajaran bersama.
Dikisahkan, ada seorang bernama Zhang yang mempunyai dua orang putra yang punya watak berlawanan. Yang pertama adalah Zhang Da yang cenderung tamak, dan Zhang Er yang punya sikap suka mengalah. Zhang Er punya prinsip, yang penting bahagia dan hidup harus mengutamakan perdamaian. Karena itu, ketika orangtuanya Zhang meninggal dunia dan harta warisan sang ayah lebih banyak didominasi oleh kakaknya, Zhang Da, ia mengalah. Ia hanya berkata, “Jangan sampai karena masalah harta warisan yang sepele, merusak hubungan persaudaraan.”
Dengan kondisi tersebut, Zhang Da berkembang jadi saudagar kaya. Banyak penduduk desa yang bekerja padanya, meski sebenarnya kurang suka dengan sikapnya. Sedangkan adiknya hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Namun, karena perangainya yang baik, sang adik disukai oleh banyak orang.
Suatu kali, penduduk desa ingin membangun jalan raya yang menghubungkan desa mereka dengan kota untuk mempermudah penjualan barang-barang hasil desa. Namun, agar jalannya tak berkelok, jalan tersebut harus melalui ladang milik Zhang Da. Karena tamak, ia mau memberikan tanah dengan syarat siapa pun yang lewat harus memberikan sebagian besar pendapatannya pada Zhang Da karena dianggap sudah mengurangi hasil ladangnya yang akan diubah jadi jalan.
Penduduk desa tak mau mengikuti syarat tersebut. Beruntung, Zhang Er yang baik hati mau memberikan tanahnya untuk dipakai. Warisannya yang tak seberapa, diberikan kepada penduduk desa dengan cuma-cuma. Dan, meski agak sedikit berbelok, hal itu tetap sangat membantu penduduk desa sehingga mereka lebih mudah menjual dagangannya. Jalan itu pun makin ramai. Dan, karena tanah itu milik Zhang Er, ia pun mendirikan sebuah kedai teh di sana. Lama-lama, saking ramainya jalan, kedai teh Zhang Er pun makin ramai hingga kedainya berkembang dan ia pun akhirnya jadi saudagar kaya. Sebaliknya, sang kakak, Zhang Da, tak ada lagi penduduk yang mau bekerja dengannya. Akibatnya, ladangnya pun berakhir terlantar sehingga makin lama ia menjadi miskin.
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali hal, yang secara sepintas terlihat merugikan, tetapi sebenarnya akan ada hasil yang baik di belakangnya. Memang, acap kali kita harus berkorban. Tak jarang kita harus mengalami banyak kegagalan. Namun jika kita mampu bersabar, layaknya Zhang Er, apa yang kita “investasikan”—meski terkesan merugi pada awalnya—bisa menjadi “tumbuhan dengan buah lebat” yang bisa kita petik setiap hari.
Mari, hidup dengan bersahaja. Jangan sampai kita mencontoh Zhang Da yang tamak. Meski tampak menguntungkan, jika dilakukan dengan cara-cara yang negatif, suatu kali pasti akan datang “balasan”. Sebaliknya, mari teladani sikap Zhang Er, yang mengalah, namun ujungnya banyak mendatangkan berkah.
Monday, August 17, 2015
MERANTAU !
Jauh-jauh hari Imam Syafii telah berseru untuk hijrah, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.” Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.
Menyikapi hijrah dan menjelajah, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Lagi pula, hijrah dan menjelajah telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu. Boleh dibilang, hampir semua nabi, temasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Yakub, dan Musa. Nabi Muhammad sendiri, sebelum hijrah ke Madinah, pernah hijrah ke Taif namun tertolak oleh penduduk Taif. Abdurrahman bin Auf pernah hijrah ke Afrika dan Taif. Saad bin Abi Waqqash kemudian hijrah ke China. Adapun Isa lahir di Bethlehem,Palestina. Ketika kecil, Isa bersama ibunya pernah hijrah ke Mesir.
Sedemikian pentingnya hijrah, sampai-sampai para sahabat menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender, bukan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Nuzul Al-Qur’an, atau peristiwa bersejarah lainnya.
Ayo hijrah!
Ayo merantau!
Tuesday, August 11, 2015
Rezeki Yang Berlimpah-Limpah
Anak itu rezeki. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya berlimpah-limpah, tumpah-ruah, tercurah laksana air bah! Percayalah, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Yah, mengayakan. Kalau punya anak? Makin mengayakan !!!
Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya. (Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah?) Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, masih setengah enaknya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam. Aneh kan? Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum menikah, mari didoakan ya. Semoga segera. Aamiin.
WINNER !!!
Dalam keseharian, mereka yang bermental pemenang kadang bersikap terbalik. Dan rupa-rupanya ini malah menjadi motivasi sukses bagi mereka.
Misalnya saja:
- - Sakit, tapi masih bisa tersenyum.
- - Gagal, tapi masih bisa bahagia.
- - Bangkrut, tapi masih bisa bersyukur.
- - Miskin, tapi masih mau bersedekah.
Tidak percaya? Dengarkan saja percakapan ini:
“Bisnisnya rugi ya, Pak?”
“Bukan rugi, Mas. Tapi belum untung.”
“Lha, itu tokonya sampai tutup!”
“Bukan tutup, Mas. Tapi relokasi.”
“Relokasi? Memangnya pindah ke mana, Pak?”
“Nah, itu yang belum tahu, Mas. Hehehe!”
Atau dengarkan percakapan ini:
“Kariernya mentok ya, Pak?”
“Bukan mentok, Mas. Saya diberi kesempatan untuk mendalami bidang ini.”
“Tapi perasaan, kok lama banget?”
“Kalau mau ahli, yah mesti lama, Mas.”
“Terus, kapan naiknya?”
“Sabar, Mas. Wong saya yang menjalani saja sabar kok. Hehehe!”
Sekilas, mereka tidak rasional. Tidak masuk akal. Bahkan disebut-sebut ‘gila’ atau ‘nggak punya otak’ (Padahal antara gila dan jenius itu bedanya tipis. Kalau Anda belum berhasil, Anda akan dicap gila. Nah, begitu Anda sudah berhasil, maka Anda akan dicap jenius).Namun ternyata inilah cara yang benar, yang membuat mereka lekas terbebas dari sakit, kegagalan, kebangkrutan, dan kemiskinan. Di sini mereka tidak perlu menyimak motivator atau trainer. Tidak perlu mengikuti in house seminar atau in house training. Karena mereka berhasil melakukan self-motivating.
Ketika hati telah diliputi cinta, maka senyum, syukur, dan sedekah adalah perkara yang mudah. Iya, mudah. Apapun kondisinya. Dan disadari atau tidak, orang rata-rata hanya bisa tersenyum ketika ia sudah sembuh. Orang rata-rata hanya bisa bersyukur dan bersedekah ketika ia sudah berhasil. Ini kurang bijak, menurut saya. Alih-alih begitu, #SangPemenang
malah bersikap terbalik.